
"Ini kita mau kemana?" Tanya Fietta akhirnya, karena ini bukan arah jalan pulang.
"Rumah nenek,"
Fietta tersentak kemudian menoleh cepat ke arah Arbian yang tetap santai.
"Kamu bercanda?!"
Arbian menggeleng dan itu membuat Fietta gelisah di tempat duduknya. Melihat kegelisahan Fietta Arbian menggenggam tangan kanannya dan mampu membuat Fietta diam terkejut.
"It's okay, nenek cuma pengen ketemu," Ucap Aebian berharap Fietta tenang. Tetapi tidak sadar tindangannya malah membuat Fietta semakin gugup.
Sampai di sebuah halaman besar dan juga rumah yang menurut Fietta besar itu tanpa sadar ia menggenggam erat tangan seseorang di sampingnya yang ternyata belum terlepas sepanjang perjalanan.
Arbian tersenyum melihat tangan mereka yang bertautan dan membiarkannya. Fietta melirik Arbian yang menunduk dan melihat pandangan tangan mereka, ia segera melepasnya dengan cepat karena refleks.
"Ma-maaf,"
Arbian tidak menjawab dan keluar kemudian memutari mobil untuk membuka pintu Fietta.
Seorang pengurus rumah yang sedang menyirami tanaman melihat tuan mudanya membukakan pintu mobil dan terkejut saat melohat seorang wanita keluar dari mobil. Ia segera berlari ke dalam dan menemukan nenek Dian sedang mengobrol dengan Anggita di ruang keluarga.
Melihat pengurus rumah berlari menghampirinya, nenek Dian menghentikan obrolannya.
"Ada apa Marni?" Tanya nenek pada Marni, pengurus rumah.
"Maaf nek, saya lihat mas Arbian kemari dengan seorang wanita,"
Mendengar perkataan Marni, nenek Dian dan juga Anggita saling tatap kemudian berjalan cepat menuju ruang tamu.
Pintu utama terbuka dan muncul Arbian yang menaikkan alis melihat nenek Dian dan mommy Anggita berdiri di depannya seakan memang menunggu kehadirannya.
"Nenek ngapain?" Tanya Arbian melihat nenek celingak-celinguk mencari seseorang di belakangnya.
Mendengar perkataan Arbian nenek menghampiri dan menepuk keras bahunya membuat Arbian kesakitan.
"Kamu bawa siapa? dan mana orangnya?" Tanya nenek karena kesal dengan Arbian yang menyembunyikan pacarnya.
"Nenek tahu dari mana?"
Nenek Dian dari kemarin memang terus-menerus meminta Arbian membawa pacar atau calon pacarnya ke rumah tetapi terus saja tidak di degar cucunya itu.
Arbian tersenyum kecil dan memundurkan langkah dari pintu kemudian tangannya menarik seseorang dari samping pintu.
"Maaf nek, dia takut sama nenek soalnya,"
Setelah mengucap itu Arbian mendapat cubitan di pinggangnya oleh Fietta dan jeweran kuping dari nenek Dian.
__ADS_1
"Kamu wanita yang di mall itu kan?" Tanya nenek membuat Fietta kembali gugup.
"Iya nek," Fietta mencoba sebisa mungkin terlihat santai tetapi tangannya berkeringat, aura nenek Dian sangat dingin saat bertanya sesuatu.
Nenek Dian akhirnya tersenyum kemudian menyingkirkan Arbian ke samping untuk menggenggam tangan Fietta.
"Nenek senang kamu menerima cucu nenek yang seperti kanebo kering ini," Ucap nenek membuat Arbian mendengus.
Fietta menahan tawa dan itu membuat Arbian melotot tajam sampai akhirnya Fietta tidak mampu menahan tawanya.
Melihat Fietta akhirnya bisa bersikap santai dan tertawa Arbian tersenyum senang. Apalagi melihat nenek yang tampak suka dengan Fietta.
"Yuk masuk," Ajak nenek menarik pelan Fietta menuju ruang keluarga.
Fietta duduk di samping nenek Dian sedangkan di seberang meja Anggita menarik lengan Arbian untuk duduk bersama.
"Nah sekarang cerita sama nenek kapan kalian pacaran,"
Pertanyaan itu sukses membuat Fietta dan juga Arbian terkejut tidak mengira akan di tanya begini.
Fietta bingung harus menjawab apa dan hanya menatap Arbian yang tampak diam namun tentu saja tidak bisa bersikap tenang seperti biasa.
"Kemarin,"
Itu adalah suara Randi yang datang dari luar, pria itu duduk di sofa tunggal dan melihat semua mata memandang ke arahnya tetapi hanya Arbian yang menatapnya dengan tajam.
Fietta tersenyum canggung saat namanya di sebut apalagi kini nenek Dian tampak memperhatikan Fietta dari samping.
"Kamu tertekan sayang? ya ampun nenek minta maaf, kalau gitu Arbian kamu bawa pacar kamu ke kamar,"
Lagi dan lagi Fietta terkejut, keluarga ini sungguh luar biasa. Percakapan keluarga ini membuat Fietta pusing.
