World For You

World For You
BAB 38


__ADS_3

Malam sebelum acara pesta Bella dan Randi, Fietta datang di rumah Bella atas permintaan wanita itu.


Fietta juga berkenalan dengan dua sahabat Bella yang bernama Gia dan Vio. Mereka ramah seperti Bella membuat Fietta tidak terlalu canggung.


Kini Fietta berdiri di pojokan dengan memperhatikan sekitar yang tampak ramai karena besok acara akan di mulai dari pagi.


"Mau minum?" Tawar seseorang dari belakang Fietta, Fietta membalikkan badan dan melihat Vio, wanita berambut pendek dan punya senyum manis.


Fietta menerima minuman dari Vio dengan senyum tipis. Keduanya hanya berdiri dengan memegang gelas masing-masing.


"Kenal Bella dari kapan?" Tanya Vio karena tadi mereka hanya berkenalan nama saja.


Fietta menoleh ke arah Vio yang menatap ke depan dengan menyesap minuman.


"Belum lama," Jawab Fietta perlahan.


Vio menganggukkan kepala saja dan kembali diam.


"Oh iya kita bisa tambah pertemanan," Ucap Vio dan mengambil ponsel di tas selempangnya kemudian menyodorkan ponselnya kepada Fietta.


"Nomor lo," Ucap Vio dan Fietta mengambilnya kemudian mengetik nomornya.


Vio tersenyum dan mengambil kembali ponselnya untuk di masukkan ke dalam tas.


Tampak dari jauh Bella dan juga Gia jalan menghampiri mereka.


"Thank you, kalian sudah mau dateng," Ucap Bella memperhatikan ketiganya dengan ekspresi haru.


Gia dan Vio tampak memutar mata malas dan itu terlihat oleh Fietta.


"Geli gue dengernya," Ucap Vio dan Gia mengangguk semangat membuat Bella berubah kesal.


"Cih.. oh iya Fietta, kamu pulang sama siapa?" Tanya Bella karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Fietta memperhatikan jam tangan dan belum manjawab karena supirnya pasti sudah tidur.


Melihat Fietta tidak menjawab Bella mengerutkan kening.


"Atau telpon Bian, mungkin belum tidur," Usul Bella.


"Wait," Ucap Vio membuat mereka menoleh ke arahnya.


"Bian? Arbian sepupu Randi?" Tanya Vio memastikan dan melihat Fietta bahkan Bella mengangguk.


"Lo saudaranya?" Kini Vio mulai penasaran, karena beberapa bulan yang lalu ia pernah bertemu pria itu saat sedang bersama Bella dan Vio langsung suka pada pandangan pertama.


Fietta menggeleng dengan ragu dan Bella mendengus.


"Dia pacarnya," Jawab Bella dengan nada malas.


Vio tampak terkejut, itu terlihat dari Fietta.


"Oh my god, gue kalah saing ternyata," Ucap Vio menepukkan tangannya ke kepala dan memandang Fietta dengan mulut terbuka karena masih terkejut.

__ADS_1


Gia tampak tertawa puas melihat bagaimana shoknya Vio.


"Lebay lo," Komentar Bella.


"Ih, cowok itu keren banget, fi ya ampun hebat banget lo dapetin dia," Ucap Vio dengan raut sedih seraya menggenggam kedua tangan Fietta erat.


Fietta tidak tahu harus tertawa atau bersedih, karena melihat wajah sedih Vio Fietta mengelus punggung wanita itu.


"Yang sabar," Ucapnya dan membuat Vio, Gia dan juga Bella saling pandang.


Gia bertambah kencang tertawa karena dengan polosnya Fietta menenangkan Vio.


Drtt...drttt...


Suara ponsel membuat mereka terdiam dan Fietta bisa merasakan jika itu ponsel miliknya.


Fietta melihat nama Arbian yang tertera pada layar, Vio yang tidak sengaja melihat nama itu menutup mulutnya segera.


Setelah mengangkat mereka bisa mendengar suara berat pria itu.


"Sayang, kamu di mana?"


Tanpa di cegah Fietta merasa pipinya berubah menjadi merah dan semakin mengeratkan pegangannya pada ponsel.


"Eh.. Itu.. Aku lagi--" Fietta tidak bisa melanjutkan ucapannya dan matanya menatap ke arah Bella meminta bantuan.


Akhirnya Bella mengambil alih ponsel itu.


Arbian di seberang sana tampak terdiam, sepertinya bingung dengan perbedaan suara itu.


