
sejam lamanya perjalanan akhirnya mobil Carla berhenti.
Fietta menatap sekitar, suara ombak memasuki telinganya dan pemandangan di depannya jauh lebih indah.
"Waw," Keluar dari mobil tanpa sadar Fietta berdecak kagum. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali bermain di pantai karena sejak mama meninggal Fietta hanya pergi ke sekolah, tempat les, dan sekitaran rumah yang memang sudah banyak di sediakan keinginannya.
"Ini tempat yang akan bikin lo tenang," Ucap Carla berdiri di samping Fietta yang menatap lurus ke arah pantai.
Fietta mengembangkan senyumnya, ia sekarang bersyukur bertemu dengan Carla.
"Car, makasih,"
Carla menoleh dan tersenyum, ia merangkul pundak Fietta.
"Kita saling membutuhkan Fietta, gue juga gak akan setulus ini berteman kalau bukan karena lo,"
Fietta tertawa dan mengangguk, keduanya berjalan mendekati bibir pantai, bukan hanya mereka yang berada di sana, beberapa orang tampak bermain air dan pasir bersama keluarganya.
Fietta melepas sandal dan mulai menceburkan kakinya pada ombak yang bergerak, ada perasaan bahagia yang melingkupi hatinya sampai-sampai Fietta merasa merinding dan antusias.
"Fietta,"
Panggilan itu membuat Fietta menoleh dan melihat Carla duduk di sebuah warung kecil memanggilnya.
"Coba ini," Ucap Carla menyodorkan kelapa muda di hadapan Fietta.
Fietta minum secara perlahan dan menikmatinya.
Fietta kembali memikirkan saat di sepanjang jalan ia menebak-nebak tempat yang akan mereka kunjungi, untungnya ia memakai dress sepanjang lutut yang cocok saat di pantai.
Setelah mereka menghabiskan minumannya Carla membayar dan keduanya duduk di kursi santai sembari menikmati pemandangan laut di hadapannya.
"Mau main air?" Tanya Carla.
Fietta diam memikirkan dan akhirnya mengangguk setuju.
Kedua wanita itu berlari kecil menuju ombak di pinggir jalan dan bermain air di sana.
Beberapa anak kecil di sana mendekat dan bergabung dengan mereka dan saling menyiram air.
Fietta tertawa lepas dan menyiram air ke sembarang arah karena mereka menyiram ke arahnya.
Satu jam bermain akhirnya Carla dan Fietta kembali ke parkiran mobil dengan baju yang sudah basah semua.
"Gimana? seru?" Ucap Carla sembari memberikan handuk untuk rambut Fietta.
__ADS_1
"Banget, anak-anak itu paling semangat nyampe aku basah kuyup,"
Carla tertawa, memang Carla mengode beberapa anak itu untuk menyiram Fietta saja terbukti bajunya yang tidak terlalu basah, mengingat itu Carla hampir tertawa.
"Terus gimana baju aku?" Tanyanya melihat baju yang mungkin tidak akan langsung kering.
Carla tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya menarik tangan Fietta.
"Kita cari toko baju,"
Keduanya menelusuri jalan di dwkat pantai itu, banyak pernak-pernik dan juga topi-topi yang di jual.
Carla tampak mencari-cari toko baju di sekelilingnya sedangkan Fietta tampak mengamati benda-benda di sekelilingnya seperti cermin dari kerang bahkan beberapa bentuk hewan yang lucu.
"Nah itu, kita coba kesana," Tunjuk Carla pada toko baju pantai dan melirik Fietta yang menatap toko pernak-pernik.
"Ta, lo mau itu? tapi nanti ya setelah lo ganti baju," Ucap Carla menarik kembali Fietta dan membawanya ke toko baju.
Setelah berganti pakaian Fietta dan Carla pergi ke toko pernak-pernik sesuai keinginan Fietta walau Fietta tidak mengatakan apapun.
*
Arbian keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga, dapat di lihat keluarganya telah berada di meja makan.