Arbian berdiri dari duduknya dan berdiri di hadapan Fietta dengan menyodorkan tangan yang mau tak mau ia gapai kemudian Arbian menarik lengannya dan membawa ke atas.
Di ruang keluarga nenek menatap tajam Randi yang sedang tertawa pelan melihat pasangan itu pergi.
"Kamu bohong sama nenek?" Selidik nenek Dian dengan tajam.
"Aelah nek, mereka sama-sama suka, cuma emang gak ada yang peka, kalo bukan dengan cara ini mereka pasti gak nikah-nikah,"
Nenek Dian kembali diam dan memikirkan sedangkan Anggita yang menyaksikan dari tadi menggeleng-gelengkan kepala, mulai lelah bergabung dengan keluarga ini.
*
Arbian membuka pintu kamar dan masuk di ikuti Fietta yang mulai ragu apakah harus ikut masuk atau diam di luar pintu.
"Maaf sama yang tadi, aku gak mungkin biarin kamu lama-lama di bawah, yang ada nanti pingsan,"
__ADS_1
Fietta memutar mata malas dan akhirnya memasuki kamar itu, cukup besar dan rapih tetapi tidak banyak barang di sana selain rak buku dan meja nakas, juga di pojok ruangan terdapat sofa kecil yang bisa di isi 2 orang.
"Tunggu di sana, aku ke kamar mandi sebentar,"
Fietta mengangguk dan mendekati sofa yang di tunjuk Arbian saat pria itu pergi ke kamar mandi.
Fietta melihat sekeliling dan matanya terpaku pada foto di meja nakas, Arbian saat remaja dengan seorang wanita cantik, keduanya tersenyum lebar seakan bahagia.
klek
Suara pintu terbuka dan muncul Arbian yang kini mendekati sampai duduk di sampingnya. Sofa itu tidak terlalu besar jadi saat mereka duduk tubuh mereka berdekatan bahkan nyaris tidak ada jarak.
"Apa kamu keberatan dengan perkataan nenek?" Ucap Arbian setelah lama berdiam-diaman.
Fietta diam mencerna ucapan pria itu, dan setelah mengerti Fietta menurunkan kepalanya malu.
"Saya minta tolong sama kamu untuk berpura-pura jadi pacar saya, hanya di depan keluarga saya saja,"
Entah mengapa ucapan Arbian membuat Fietta sedih begitu saja. Melihat Fietta diam Arbian panik walau tidak menunjukkannya.
Arbian berpikir Fietta akan menolak atau tidak menyukainya dan itu membuat Arbian kesal, dalam hati ia mengumpati sepupunya itu yang membuat keduanya seakan berbohong.
"Oke, seperti yang kamu bilang kita berpura-pura hanya di depan keluarga kamu," Ucap Fietta menekan kata 'hanya'.
Arbian tidak tahu harus merasakan apa, bahagia atau sedih karena hubungan ini di mulai dengan sandiwara. Sebenarnya bisa saja Arbian mengatakan yang sebenarnya pada nenek tetapi Arbian yakin akan segera di jodohkan dengan orang lain, ia sangat tahu bagaimana sifat neneknya.
tok..tokkk..
Suara ketukan pintu membuat Arbian dan Fietta menoleh ke arah sumber suara, Arbian berdiri dan membuka pintu.
"Semua nunggu di meja makan," Ucap Randi seraya menggerakkan kepala untuk mengintip ke dalam kamar tetapi di halangi oleh badan Arbian yang memang sudah mengetahui motifnya.Merasa sia-sia akhirnya Randi pergi dengan mendengus kesal.
Arbian memberi kode pada Fietta untuk pergi ke bawah. Saat menuruni tangga Fietta melihat beberapa orang tampak menatap ke arahnya membuatnya bersembunyi di balik bahu lebar Arbian.
Saat sampai di meja makan Fietta menatap wanita yang ada dalam foto di kamar Arbian, wanita itu tersenyum hangat seraya mendekatinya.
"Halo sayang, saya Sandra, mamahnya Arbian,"
Fietta tersenyum canggung dan melirik Arbian yang mengangguk kecil.
"Ha-halo tan, saya Fietta,"
Sandra tertawa dengan sikap polos Fietta, menurutnya gadis ini sangat lucu.
"Ya ampun anak polos ini kenapa bisa mau sama Arbian sih," Gemas Sandra mencubit kedua pipi Fietta.
"Sudah-sudah, kita makan dulu," Ucap nenek Dian membuat mereka duduk di bangku masing-masing.
__ADS_1
Arbian menarik tangan Fietta untuk duduk di sampingnya, suasana di meja makan menjadi hangat lantaran percakapan Randi yang selalu membuat keluarga itu tertawa, Fietta juga ikut tertawa, untuk pertama kalinya ia kembali merasakan kehangatan sebuah keluarga.