
Fietta menunggu Carla di depan rumah sampai sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya.
Melihat Carla melambai dari dalam mobil Fietta pun mendekati dan masuk ke dalam mobil itu.
"Sorry lama ta, gue kejebak macet," Ucap Carla saat Fietta sudah di mobil.
"It's okay," Jawab Fietta.
Di dalam mobil Carla dan Fietta tampak menikmati beberapa lagu, kedua menikmati suasana selama perjalanan.
Fietta menoleh ke kanan dan kiri saat mobil itu berhenti.
"Ta, gue dapet rekomendasi cafe tren dari teman kampus, yuk keluar," Ajak Carla dan membuka pintu mobil di ikuti dengan Fietta.
Tampak beberapa orang juga datang dan masuk ke dalam cafe itu, tidak terlalu besar tetapi terdapat dua lantai.
Carla mendekati meja yang tidak ada penghuninya dan menarik Fietta untuk duduk.
"Lo pesan minum apa?" Tanya Carla dan tampak membulak-balik buku menu.
Fietta melihat deretan minuman dan menunjuk Vanilla latte. Carla mengangguk dan akhirnya memanggil pegawai di sana.
Setelah memesan Carla tampak memainkan ponselnya dan tiba-tiba memukul-mukul meja dengan antusias.
"Ta ya ampun,, my prince nanya gue dimana, duh gue harus jawab apa?" Hebohnya dan kembali mengambil ponselnya yang hampir di banting ke meja.
"Ya kamu bilang aja kita ada di sini," Jawab Fietta santai dan mengambil minumannya yang baru datang.
Carla ingin mengetik kemudian diam sebentar dan menatap Fietta cemberut.
"Kemarin kan gue bilang kita seharian berdua," Kini Carla merasa bersalah, padahal dirinya yang mengajak jalan berdua kemarin.
"Gak papa, kamu panggil aja dia kesini,"
Mau tidak mau Carla mengirim alamat pada Hero, pria yang di sukainya itu.
Selang beberapa menit seorang pria menghampiri mereka, Hero tampak tampan dengan kemeja putih juga celana hitamnya, pria itu tersenyum seraya mengambil tempat di samping Carla.
"Ini," Hero menyodorkan kotak bekal di hadapan Carla yang kebingungan.
"Buat aku?" Tanya Carla ragu dan menoleh ke arah Fietta yang tersenyum.
"Itu dari mamah buat kamu,"
"Uhhh mamah kamu terbaik pokoknya, bilang terima kasih dari aku ya,"
__ADS_1
Hero mengangguk dan tersenyum melihat keantusiasan Carla saat membuka bekal itu.
"Ta, sini lo harus coba juga," Ucap Carla dan menggeser kotak makan itu ke tengah karena Fietta berada di depannya. Di dalamnya terisi nasi goreng yang merupakan makanan favorite Carla dan juga Fietta.
Fietta langsung menolak dan menggeleng tetapi di paksa oleh Carla di bantu juga dengan Hero yang ikut meyakinkan.
Di tengah makan Carla menghentikan suapannya dan membuat Hero juga Fietta menatap heran.
"Gaes, gue perlu ke toilet sebentar," Ucap Carla dan langsung beranjak dari sana, bahkan wanita itu berlari-lari kecil membuat Hero dan Fietta tertawa.
"Tingkahnya memang begitu?" Tanya Hero saat melihat Fietta juga menertawakan tingkah Carla.
Fietta menoleh dan mengangguk, senyumnya semakin lebar dan itu membuat kecantikannya bertambah.
"Dia sahabat baik saya, kalau bukan dia yang dekatin saya mungkin kita tidak sedekat ini," Ungkap Fietta tersenyum tipis.
Hero mau tak mau ikut tersenyum, ia bisa merasakan ketulusan dalam pertemanan dua wanita ini.
"Sayang."
Suara seseorang tampak familiar di kuping Fietta, ia menoleh dan mendapati Arbian dengan memakai hoddie hitam kini mendekat ke arahnya sembari menatap tajam Hero.
"Kamu ngapain?" Tanya Fietta tetapi pria itu tidak menjawab dan kini duduk di samping Fietta dengan tatapan yang masih mengarah ke arah Hero.