"Hm,"
Arbian duduk dan Sandra tampak mengambilkan makan putranya walau awalnya di tolak tetapi Sandra tetap memaksa.
Nenek Dian tampak memperhatikan itu dan tersenyum tipis.
"Dra, anak kamu malu tuh, apalagi sekarang dia lagi dekatin cewek,"
Ucapan nenek Dian membuat mata yang ada di meja melirik ke arah nenek Dian kemudian Arbian.
Randi tampak tersenyum mengejek dan itu terlihat oleh Arbian.
"Aw,"
Teriak Randi membuat yang lain kini melihat ke arahnya.
"Hehe maaf kakiku mantok meja,"
Selesai sarapan Arbian dan Randi menaiki mobil menuju perusahaan. Randi yang mengemudi melirik ke arah Arbian yang kini sibuk dengan laptop.
"Yan, nenek kok percaya lo suka sama seseorang?" Tanya Randi, karena nenek Dian orang yang tidak akan percaya begitu saja jika tidak ada bukti di depan matanya.
__ADS_1
Randi melihat Arbian mendelikkan bahu dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Sampai di kantor Arbian melihat Doni yang tampak gelisah di lobby.
"Ada apa?"
Doni yang menunduk terkejut dan segera menoleh ke arah Arbian, kini kegugupannya makin menjadi saat melihat Arbian sudah datang.
Doni tidak berani mengatakan langsung akhirnya memilih mendekati Arbian dan membisikkan sesuatu yang dapat merubah tatapannya menjadi lebih dingin.
Randi melihat perubahan itu, bahkan tangan Arbian terkepal kuat menahan emosi. ia meliril Doni meminta penjelasan namun Doni menggeleng dan memberi kode nanti saat sudah berdua.
Arbian tampak memasuki lift dengan langkah cepat membuat Randi dan Doni berlari menyusul.
Saat sudah di lantai atas di mana ruangan Direktur berada, mereka dapat melihat wanita berpenampilan modis dan mewah duduk di salah satu sofa yang di sediakan di ruangan itu.
Randi menatap sinis wanita itu yang kini tersenyum melihat ke datangan mereka.
"Halo sayang, apa kabar?"
Arbian tidak menjawab dan mendekati wanita itu untuk segera mencekik lehernya membuat Randi dan Doni kelabakan dan segera berlari menghampiri Arbian untuk melepaskan.
"Yan.. yan.. tenang,, lepasin dulu anjir yan," Randi panik dan mencoba melepaskan cengkraman Arbian pada leher wanita itu.
Setelah terlepas wanita itu tampak terbatuk beberapa kali dan menatap sinis Arbian yang kini di tarik muncur oleh Randi dengan senyum remeh.
"Menjauh dari keluarga saya," Ucap Arbian dengan tajam, rahangnya sudah mengeras dan kepalan tangannya kuat.
Wanita itu tertawa keras membuat Doni merinding, ia teringat film nenek lampir kesukaan ibunya.
"Mana papa kamu? saya perlu bertemu dengan dia, apa kalian pikir saya nyerah begitu saja? hah!" Ucap wanita itu menyilangkan tangan dan berdiri di hadapan Arbian.
"Dia tidak membutuhkan anda, papa saya sudah bahagia sekarang,"
Wanita itu tidak terima namun sebelum ia bisa membalas tampak beberapa satpam datang dan menyeretnya.
"Lepas!, Arbian saya akan menemui papa kamu dan merusak keluarga kamu lagi! ingat itu!" Ucapnya sebelum akhirnya keluar dari sana atas tarikan beberapa satpam.
Randi menggelengkan kepala melihat kelakuan mantan pacar Julian, papa Arbian.
"Yan lo gak papa?" Tanya Randi saat Arbian memijit keningnya.
"Hm, lo bisa keluar," Ucapnya dan duduk di kursinya.
Randi yang bingung harus apa akhirnya keluar dari ruangan dan membiarkan Arbian menenangkan diri.
__ADS_1