
Hubungan Arbian dan Fietta sudah terjalin selama satu bulan saat ini. Keduanya tampak santai walau tidak sering bertemu di karenakan pekerjaan Arbian yang banyak.
Kini Fietta memasuki cafe untuk bertemu Carla saat wanita itu mengajaknya keluar.
Fietta mengedarkan pandangan dan tatapannya berhenti pada Carla yang duduk sendiri sembari memainkan ponselnya.
Saat Fietta sudah sampai dan duduk di hadapan Carla, baru lah wanita itu mendongak dan menatap Fietta dengan senyum lebar.
"Eh udah sampe, bentar gue pesenin minum dulu," Carla segera memanggil pelayan kemudian memesan minuman untuk Fietta dan beberapa makanan ringan.
Setelah memesan Carla tampak menghela nafas panjang dan itu membuat Fietta menatapnya.
"Gimana kabar Hero?" Tanya Fietta pelan.
Carla menoleh dan terdiam dengan kepala menunduk, beberapa detik kemudian Carla kembali tersenyum.
"Gue udah lupain dia, gue juga gak tahu gimana kabarnya karena gue ganti nomor,"
Fietta hanya mengangguk mengerti, seminggu setelah Carla curhat padanya waktu itu Carla membeli kartu baru dan mengganti nomornya, ia hanya menyimpan nomor teman-teman kampus dan keluarganya.
"Syukur kalau kamu udah nerima, aku yakin kalau dia memang jodoh kamu pasti kalian akan di pertemukan lagi,"
Carla menggeleng dan meminum minumannya dan datang pelayan yang memberikan minuman Fietta.
Fietta mencoba mengobrol hal lain dan akhirnya mereka berdua merencanakan liburan untuk nanti.
*
Arbian keluar dari ruangan dan berjalan menuju pantri karena ingin membuat kopi, sampai di sana ia melihat Randi dan Doni yang sedang mengobrol di depan mesin kopi.
"Yan, mau kopi?" Tanya Randi basa-basi mengangkat gelasnya.
"Hm, buatin satu," Ucap Arbian dan meninggalkan tempat itu untuk kembali ke ruangannya.
Randi melongo sedangkan Doni tertawa lepas melihat intraksi keduanya. Menurutnya perdebatan antar bersaudara ini adalah hiburan untuknya selama menghadapi kerasnya dunia kerja.
Randi mau tak mau akhirnya membuatkan kopi untuk sepupunya itu dan menatap sinis Doni yang masih tertawa.
"Ketawa lo sampe keriput, awas berhenti," Kesalnya pada Doni membuat tawa Doni makin menjadi-jadi membuat Randi mendengus kasar.
drtt...drttt...
Ponsel di kantung celananya membuat Randi menghentikan kegiatannya dan mengkode Doni untuk melanjutkan bikin kopi dan segera menjauh dari sana padahal yang menelepon hanya resepsionis di lantai bawah.
"Ada apa?" Ucap Randi langsung.
"Maaf pak, ada yang mencari pak Arbian, namanya Hero,"
Randi mengernyitkan dahi mendengar nama asing itu, ia tidak pernah tahu jika Arbian mempunyai teman atau kenalan bernama Hero.
"Oke, kamu antar dia di ruang tunggu,"
Setelah menutup telepon Randi mendekati Doni yang duduk anteng dan melirik kopi yang sudah jadi.
"Thanks,"
Ucapnya menepuk pelan bahu Doni yang kini memutar mata malas.
__ADS_1
Randi masuk ke dalam ruangan Arbian tanpa mengetuk pintu dan melihat Arbian dengan laptop di depannya.
"Yan ada yang nyariin?"
Arbian menghentikan pekerjaannya dan menatap Randi seakan bertanya.
"Gue denger sih namanya Hero, lo punya kenalan nama Hero?"
Arbian diam sebentar dan mengangguk, ia menyuruh Randi memanggil orang itu untuk masuk ke ruangannya.
Randi dengan segera memberitahu kepada staff di bawah untuk memghantar Hero ke ruangan Arbian.
Setelah menyelesaikan perintah Randi berjalan keluar dari ruangan Arbian tetapi terhenti saat Arbian kembali memanggil.
"Ran,"
Randi memutar badan dan menunggu perintah lagi.
"Buatkan teh,"
Randi hampir saja mengeluarkan umpatan namun ia segera mengendalikan diri dan pamit undur diri pada Arbian sampai akhirnya pintu di banting dengan keras oleh pria itu.
