World For You

World For You
BAB 24


__ADS_3

Saat mobil sudah terparkir di taman hiburan, Carla menarik Fietta dengan antusias sedangkan Hero dan Arbian tampak santai berjalan di belakang mereka.


"Lo suka sama cewek itu?" Arbian menunjuk Carla dan menoleh pada Hero yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Ya gue suka, apalagi lihat sikap antusias dia seperti sekarang ini,"


Kini dua pria itu memperhatikan dua wanita berbeda karakter itu yang mendekati penjual gulali dan membelinya.


Setelah membayar Carla dan Fietta mendekati dua pria yang entah mengapa terlihat seperti anak kembar karena selain tinggi mereka yang hampir setara, gaya mereka berdiri juga sama dengan menyilangkan tangan di depan dada.


"Kalian ingin main apa?" Tanya Carla sembari memakan gulalinya.


Arbian tidak menjawab karena fokusnya kini pada rambut Fietta yang terkena angin dan pria itu mencoba merapihkan karena Fietta kini sedang asyik memakan gulali.


Carla mendengus melihat pemandangan bucin itu, ia menoleh pada Hero yang menatap sekelilingnya.


"Kamu mau naik apa ro?"


Hero menoleh dan mendapati wajah penuh senyum Carla dan itu mampu membuatnya salah tingkah walau ia bisa menutupinya dengan baik.


Arbian tertawa melihat Hero menahan ekspresinya tetapi kupingnya jelas tidak bisa membohongi.


"Bro, lo kedinginan sampai kupingnya merah?" Tanya Arbian menahan tawa.


Fietta dan Carla kompak menatap kuping Hero yang langsung di tutupi oleh pria itu.


"Dingin? tapi hari ini mataharinya terik kok, gue aja kepanasan," Ucap Carla dan mengibas-ngibas wajahnya karena keringetan.


"Naik bianglala?" Gumam Fietta menatap mainan tinggi itu.


Tiga orang di dekat Fietta menoleh pada Fietta kemudian menatap permainan yang di sebut tadi.


"Oke," Jawab Carla dan menarik tangan Carla dan juga Hero, Fietta terkejut dengan tarikan itu kemudian ikut menarik tangan Arbian, jadi lah mereka saling menarik untuk ke wahana bermain.


Sampai di sana Hero berinisiatif untuk membeli tiket dan setelah mendapatkannya Hero dan Carla naik duluan.


Saat Fietta ingin naik bersama Carla, Arbian menghentikannya.


"Kamu sama aku, baby,"


Ucapan terakhir Arbian membuat Fietta menegang. Fietta menatap wajah Arbian yang kini tersenyum.


Arbian menarik tangan Fietta untuk masuk ke dalam bianglala dan kini mereka duduk berdua dengan saling berhadap-hadapan.


Mereka berdua diam saat permainan itu mulai bergerak, Fietta memandang ke bawah dan sekitarnya, ini merupakan pertama kalinya Fietta menaiki wahana ini jadi ia dengan Antusias melihat sekeliling tanpa sadar Arbian yang kini tersenyum.


Fietta yang menatap sekitar tidak sengaja melihat senyum Arbian dan kembali diam, banyak yang ia pikirkan sedari kemarin tetapi bingung ingin mengatakan.


"Arbian," Lirih Fietta dengan kepala menunduk.


"Yes baby,"


Fietta segera mendongak dan mendapati Arbian yang makin melebarkan senyumnya membuat kadar ketampanannya meningkat. Fietta mencoba untuk tidak gugup.


"Kamu serius dengan ucapan kemarin?" Tanya Fietta dan kini Arbian diam, tidak ada lagi senyum membuat Fietta bertambah gugup, apalagi kini bianglala berada di paling atas membuat tangan Fietta gemetar dan menutup matanya rapat-rapat.

__ADS_1


Dalam sekejap Fietta membuka mata saat merasakan telapak besar menghangatkan genggaman tangannya.


Fietta mendongak dan melihat wajah Arbian yang kini menatap Fietta dengan serius.


"Soal ajakan kemarin? aku serius, kita coba jalani bareng-bareng oke?" Ucap Arbian dengan lembut.


"Ini engga mendadak?" Tanya Fietta karena menurutnya ini terlalu tiba-tiba.


"No, kita bisa saling mencintai perlahan,"


Fietta diam masih menatap mata Arbian mencari kebohongan atau keraguan pria itu sampai akhirnya ia mengangguk dan detik itu juga Arbian membawanya kepelukkannya.


"Thank you sayang,"


Fietta membalas pelukan Arbian, pria yang beberapa hari ini selalu di pikirkan dirinya.


*


Carla dan Hero turun dari bianglala dan berdiri dengan canggung berdua, Carla menghentak-hentak kecil kakinya menunggu Fietta.


Saat Carla melihat Fietta dan Arbian menghampiri mereka dengan bergandengan tangan, ia menjadi ragu untuk mengajak Fietta pergi berdua karena pasti akan lebih canggung lagi jika harus berdua bersama Hero.


Melihat wajah tak enak Carla Fietta melepaskan tangannya dari Arbian kemudian mendekati Carla.


