World For You

World For You
BAB 9


__ADS_3

Carla dan juga Fietta menghabiskan waktu siang itu untuk melukis, Fietta tidak menyangka jika Carla mempunyai bakat melukis.


"Kamu belajar melukis dari kapan?"


Carla tampak berfikir mendapat pertanyaan dari Fietta.


"Sepertinya umur 8 tahun deh, gue lupa tapi dulu pernah belajar gitu dari guru," Carla sedari kecil sudah banyak mengikuti les entah itu melukis ataupun bermain piano berbeda dengan Fietta yang di ajarkan oleh Arsyita, sang ibunda.


Bi Ani tampak masuk ruangan dengan membawa nampan berisikan makanan dan minuman.


"Ini cemilan non Carla," ucap bi Ani setelah tadi berkenalan dengan Carla.


"Wah terima kasih bi," ujar Carla senang dan menunda pekerjaannya sebentar untuk minum.


Bi Ani pun keluar setelah mengantar minuman untuk melanjutkan pekerjaannya.


Di sela makan cemilan mata Carla menatap ruangan itu, ia baru sadar kalau banyak lukisan yang di pajang di dinding, matanya menangkap lukisan sebuah keluarga.


"Ini orang tua lo ta?"


Fietta menoleh dan melirik lukisan itu sebelum mengangguk tanpa berkomentar.


"Nyokap lu ada?" tanyanya hati-hati karena Carla tidak melihat adanya orang tua Fietta dan berpikir orang tua Fietta merupakan orang sibuk.


"Mamah meninggal 10 tahun yang lalu,"


Carla menutup bibirnya rapat-rapat, ia merasa tak enak hati membahas itu.


"sorry ta,"


Fietta tersenyum dan menyakinkan Carla bahwa ia baik-baik saja.


Fietta selesai melukis bunga matahari sedangkan Carla melukis bunga anggrek putih, keduanya puas dengan hasilnya.


"Kamu bawa pulang car,"


"Oke,"


Keduanya keluar dari ruangan dan menuju lantai dasar dan melihat bi Ani membawa beberapa selimut yang baru di cuci.


"Bi kita mau keluar bentar ya," pamit Carla saat berpapasan dengan bi Ani.

__ADS_1


"Iya hati-hati,"


Fietta dan Carla berencana untuk bersantai di sebuah cafe dekat perumahan Fietta, itu tempat yang sering ia kunjungi jika merasa jenuh.


Mereka hanya memesan minuman karena bi Ani tadi banyak memberi mereka makan.


"Lulus kuliah lo mau gimana ta?"


Fietta diam sejenak, ia belum memikirkan ini padahal sudah jauh-jauh hari ia menyiapkan skripsinya.


"Mau daftar di perusahaan Yunan's?" tanya Carla membuat Fietta terkejut.


Kini Fietta teringat perkataan anak buah ayahnya.


"Kenapa kamu mulih di sana?"


"Yah walaupun banyak rumor tentang pemiliknya tapi gaji di sana tinggi dan juga semua karyawan engga tau gimana wujud asli bosnya,"


Fietta mengangguk, memang benar apa yang di katakan Carla, karyawan biasa ataupun yang bekerja sama dengan perusahaan itu tidak pernah tau di mana pemiliknya karena setiap pertemuan hanya di hadiri oleh wakilnya.


Perusahaan Yunan's merupakan perusahaan penerbitan yang kini berkembang bahkan telah membuka cabang seperti hotel dan mall.


"Kalo gak masuk kantor pusatnya seenggaknya gue bisa kerja di hotelnya,"


Selesai menikmati hari itu Carla pamit pulang setelah mendapat telepon dari rumah untuk menyuruhnya pulang begitupun dengan Fietta yang berjalan memasuki perumahannya seorang diri.


*


Di tempat lain Arbian tampak keluar dari mobilnya dan berdiri di perusahaan yang menjalin kerja sama dengannya baru-baru ini.


