
Seperti hari-hari biasa Arbian sudah berada di perusahaan dari pagi, ia mengecek semua dokumen penting bersama Randi karena sebentar lagi akan ada rapat dengan pemegang saham lain.
Sebenarnya semenjak Arbian menjabat menjadi CEO di perusahaan ini awalnya banyak yang keberatan dan ingin memundurkan jabatannya, namun karena kerja keras Arbian dan juga dengan kerja otaknya membuat perusahaan Maherra naik pesat dan kini masuk ke sepuluh perusahaan besar di negara ini.
Itu lah yang membuat Arbian begitu gila kerja dan tidak memberikan tubuhnya istirahat dari pekerjaan.
"Yan, kapan kita terlepas dari pekerjaan ini?" Keluh Randi tidak sanggup.
Arbian tidak menjawab ataupun menoleh, ini adalah permintaan mamahnya untuk melanjutkan bisnis sang papah yang sekarang tidak bisa lagi berdiri tegap dengan gagah dan harus mengandalkan kursi roda.
"Gue yakin kalau aja om Julian bukan anak tunggal, pasti ada drama di mana banyak yang ngincar posisi lo,"
Arbian menghela nafas dan melirik tajam Randi yang mulai banyak omong.
Setelah beberapa saat keduanya keluar dan menuju ruang rapat, Randi di sepanjang jalan merasakan keringat dingin.
Rapat dengan para petinggi tidak sering mereka lakukan, hanya beberapa bulan sekali atau bahkan dalam setahun hanya dua kali namun suasananya berbeda dengan rapat biasa.
Randi memuka pintu ruang rapat dan melihat banyak mata dingin memandang ke arah mereka.
Arbian tampak santai dan duduk di kursinya, matanya menatap tanpa ekspresi semua orang yang berada di ruangan itu.
*
Fietta keluar dari ruangan dosen pembimbing dan berjalan menuju perpustakaan kampus.
Sebelum sampai Fietta berpapasan dengan Carla yang berjalan dengan lesu.
"Car," Panggil Fietta saat Carla hanya meliwatinya saja seakan tidak melihat.
Carla membalikkan badan dan terkejut melihat Fietta di depannya.
"Eh, sorry ta, gue gak fokus," Ucap Carla menggaruk tengkuknya.
Fietta mendekati Carla dan memperhatikan mata panda gadis itu yang sepertinya banyak pikiran.
"Lo baik-baik aja?" Tanya Fietta, sebenarnya Fietta beberapa hari ini tidak bertemu Carla karena sibuk dengan tugas.
"Hm, cuma pusing sama skripsi aja," Jawab Carla memaksakan senyum.
"Ayok, kita minum kopi," Ajak Fietta dan menarik tangan Carla menuju kafe dekat kampus.
Sampai di sana Fietta menyuruh Carla duduk kemudian ia memesan minuman dan membawanya ke Carla.
"Thanks," Ucap Carla pelan.
Fietta tersenyum kemudian duduk di hadapan Carla.
"Hero ngajak ketemu,"
Ucapan tiba-tiba Carla membuat Fietta yang tadi menunduk kini mendongak.
__ADS_1
"Tapi gue gak mau, gue udah nyoba lupain dia," Tambahnya lagi.
Fietta diam saja tidak merespon, ini masalah mereka dan Fietta merasa tidak pantas memberi saran.
Lama mereka di sana akhirnya Carla pamit karena ia ingin menemui dosen pembimbingnya.
Fietta kini duduk sendiri dan memperhatikan sekitar yang tidak terlalu ramai.
"Permisi, boleh numpang duduk di sini?"
Suara seseorang membuat Fietta menoleh dan mendapati wanita yang mungkin seusia tante Lea tersenyum ramah ke arahnya.
"Ah ya, silahkan," Ucap Fietta bersikap sopan seadanya.
Wanita itu mengucapkan terima kasih kemudian duduk di tempat Carla duduk tadi.
"Kamu kuliah dekat sini?" Tanya wanita itu dan Fietta hanya mengangguk.
"Suami saya dosen dan saya nunggu dia di sini," Ucap wanita itu lagi dengan senyum yang tidak pudar.
