
Selesai makan malam Arbian yang ingin pamit untuk pulang ke apartemen di tolak keluarganya.
"Ngapain pulang, ini rumah kamu juga bian, tinggal semalam di sini ya?" Ucap Anggita pada keponakannya.
"Aku harus ke kantor pagi-pagi mom, apartemen lebih deket dari perusahaan," Ucapnya yang memang besok harus ke kantor tetapi berbohong soal berangkat pagi karena ia biasanya datang jam 8.
Untungnya Randi sedang mengantar Bella pulang, jika tidak Arbian yakin Randi akan membuat Arbian kesal.
"Kalau kamu tidak ingin menginap, nenek akan jodohkan kamu dengan cucu teman nenek,"
"Nek, jangan bercanda," Ucap Arbian menahan rasa kesalnya yang bertambah.
"Kamu pikir nenek bercanda?"
Arbian menatap mata neneknya tetapi nenek Dian tampak serius dengan ucapannya.
Anggita dan juga Sandra saling melirik, keduanya tidak tahu harus apa untuk saat ini.
Arbian menghela nafas dan menatap mata nenek Dian yang masih menatapnya.
"Aku suka seseorang nek, aku gak akan pernah mau di jodohin,"
Anggita dan Sandra menutup mulut terkejut, paman Jeri tersenyum bangga melohat kejujuran Arbian, sedangkan nenek Dian diam sembari memicingkan mata.
"Kamu nipu nenek?" selidiknya.
"Engga,"
"Kalau gitu bawa dia ke depan nenek,"
Arbian diam sebentar mendengar itu, saat menagatakan ia menyukai seseorang entah mengapa wajah Fietta yang terlintas di pikiran Arbian.
"Nenek gak inget perkataan Randi? aku masih ngejar dia,"
Saat ini Arbian ingin memberikan tepukan bangga pada mulut tanpa remnya Randi.
Nenek Dian akhirnya diam menimbang-nimbang ucapan cucunya. Hanya Arbian yang tidak bisa di tebak olehnya di bandingan dengan Randi yang selalu menunjukkan banyak ekspresi.
"Baiklah nenek tidak akan membahas perjodohan lagi, tapi sebagai gantinya besok kamu temani nenek jalan-jalan,"
Kalau Arbian menolak pasti lebih banyak lagi perdebatan, akhirnya dengan pasrah ia mengangguk membuat nenek Dian tersenyum lebar karena melihat cucunya pasrah.
*
Fietta membuka mata saat alarm di kamar berbunyi, begitu mematikannya Fietta dengan langkah gontai menuju kamar mandi.
Bi Ani yang sedang menata makanan di dapur menoleh ke arah Fietta yang sudah rapi.
"Sarapan non,"
Fietta duduk dan memulai sarapannya dengan tenang, ia merasa tidak enak badan setelah berenang hampir dua jam, itu karena mereka asik mengobrol dengan tubuh yang masih di kolam.
__ADS_1
Begitu selesai Fietta masuk ke dalam mobil dan memejamkan mata saat mobil itu sudah berjalan.
Hari ini seperti yang sudah di rencanakan Fietta, ia akan mencari beberapa buku dan mempelajarinya untuk tugas.
Saat sampai di perpustakaan Fietta melihat sekeliling yang tidak terlalu ramai dan memilih tempat di pojokkan, selain karena ingin sendiri ia juga ingin menghindari silau matahari.
Setelah mengumpuli beberapa buku Fietta mulai fokus membaca dan tidak memperhatikan orang lain yang bahkan sedari tadi menatapnya dalam diam.
*
Barga dengan terpaksa ke perpustakaan saat wanita yang baru beberapa hari perpacaran dengannya ingin meminjam buku.
Barga yang mencari tempat untuk duduk tidak sengaja melihat Fietta yang duduk sendirian dengan kepala menunduk membaca buku, ia hanya menatap saja, setelah di pikir-pikir Barga tidak pernah memperhatikan Fietta semenjak mereka berpacaran.
Menurutnya Fietta merupakan wanita munafik dan egois yang hanya ingin memiliki seseorang tanpa memikirkan orang lain, Barga mulai muak saat Fietta mengusir semua teman ceweknya saat mereka berdiskusi untuk tugas kelompok.
"Hei,"
Tepukan di bahunya membuat Barga tersadar dan saat menoleh mendapati wajah pacarnya yang sudah membawa buku yang di cari.
"Yuk keluar, aku lapar," Ajak Barga menarik tangan pacarnya itu keluar perpustakaan dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak.
