World For You

World For You
BAB 42


__ADS_3

Melihat Arbian diam dengan tatapan kosong Fietta secara perlahan menepuk bahunya dari samping.


Arbian tersadar dan menoleh pada Fietta kemudian melihat lagi ponselnya yang ternyata masih terhubung.


"Dimana mamah saya? kenapa ponsel saya di kamu," Ucap Arbian mencoba tenang.


Beberapa detik kemudian hening sebelum akhirnya suara itu terdengar lagi, kini Fietta juga bisa mendengar, itu suara wanita.


"Akan saya kirimkan alamatnya, biar lebih jelas kamu lebih baik kesini,"


Arbian mematikan ponsel dan segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Fietta memejamkan mata dengan erat karena ketakutan, ia melirik Arbian yang mengeraskan rahang.


Beberapa menit kemudian mereka berhenti di sebuah rumah sakit. Arbian membuka pintu dan segera berlari ke dalam menibggalkan Fietta yang baru akan turun.


Fietta berhenti saat sudah membuka pintu melihat Arbian sudah pergi dengan berlari.


Ia kembali menutup pintu dan diam di kursi penumpang karena takut akan lebih membuat Arbian kerepotan jika ia ikut menyusul dan mencari pria itu.


*


Arbian dengan cepat menuju sebuah ruangan yang di kirim oleh orang itu. Saat membuka pintu Arbian dapat melihat sosok wanita yang selalu tersenyum lembut padanya kini terdapat perban di keningnya.


Sandra yang tadi mengobrol dengan orang di sampingnya menoleh dan mendapati Arbian berdiri diam di pintu.


Sandra tersenyum seperti biasa seakan tidak ingat apa yang terjadi beberapa menit yang lalu.


Arbian perlahan mulai mendekati Sandra dan memeluk sang ibunda dengan erat.


Sandra terkekeh pelan dan mengusap punggung putranya dengan lembut.


"It's okay son, mamah cuma luka ringan," Ucap Sandra mencoba menenangkan.


"Mamah sebenarnya kenapa?" Tanya Arbian saat sudah melepaskan pelukannya.


"Mamah juga engga tahu, sehabis pulang dari rumah nenek tiba-tiba ada mobil yang mau nabrak mamah jadi mamah menghindar tetapi malah menabrak pembatas jalan," Jelas Sandra membuat Arbian diam.


"Mamah ingat plat mobilnya?" Tanya Arbian akhirnya.


Sandra berfikir beberapa detik kemudian menggeleng, ia terlalu panik sampai tidak ingat dengan jelas apa yang terjadi tadi.


"Tapi untungnya ada Marsya, dia yang antar mamah kesini," Ucap Sandra seakan mengingatkan jika ada orang lain di antara mereka.


Arbian menoleh dan mendapati seorang wanita yang tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Terima kasih," Ucap Arbian tanpa ekspresi.


Sandra memudarkan senyumnya saat melihat wajah Arbian.


"Jangan begitu yan, dia sudah bantu mamah," Nasihat Sandra pada putranya itu.


"Maaf ya Marsya, sikap Arbian memang mirip papahnya," Ucap Sandra tersenyum tidak enak pada Marsya.


"Iya tan, aku paham kok," Ucap Marsya membalas senyum dan sesekali melirik ke arah Arbian yang hanya diam dengan wajah datar.


"Kamu dari mana? kenapa engga ke kantor?" Tanya Sandra saat melihat pakaian Arbian.


"Aku dari pan--"


Arbian menghentikan ucapannya dan segera keluar mengabaikan Sandra yang berteriak memanggilnya.


Arbian segera berlari menuju parkiran dan membuka pintu penumpang namun kosong. Seketika Arbian panik dan melihat sekeliling namun tidak menemukan Fietta.


Karena kesal Arbian menendang ban mobil dan mengacak rambutnya kesal. Arbian akhirnya memutuskan untuk mencari di luar rumah sakit takut Fietta sedang menunggu taksi.


Arbian menengok ke kanan dan kiri namun tidak menemukan sampai akhirnya ia kembali lagi ke parkiran dan melihat dari jauh wanita yang di carinya membawa sekantong plastik di tangannya.


Seketika Arbian berjalan mendekati dan menarik tangan Fietta membuat wanita itu kaget namun tetap mengikuti langkah lebar Arbian yang membawanya ke parkiran.