*
Arbian memijat keningnya merasakan denyutan di kepala, beberapa menit yang lalu rapat selesai dan ia kembali lagi ke ruangannya.
drt..drtt....
Suara getaran ponsel di kantung celana membuat Arbian mengambilnya dan melihat nama Dion di layar.
"Cek foto yang gue kirimin," Ucap Dion di seberang sana.
"Oke,"
Setelah mematikan sambungan Arbian membuka pesan dari Dion dan melihat sebuah foto di sana.
Arbian menatapnya lama namun matanya semakin menajam dan terdapat kilatan marah ketika melihat foto itu.
Ia segera mencari kontak seseorang kemudian menghubunginya namun tidak ada jawaban sampai panggilan yang ke tiga kali masih belum ada jawaban.
"****!" Umpatnya menggebrak mejanya dan tangannya mengepal.
*
Fietta masuk ke dalam mobil dan menatap jendela seakan termenung. Sampai di rumah Fietta segera masuk kamar dan masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ia keluar setelah berpakaian lengkap dan mengambil ponsel di dalam tas yang sedari di kafe tidak di nyalakan.
Saat ponsel itu nyala Fietta terkejut saat banyak panggilan tak terjawab dari Arbian.
Karena takut ada hal penting Fietta segera menelpon balik Arbian dan di deringan ketiga pria itu mengangkatnya.
"Di mana kamu?"
__ADS_1
Fietta yang ingin bicara segera menutup mulutnya, suara Arbian berbeda, lebih dingin dari biasanya.
"Maaf bi, aku abis dari kampus," Ucap Fietta mencoba menghilangkan pikiran negatif di kepalanya.
"Kamu ketemu siapa?" Tanya Arbian lagi namun nada suaranya tegas.
"Dosen terus ke kafe bareng Carla," Jawab Fietta mencoba jujur.
"Bohong,"
Fietta mengernyit bingung, ia memang bertemu Carla tadi.
"Kamu bohong Fietta," Ucap Arbian lirih.
Fietta semakin kebingungan mendengar perkataan Arbian.
"Bi, bisa kamu jelasin? aku benar-benar gak ngerti," Ucap Fietta yang merasa jika Arbian hari ini menjadi aneh.
"Aku lihat kamu ketemu wanita dengan baju merah tadi,"
Fietta akhirnya mengerti apa yang di bicarakan Arbian.
"Iya, dia nungguin suaminya bi, katanya suaminya dosen dan kami ngobrol sedikit," Terang Fietta.
"Jauhin wanita itu kalau nanti kamu ketemu dia lagi," Nada suara Arbian semakin tajam seperti menahan amarah.
"Kenapa bi? kamu kenal wanita itu?"
"AKU BILANG JAUHIN!"
Fietta tersentak karena bentakan itu, baru kali ini Fietta mendengar nada bicara Arbian.
"Bi, aku--" Ucapan Fietta terpotong oleh ucapan Arbian.
"Aku sibuk, nanti aku telpon lagi,"
Fietta menatap layar ponselnya karena Arbian langsung memutuskan sambungan. Ia duduk di pinggir kasur dengan linglung dan masih mencerna apa yang terjadi barusan.
Ia bertanya-tanya mengapa sikap Arbian hari ini berubah dan ada apa hubungan antara Arbian dengan wanita tadi sampai Arbian membentaknya.
Kepala Fietta terasa pusing memikirkan itu, ia kemudian merebahkan tubuhnya dan menahan matanya agar air matanya tidak jatuh.
Baru merasakan kebahagiaan tetapi kini Fietta mulai meragukan kehidupannya, apakah ia tidak boleh merasakan kebahagiaan atau rasanya di cintai?
Fietta memejamkan matanya dan tanpa sadar tertidur dengan tangan yang menggenggam erat ponselnya.
Arbian menaruh ponsel di meja dengan kasar kemudian menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi dengan menghela nafas kasar.
Ia mencoba meredakan emosinya yang meningkat karena ulah selingkuhan papahnya yang dulu membuat keluarganya di ambang kehancuran dan membuat sang mamah selalu menangis setiap malam.
Arbian mengepalkan tangan dan menatap kebencian foto keluarga di pinggir mejanya, lebih tepatnya pada sosok pria dewasa di dalam foto itu yang merangkul anak dan juga istrinya.
__ADS_1