World For You

World For You
BAB 11


__ADS_3

Setelah wajah Arbian menjauh Fietta mundur beberapa langkah. Melihat reaksi Fietta Arbian terkekeh.


"Kamu beli mie banyak begitu gak takut?"


Arbian menoleh memandang Fietta bingung.


"Makan mie itu gak sehat apalagi banyak," jelas Fietta dengan muka serius.


Arbian tertawa kecil dan melirik salah satu keranjang Fietta terdapat bungkusan mie berwarna merah bertulisan bahasa asing.


Melihat arah pandang Arbian buru-buru Fietta menghalangi pandangan Arbian pada keranjang dengan tubuhnya membuat ia berdiri bersebelahan dengan Arbian, bahkan lengan mereka saling menempel.


Selesai membayar dengan total 349 ribu dengan donasi seribu Arbian menenteng tiga kantung plastik besar sedangkan Fietta yang berada di belakangnya membawa dua plastik yang berisikan es krim dan juga mie Arbian.


"Mobil kamu di mana?" Tanya Arbian menghentikan langkah, Fietta mengedarkan pandangan dan menunjuk salah satu mobil yang ada di parkiran, tanpa kata Arbian mendekati mobil itu.


Melihat majikannya berjalan mendekat bersama orang lain yang membawa banyak plastik supir itu buru-buru keluar dan membuka bagasi belakang.


"Terima kasih mas," Ucap sang supir menunduk tak enak, ia berpikir mungkin pria ini menolong nonanya karena belanjaannya banyak.


Arbian tak menanggapi dan membalikkan badan menatap Fietta yang menatap dengan mata polos.


"Gak ada kata yang mau kamu ucapin?"


Fietta ingin menggeleng sebelum akhirnya mengangguk.


"Makasih traktirannya, kapan-kapan kalau mau habisin duit bilang saya ya," ucapnya dengan senyum manis.


Mungkin jika bi Ani atau Tante Lea mendengar ini mereka akan syok berat, Fietta yang biasa diam bahkan tidak banyak mau bisa tidak tahu malu seperti ini.


Supir yang berada di belakang mereka pun terkejut karena ternyata keduanya saling mengenal bahkan pria itu membelanjakan nonanya.


Arbian diam sebelum akhirnya mengeluarkan ponselnya.


"Ini apa maksudnya?" Tanya Fietta bingung begitu di sodorkan ponsel, tetapi tetap mengambil.

__ADS_1


"Nomor kamu, saya tidak bisa menghubungi kamu saat saya ingin menghabiskan uang kalau tidak ada nomornya,"


"Ah begitu," Fietta mengangguk-anggukkan kepala dan mengetik deretan nomor dan menyimpan namanya di kontak.


Arbian mengambil kembali ponselnya saat Fietta menyerahkan dan menatap ponselnya lama tanpa menyadari jika Fietta kini sudah masuk ke dalam mobil begitupun sang supir.


*


Saat Fietta sampai rumah ia mengeluarkan belanjaannya satu per satu di meja makan, bi Ani yang melihat benyaknya belanjaan Fietta mendekati dengan bingung.


"Non, ini banyak banget barangnya," Ucap bi Ani dengan heran karena Fietta tidak pernah mau menghaburkan banyak duit.


"Hehe soalnya ada orang baik bi, jadi sayang kalau di tolak," ucap Fietta, ia juga sebenarnya heran mengapa ia bisa bersikap tidak tahu malu begitu pada pria yang baru di kenal.


Bi Ani hanya menggelengkan kepala dan mengambil sabun cuci piring beserta beberapa bumbu nasi goreng kemudian berjalan menuju dapur.


Setelah menaruh es krim ke dalam kulkas Fietta membawa semua cemilan ke dalam kamar.


Fietta merebahkan diri di kasur dan mengecek ponselnya, ada beberapa notifikasi di media sosial namun tak ia buka, Fietta membuka pesan-pesan yang masuk di ponselnya.


+628**********:Arbian


Singkat, jelas, padat pikir Fietta. Mematikan ponsel Fietta memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


*


Pagi hari Fietta memaksakan diri untuk lari pagi, sebenarnya badannya kurus karena mau sebanyak apapun ia makan tidak ada yang akan menjadi daging di badannya, begitulah pikir Fietta karena lelah mengharapkan gemuk.


Selesai dengan rutinitas paginya Fietta kembali ke rumah dan menatap nasi goreng di meja makan, melihat sekeliling ia tidak menemukan di mana bi Ani.


Akhirnya ia sarapan sendiri di rumah, beberapa hari ini Fietta tidak bertemu dengan Dani karena sang papa sering tidur di kantor ataupun pergi ke luar kota.


Menghabiskan sarapan Fietta kembali ke kamar karena tidak ada jadwal kuliah maupun bimbingan.


Tiba-tiba sesuatu muncul di otaknya dan segera mencari kontak seseorang di ponselnya.

__ADS_1


Pada deringan kedua orang itu mengangkat.


"Hallo ta? kenapa?"


Dari suaranya Fietta dapat menebak jika Carla baru bangun tidur.


"Ayo berkuda," Ajak Fietta semangat.


Carla yang masih dengan mata tertutup segera membuka dan bangkit dari tidurnya.


"Beneran?"


"Iya, aku tunggu di rumah,"


Setelah sambungan terputus Fietta turun ke lantai bawah untuk menemui bi Ani.


"bi, bawain cemilan di tempat berkuda ya,"


"Tunggu ya non," Ucap bi Ani yang masih mencuci piring.


Setelahnya Fietta mengganti pakaian, saat sudah berganti bel pintu berbunyi ia segera berjalan ke pintu luar.


"Hai Fietta," Sapa Carla begitu Fietta membuka pintu.


Fietta menyuruh Carla untuk masuk dan membawanya ke belakang rumah, keduanya melewati jalan kecil di kelilingi rumput dan tanaman.


Carla cukup terpukau melihat tempat itu, selain tumbuhan terdapat kolam ikan yang terlihat seperti danau buatan karena kolam itu cukup besar.


Melihat Carla menatap sekeliling dengan antusias Fietta tersenyum.


"Sebenarnya ini semua keinginan mama, tapi sebelum jadi mama udah keburu pergi," gumam Fietta menatap kolam ikan itu.


Ucapan Fietta membuat Carla menoleh dan ikut sedih, walaupun wajah Fietta terlihat baik-baik saja Carla yakin Fietta rapuh.


"Lo anak yang kuat ta, mama lo pasti bangga," ucap Carla memeluk Fietta.

__ADS_1


'Aku cuma berharap mama maafin aku' Lirih Fietta dalam hati di pelukan Carla.


__ADS_2