Langkah Arbian terhenti saat sudah di depan mobil, ia segera berbalik dan menatap tajam Fietta yang kebingungan.


"Kamu dari mana?" Arbian bertanya dengan penuh tekanan dari suaranya.


Fietta tidak tahu di mana letak salahnya sampai membuat Arbian marah.


"Aku beli ini, maaf aku pikir kamu lama jadi aku beli makanan," Ucap Fietta mengangkat plastik dari minimarket.


"Kenapa kamu gak ikut aku masuk?" Arbian mulai mengubah suaranya seperti biasa tetapi matanya tetap menajam.


"Kamu lari bi, aku gak bisa ngikutin kamu, bahkan kamu engga jelasin ke aku apa yang terjadi, kamu engga inget ada aku bi," Fietta akhirnya mengungkapkan perasaan mengganjal di hatinya tadi.


Arbian kini diam, tidak bisa menjawab dan memikirkan tadi, ia memang tidak sadar jika ada Fietta bersamanya saat sudah sampai di rumah sakit.


"Maaf," Ucap Arbian akhirnya menundukkan kepala.


Fietta menghela nafas dan memilih masuk ke dalam mobil meninggalkan Arbian sendiri di luar.


Tanpa menoleh ke arah luar Fietta mengambil es krim dan dengan tenang memakannya.


Arbian akhirnya masuk ke dalam mobil dan melihat Fietta yang asyik memakan es krimnya tanpa melirik ke arahnya.

__ADS_1


"Aku antar pulang," Ucap Arbian dan menjalankan mobilnya keluar.


Fietta hanya mengangguk tanpa suara dan segera menghabiskan es krimnya.


Arbian melirik Fietta yang menaruk sampah es krim itu pada plastik dan mengambil cemilan lain untuk di makan.


*


Ceklek..


Suara pintu terbuka membuat Sandra yang tadi melihat ke arah jendela segera menoleh ke pintu dan melihat Marsya kembali.


"Mana Arbian? kamu ketemu dia?" Tanya Sandra karena tadi saat Arbian lari keluar Sandra meminta tolong pada Marsya untuk mengejar Arbian takut ada sesuatu.


"Dia pergi tante, mungkin ada sesuatu yang penting di kantor," Ucap Marsya lalu duduk di samping ranjang Sandra.


Sandra akhirnya menghela nafas lega dan mulai tenang.


"Oh iya tan, aku boleh tanya?" Ucap Marsya membuat Sandra menoleh kemudiam mengangguk.


"Arbian punya pacar? soalnya aku lihat dia kaya cuek gitu,"


Sandra tertawa mendengar ucapan Marsya dan mengangguk-anggukan kepala.


"Dia memang cuek tapi untungnya ada satu wanita yang mau sama dia, namanya Fietta, dia kelihatan baik dan lugu," Ucap Sandra tanpa menyembunyikan senyum bahagianya.


Marsya diam-diam tersenyum kecut tetapi segera menubah ekspresinya menjadi ceria.


"Wah.. dia pasti cantik, aku jadi ingin ketemu dia,"


"Yah, nanti kita makan malam dan kalian pasti ketemu," Ucap Sandra.


Marsya tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya dan kemudian mengobrol banyak dengan wanita paruh baya itu.


*


Selama perjalanan pulang keduanya tidak mengeluarkan suara, Fietta yang fokus pada makanan sedangkan Arbian yang hanya berani melirik tanpa suara.


Saat sudah sampai depan rumah Fietta, Arbian menolej dan melihat wanita itu membuka pintu tanpa melihat ke arahnya.


Arbian menggenggam tangan Fietta menghentikan wanita itu yang akan turun. Fietta menoleh dan menatap dengan tenang Arbian seakan menunggu apa yang akan di lakukannya.


"Aku minta maaf, oke?" Ucap Arbian lagi.


"Kamu keluar tanpa noleh apalagi bicara sama aku, aku tahu ini egois saat kamu panik tadi tapi aku lagi kesal, tolong biarin aku hari ini," Ucap Fietta yang akhirnya membuat Arbian perlahan melepas tangannya.

__ADS_1


Fietta segera turun dan masuk ke dalam rumah sedangkan Arbian hanya memperhatikan dari mobil sebelum akhirnya mengemudikan mobilnya untuk kembali ke rumah sakit.


__ADS_2