"Bella?" Tanya Arbian pelan.


"Ya, Fietta di rumah gue, lo bisa jemput?"


Hening beberapa detik dan tampak para wanita itu juga diam menunggu jawaban Arbian.


"Oke, tunggu,"


Panggilan itu di putus oleh Arbian dan Vio segera membuka bekapan mulutnya dan langsung mengambil nafas banyak karena tidak sadar sejak tadi menahan nafas.


"Fiettaaa boleh buat gue aja gak pacar lo, huaaa gemes banget," Ucap Vio dengan mengguncang bahu Fietta heboh.


Bella dan Gia langsung mengamankan Vio dari Fietta dan Bella tanpa kata menepuk kening Vio membuat wanita itu mengaduh sakit.


Fietta merasa specless karena sifat Vio ternyata tidak sesuai ekspetasinya yang ia pikir anggun dan lembut.


"Sorry Fietta, sepertinya gilanya kambuh,"


Fietta menahan tawa mendengar ucapan Gia dan mengangguk.


Setelah Vio merasa tenang mereka akhirnya kembali mengobrol seperti biasa dan itu membuat Fietta heran karena sekarang Vio kembali dengan sikap tenang dan anggunnya.


Beberapa menit kemudian tampak seorang pria datang menghampiri mereka, lebih tepatnya Fietta karena pria itu hanya menatap Fietta seorang.

__ADS_1


"Hai sayang," Ucap Arbian dengan senyum dan mengecup puncak kepala Fietta mengabaikan orang lain di sana.


"Dosa loh yan umbar kemesraan di depan orang," Ucap Bella dengan sengit.


Arbian menoleh dan mendapati tiga wanita memandang ke arahnya, Arbian tampak tersenyum miring.


"Oh ya?"


Melihat senyum mengejek Arbian Bella merasa kesal namun Vio tampaknya di buat semakin terpesona pada pria itu, seperti sekarang yang bahkan Vio lupa caranya berkedip.


Gia juga mengakui jika Arbian tampan, namun karena Gia mempunyai pacar yang sangat di bucinkan maka ketampanan Arbian tidak ada apa-apanya.


"Bella aku pamit, dan Vio, Gia sampai jumpa besok," pamit Fietta dan para wanita itu saling melambaikan tangan.


Arbian menggenggam tangan Fietta dan membawanya keluar dari halaman rumah Bella.


Saat mereka sudah masuk mobil Arbian langsung menjalankan mobilnya.


Fietta melirik Arbian dan kembali menatap depan.


"Ada apa?" Tanya Arbian yang peka dengan tatapan Fietta.


"Engga, aku pikir kamu udah tidur,"


"Aku nungguin telpon dari kamu tapi gak muncul-muncul," Ucap Arbian dengan kekehan.


Fietta merasa malu karena mengingat jika akhir-akhir ini Fietta sering menelpon Arbian dan mengobrol dengannya.


Mobil itu akhirnya berhenti di depan rumah Fietta dan Fietta segera mengambil tasnya untuk segera turun dari mobil.


"Engga ada salam perpisahan?"


Ucapan Arbian membuat Fietta yang ingin membuka pintu terhanti kemudian membalikkan badan dan melihat Arbian menyandarkan tubuhnya di kursi dengan senyum.


Fietta ikut tersenyum dan maju untuk mengecup pipi pria itu namun Arbian segera memalingkan wajahnya menghadap Fietta dan kecupan singkat di bibir terjadi.


Fietta yang sadar segera menutup mulutnya dengan tangan, Arbian tertawa karena ekspresi itu.


"Kamu kenapa?" Tanya Arbian di sela tawanya.


Fietta menggelengkan kepala dengan masih menutup mulut.


Saat pintu di buka oleh Fietta dan akan menutup kembali pintunya tetapi Arbian menahannya membuat Fietta yang sudah berdiri di luar mengerutkan kening.


"Kenapa?" Tanyanya namun Arbian malah mengambil sesuatu di jok belakang.


"Ini," Arbian menyodorkan sebuah kotak besar pada Fietta.


"Ini apa?" Tanya Fietta bingung dan tampak membolak balikkannya.


"Baju, besok pakai itu, pagi aku jemput," Ucap Arbian dan menghidupkan mesin mobilnya untuk segera pulang.


Fietta tersenyum dan mengangguk kemudian melambaikan tangan sampai mobil Arbian perlahan menjauh.

__ADS_1


__ADS_2