*
Fietta merenggangkan tangannya saat mulai lelah dan menatap sekeliling yang lumayan sepi.
Melirik jam tangan, Fietta terkejut mengetahui sebentar lagi jam makan siang.
Sebuah motor sport hitam berhenti tepat di depannya membuat Fietta yang menoleh ke kanan kiri di pinggir jalan menatap depan.
Melihat pengemudi motor itu melambaikan tangan di depannya Fietta secara refleks menoleh ke belakang berpikir jika orang itu menyapa orang lain.
Mungkin karena kesal tak di hiraukan pengemudi itu membuka helmnya dan membuat Fietta terpaku.
"Key? kamu ada di sini?" Fietta sebenarnya masih tidak percaya jika adik sepupunya membawa motor sendiri ke luar kota.
"Hai Fietta, lama gak ketemu,"
plakk..
Keynan meringis mendapat pukulan di bahunya.
"Engga ada sopannya kamu sama yang lebih tua," dumel Fietta.
"Cuma beda dua tahun," sanggah Keynan.
Fietta mendengus dan memilih diam, Keynan menatap Fietta dan memberi kode untuk Fietta menaiki motor.
"Aku nunggu supir key, lagian kamu emang gak sekolah? bentar lagi ujian loh,"
Keynan memutar mata malas, sudah bosan dengan nasihat seperti itu dari ibunya.
__ADS_1
"Buruan deh kak, makin macet nanti,"
Melihat wajah kesal Keynan akhirnya Fietta duduk di jok belakang. Motor itu melaju dengan cepat sampai Fietta harus memeluk Keynan karena takut.
Fietta diam saja saat motor Keynan menuju area parkir mall dan turun saat motor sudah terparkir sempurna.
"Temenin gue jalan-jalan kak, katanya di sini banyak tempat bagus," Ucap Keynan sembari melepas helmnya.
"Mana pacar kamu? gak minta dia temenin gitu?" Fietta mendengus.
"Udah aku ajak tapi dia takut ketahuan bolos,"
Fietta menggelengkan kepala, ternyata kenakalan Keynan bertambah dari beberapa tahun lalu saat terakhir bertemu.
Keynan menarik tangan Fietta memasuki mall walau tadinya Fietta risih dan ingin di lepaskan tetapi Keynan seakan tuli dan terus menarik Fietta.
"Ayo makan dulu, gue beneran laper kak,"
Kini giliran Fietta yang menarik Keynan menuju tempat makan yang lumayan ramai tapi Fietta beberapa kali makan di sana dan ia menyukainya.
Saat sudah duduk tampak seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan menu.
Fietta memesan dan menyamakan pesanannya dengan Keynan karena pria itu lama berpikir.
"khemm,"
Mendengar suara di dekatnya Fietta menoleh dan terkejut melihat wajah datar Arbian di samping mejanya.
"Ka-kamu kenapa ada di sini?"
"Lalu aku harus di mana? cuma kamu sama pacar kamu gitu yang boleh ke sini?" Ucap Arbian menekan kata pacar. Arbian pikir pria itu merupakan pacar Fietta yang ia ketahui dari datanya.
"Lo kenal dia ta? siapa?"
Kini tatapan Fietta yang tadi terarah ke Arbian menjadi tatapan tajam ke orang di depannya yang kembali memamggil namanya tanpa ebel-ebel kakak.
"Teman, pertama kali ketemu di kantor papa,"
"Ah, karyawan papa, pantas,"
Kini Arbian melirik tajam pria asing itu saat menyebut Dani papa dengan nada yang akrab seperti sudah kenal lama.
"Bain, ada apa sayang?"
Tiga orang yang berada di situ menoleh ke arah suara dan mendapati wanita tua namun masih terlihat modis dan awet muda.
Nenek Dian tampak diam menatap apa yang cucunya lihat, seorang wanita muda yang kini sedang berdua dengan seorang pria lain.
Fietta segera berdiri dan tersenyum sembari menunduk sedikit untuk menyapa, ia tidak tahu wanita itu siapa tetapi sepertinya mengenal Arbian.
"Kamu nolak cucu saya?" Perkataan itu mendapat beberapa respon berbeda dari mereka.
__ADS_1
Arbian yang terkejut mendengar pertanyaan frontal dari neneknya sedangkan Fietta yang tidak mengerti arah pembicaraan itu dan juga Keynan yang kini sibuk dengan ponsel saat pacarnya mengirimi pesan.