Tampak di lobby seseorang menyambut kedatangan mereka padahal Arbian sudah pernah mengunjungi perusahaan ini beberapa kali.


Beberapa orang yang berada di sana tampak kagum dengan wajah tampan Arbian. Walau pria itu tidak mengeluarkan ekspresi lain selain wajah lempengnya namun kadar ketampanannya tidak turun.


"Sambutan yang hangat," ucap Arbian yang tampak menaruh kedua tangannya di balik kantung celana.


Pria yang menyambutnya hanya membungkuk sopan.


"Mari saya antar, pak Dani telah menunggu di ruangannya,"


Arbian beserta Randi mengikuti pria itu menuju ruangan Dani. Saat masuk lift tiba-tiba Arbian mengingat pertemuannya dengan wanita ceroboh itu, tanpa sadar ia mengeluarkan kekehan kecil namun dapat terdengar oleh pria yang tadi mengantar dan juga Randi.

__ADS_1


Sadar akan tingkahnya Arbian mengembalikan ekspresi datar tanpa bebannya, seperti tidak terjadi apa-apa.


"mulai kambuh nih Arbian," gumam Randi dalam hati.


Sampai di depan ruangan Dani pria itu tampak mengetuk sebelum akhirnya terdapat sahutan dari dalam.


Arbian dapat melihat sosok Dani yang masih gagah walaupun umurnya tidak muda lagi.


Melihat teman bisnisnya datang Dani meninggalkan pekerjaannya dan mengundang mereka untuk duduk di sofa.


"Silahkan," ucap Dani di ikuti dengan dirinya yang duduk.


"Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya dalam proyek ini saya sudah mengirim beberapa contoh desain yang cocok, apakah ada salah satunya?"


Arbian mengetahui bagaimana watak dan sifat seorang Dani karena dulu ia mengaguminya jadi tidak heran jika kini mereka langsung membahas inti pembicaraan tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Tim saya sudah menentukan dan sedang proses pembangunan, saya harap kerja sama kita bisa saling menguntungkan," ucap Arbian tenang namun semua orang bisa mendengar keyakinan dan ketegasan dalam suaranya.


Dani mengangguk, ia tahu Arbian merintis usahanya dari bawah dengan umur yang masih sangat muda.


"Baiklah, saya juga berharap tidak ada kendala dalam kerja sama kita ini,"


Setelahnya Dani maupun Arbian membahas beberapa masalah dan juga kendala dalam proyek itu dan menjari jalan keluar.


"Terima kasih atas waktunya pak Dani," ucap Arbian bersalaman dengan Dani.


Dani maupun Arbian tampak berjalan menuju pintu begitupun dengan dua sekretaris mereka yang berada di belakang.


"Saya salut dengan kerja keras anda yang bisa mengatur dua perusahaan besar bahkan beberapa anak perusahaan lain," ucap Dani pelan yang hanya bisa di dengar oleh Arbian.


Arbian terdiam beberapa detik sebelum senyum tipis tersungging di wajahnya, ia memang tidak salah dalam mengagumi seseorang.


Dani pandai untuk mencari tahu informasi seseorang jika ia menginginkan. Itu adalah hal termudah untuknya bahkan untuk menjatuhkan lawannya.


"Itulah yang membuat saya di juluki manusia robot, tiada hari tanpa pekerjaan, bukan kah saya penerus anda pak Dani?"


Dani tertawa mendengar ucapan Arbian, anak muda ini memang mengingatkan dengan dirinya dulu, belum berhenti sebelum tumbang.


"Yah saya memang mengakui itu, tapi bukan berarti saya akan senang anda mendekati putri saya,"


Lagi-lagi Arbian diam bahkan Randi yang berada di belakangnya ikut diam karena tak sengaja mendengar percakapan keduanya.

__ADS_1


"mampus yan, jalan belum mulus udah hancur duluan, selamat jomblo dunia akhirat," ucap Randi bermonolog sendiri takut jika Arbian mendengar ia akan di kirim ke negara terpencil sendirian.


__ADS_2