Selang beberapa menit terdapat ketukan di pintu dan Arbian menyuruh masuk.
Hero dengan setelan jas tampak masuk ke dalam ruangan Arbian.
"Halo yan," Sapa Hero.
Arbian tersenyum dan mempersilahkan Hero untuk duduk di sofa. Setelah keduanya duduk dengan nyaman Hero tampak kebingungan untuk bicara.
"Ada masalah? atau tentang Carla?"
"Kok lo tahu?"
"Fietta sahabat dekat Carla and im boyfriend Fietta," Ucap Arbian membuat Hero mengangguk mengerti.
"Apa alasan lo tolak cewek itu?"
Hero diam mendengar pertanyaan Arbian. Ada banyak alasan di otaknya.
"Dia ngajak gue nikah yan, gue emang suka sama dia tapi untuk masalah nikah, gue belum bisa," Ucap Hero dengan lesu apalagi kini Carla benar-benar menjauh darinya.
Arbian mengangguk-anggukkan kepala mengerti.
"Lo coba bicarain ini sama Carla, dia pikir cinta dia bertebuk sebelah tangan,"
Hero menggeleng dan menyandarkan punggungnya di sofa dan memejamkan mata sebentar.
"Dia ganti nomor, dan semua media sosial dia gak aktif,"
Kini Arbian diam dan menatap simpati pada Hero, ia tahu pria ini juga menyukai Carla.
Tok..tokkk...
Pintu ruangan terbuka dan sosok Randi yang muncul dengan membawa satu gelas teh.
"Makasih ran," Ucap Arbian dan kembali menyesap kopinya.
__ADS_1
Randi memutar mata dan melihat Hero yang juga menatapnya.
"Gue Randi," Ucapnya pada Hero dan mereka berjabat tangan.
"Hero," Balas Hero kemudian mencicipi teh itu bentuk sopan santunnya.
Randi memperhatikan Hero lamat-lamat dan kemudian ia menyadari jika pria ini yang ada di cafe waktu itu bersama pacar Arbian.
Randi melirik Arbian yang tampak bersikap biasa dan akhirnya ia duduk di sebelah Arbian membuat pria itu mengernyit.
"Lo cowok yang di cafe bareng pacar Arbian itu kan?" Tanya Randi memastikan.
Hero melirik Arbian kemudian tersenyum kecil dan mengangguk pada Randi. Kini mata Randi memicing.
"Lo gak buat perjanjian untuk bisa dapetin cewek itu kan?"
Setelah mengatakan itu Randi mendapat toyoran dari Arbian sedangkan Hero tapa bisa di cegah tertawa lepas.
"Ran lo kurangin nonton TV," Ucap Arbian heran dengan otak Randi.
"Lah, gue pikir kalian akan adu kekuatan buat dapetin cewek itu,"
Hero menggeleng dan menghentikan tawanya.
"Mereka teman gue," Ucap Hero dengan senyum kalem.
Randi kemudian berdiri dan itu membuat Arbian dan Hero mendongak menantikan drama apalagi yang akan di mainkan Randi.
Randi menoleh saat merasakan tatapan keduanya, ia mendengus.
"Gue gak bakal berulah, balik lah gak seru gak ada adu jotos,"
Randi kemudian keluar dari ruangan meninggalkan dua pria itu yang keheran-heranan.
Selang satu jam Hero pamit pada Arbian karena pekerjaannya juga belum selesai.
Arbian kembali ke ruangannya kemudian melirik jam yang ternyata sudah sore, Arbian mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hallo?"
Arbian tersenyum mendengar suara lembut itu.
"Sayang, kamu di mana?" Tanya Arbian tanpa sadar ikut melembutkan suaranya.
"Aku di jalan pulang,"
Arbian mengernyitkan dahi, biasanya Fietta tidak pulang sampai sore seperti ini.
"Kamu habis dari mana?"
"Dari cafe, nemuin Carla, dia butuh teman curhat,"
Arbian terdiam, seperti dua orang itu emang jodoh karena sama-sama saling curhat dengan mereka.
"Ya sudah kabarin aku kalau sudah sampe, aku lanjut kerja lagi,"
"Oke, jangan lupa makan,"
__ADS_1
Arbian tersenyum kemudian mematikan sambungan untuk kembali membereskan pekerjaannya segera agar bisa bertemu secepatnya dengan pacar manisnya.