"Kamu punya janji sama dia? dia temen yang kamu bilang semalem?" Tanya Arbian dengan tatapan tak suka, Arbian menahan rasa kesalnya saat ini.
"Ah ya Hero ini.." Ucapan Fietta terpotong oleh Arbian.
"Arbian, pacar Fietta," Ungkap Arbian tegas.
"WHAT? PACAR?!"
Itu bukan suara Hero dan juga Fietta, melainkan Carla yang berjarak dua langkah dari mereka karena tidak sengaja mendengar ucapan Arbian.
Fietta menghela nafas kemudian memijit keningnya ketika tiba-tiba kepalanya terasa pusing.
"Ya, saya pacar Fietta," Ucap Arbian dengan percaya diri.
Carla segera duduk di bangkunya dan menatap Fietta dan juga pria asing itu bergantian.
"Lo gak bilang sama gue kalo lo punya pacar ta,"
Fietta mendogak dan menatap Carla yang melototinya seakan minta penjelasan.
"Kita baru pacaran kemarin, aku mau ngasih tau hari ini," Ucap Fietta mencari alasan.
__ADS_1
Carla akhirnya diam tidak menanyai lagi dan beralih ke minumannya yang tadi di tinggalkan.
Arbian tampak santai dengan menyandarkan tubuhnya ke kersi dan juga tangan yang di lipat di depan dada tidak menyadari jika ada satu orang yang pikirannya sudah berteori kemana-mana mendengar percakapan penghuni meja itu.
"Oke karena sudah begini kita double date," Usul Carla karena mulai muak dengan situasi canggung ini.
Hero menoleh ke arah Carla kemudian mengangguk, sedangkan Arbian tampak diam sebentar dan ikut mengangguk, kini tiga orang itu menatap secara bersamaan Fietta yang tampak linglung.
Fietta mendongak saat merasakan tatapan seseorang dan terkejut melihat mereka bertiga memandang lurus ke arahnya.
"Ke-kenapa?" Tanya Fietta gugup.
"Mau gak?"
"Hah?" Tanya Fietta tidak mengerti karena tadi ia melamun dan tidak mendengarkan.
"Oke! ayok berangkat," Final Carla dan berdiri kemudian menyeret Fietta yang masih belum mengerti pembahasan tadi.
Arbian bangun dari duduknya mendekati Randi yang kini memasang wajah meminta penjelasan.
Arbian mengambil kunci mobil di meja Randi kemudian mengantongi di baju hoddienya.
"Lo balik duluan, gue bawa mobilnya," Ucap Arbian kemudian pergi dari sana meninggalkan Randi yang melongo di tempat.
Arbian keluar dari cafe dan melihat Fietta dan Carla yang duduk di bawah pohon sedangkan Hero tampak menelpon seseorang dan agak menjauh dari mereka.
Fietta berdiri dan mendekati Arbian, pria itu menepuk pelan kepala Fietta kemudian tatapannya beralih ke Carla.
"Saya bawa Fietta, kalian duluan," Ucap Arbian menggenggam tangan Fietta.
Carla tampak tersenyum, pernah terpikir olehnya bagaimana jika ia dan Fietta membawa pasangan masing-masing di masa depan dan sekarang pikiran itu terwujud bahakan Fietta lebih dulu menjalin hubungan.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil dan mobil Arbian mengikuti mobil Hero untuk ke taman hiburan sesuai saran Carla.
Arbian melirik Fietta tetapi wanita itu tampak fokus menatap ponselnya.
"Maaf, aku pikir kamu bohong,"
"Hm," Tanggap Fietta namun matanya masih melihat layar ponsel.
Kembali melirik Fietta yang tidak mendengarkan akhirnya Arbian menarik ponsel itu dan menaruh di sampingnya.
Fietta hendak protes tetapi terhenti saat Arbian menggenggam tangan kanannya kemudian membawanya ke arah pria itu.
Cup..
__ADS_1
Arbian mengecup tangan Fietta membuat wanita itu membeku karena terkejut, Arbian melirik dan terkekeh melihat wajah merah wanitanya.