"Car, kamu gak papa?" Tanya Fietta menyentuh pundak Carla.


"Gue gak papa, mungkin agak mual karena naik bianglala," Alibinya.


Arbian melirik Hero yang kini melamun dan kembali menatap Fietta yang membantu Carla untuk duduk.


Saat Hero menjauh Fietta mengusap-usap punggung Carla membuat Carla ingin malah menangis.


"Ta, gue pulang duluan ya," Ucap Carla membuat Fietta keheranan dan mendongak menatap Arbian yang diam saja.


"Oke, tapi tunggu Hero dulu,"


"Gak usah, gue udah mesen ojek," Ucap Carla kemudian berdiri dan membawa tas nya, ia menatap Fietta kemudian Arbian.


"Jaga baik-baik sahabat gue, sampe lecet gue datengin rumah lo,"


"Oke," Jawab Arbian.


Carla melambai pada Fietta dan juga Arbian sampai akhirnya keluar dari tempat itu.


Fietta berbalik dan menatap Arbian karena ingin mengatakan sesuatu tetapi terhenti saat Hero datang membawa 4 botol minum.


Melihat Hero kebingungan karena Carla tidak ada Fietta akhirnya memberitahu bahwa Carla pulang.


"Carla pamit pulang, dia udah pesen ojek online,"


Ucapan Fietta membuat Hero terdiam kemudian memberikan minuman itu kepada Arbian dan langsung lari dari sana.


"Mereka kenapa ya? kamu tahu sesuatu?" Tanya Fietta pada Arbian melihat keanehan Carla dan juga Hero.


"Itu masalah mereka sayang, kita jangan ikut campur," Ucap Arbian dan merengkuh bahu Fietta di sampingnya dan membawanya pergi.

__ADS_1


"Permainan apa lagi yang kamu mau?"


Fietta menatap sekeliling dan melihat rumah hantu, ia menunjuk tempat itu.


"Rumah hantu?" Tanya Arbian dan Fietta mengangguk.


"Oke,"


Arbian menarik tangan Fietta untuk membeli tiket kemudian masuk ke dalam.


Fietta menunjukkan bahwa ia tidak takut dan itu membuat Arbian yang gemas mencubit pipi Fietta membuat wanita itu mengaduh kemudian Fietta membalas dengan memukul lengan Arbian berulang kali membuat pria itu tertawa.


hantu jadi-jadian:Gini amat pekerjaan gue:(


Setelah keluar dari rumah hantu Arbian dan Fietta memutuskan untuk langsung pulang, saat di mobil Arbian melirik Fietta yang tertidur pulas dengan kepala menyender di dekat jendela.


Aebian menghentikan mobilnya di pinggir jalan kemudian membuka hoddienya dan menaruh di samping jendela agar tidak membuat kepala Fietta terkantup jendela.


Setelah merasa posisi Fietta aman barulah Arbian melanjutkan perjalanannya.


Sampai di depan rumah Fietta, wanita itu masih tertidur tanpa ada tanda-tanda bangun.


"Hei, bangun," Ucap Adbian menepuk pelan pipi Fietta membuat Wanita itu menggeliat pelan dan akhirnya membuka mata namun terkejut melihat wajah Arbian yang sangat dekat dengannya sampai akhirnya menampar wajah pria itu.


Plak..


Aebian meringis dan mengusap pipinya membuat Feitta segera menegakkan tubuhnya dan menatap Arbian bingung.


"Kamu tadi ngapain?"


"Aku bangunin kamu malah di tampar,"


Melihat wajah cemberut Arbian entah Fietta harus merasa bersalah atau tertawa.


"Dan sekarang kamu ketawa?" Tuduh Arbian menujuk wajah Fietta yang akhirnya memecahkan tawanya.


"Haha maaf bi, maaf,"


Arbian menghentikan usapan pada pipinya kemudian menatap dalam Fietta.


"Kamu bilang apa tadi?" Tanya Arbian penasaran.


"Maaf?" Ulang Fietta ragu, apakah perkataannya tadi salah?.


"Bukan, yang lain," Kekeh Arbian bahkan kini memajukan wajahnya mendekati Fietta yang makin mundur sampai berdempet dengan pintu mobil.


"Bi?"


Arbian melebarkan matanya dan kemudian mencium bulak balik pipi Fietta karena gemas membuat Fietta kelabakkan.


"Itu nama panggilan kamu buat aku?" Tanya Arbian senang, jika Randi melihat tingkah Arbian sekarang mungkin ia akan kayang sangking terkejutnya dengan fenomena ini di mana seorang Arbian bertingkah manja.


"Bi itu dari kata Bian," Ucap Fietta karena heran dengan Arbian yang tiba-tiba saja menjadi antusias.


"Kalau gitu kamu harus terus panggil aku begitu," Ujar Arbian karena selama ini panggilan keluarga untuknya adalah Ian.

__ADS_1


Fietta hanya mengangguk dan kemudian turun dari mobil, Fietta melambaikan tangan pada Arbian sebelum akhirnya mobil itu pergi dari pandangannya.


__ADS_2