World For You

World For You
BAB 32


__ADS_3

Arbian masuk ke dalam apartemen tetapi langkahnya terhenti saat suara Fietta samar terdengar.


"Apa kita putus?"


Arbian segera membalikkan badan dan menatap tajam Fietta yang menunduk.


"Kamu ingin putus?" Tanya Arbian dengan nada datar.


Fietta masih menunduk dan tidak menjawab perkataan Arbian.


Akhirnya Arbian mendekati Fietta dan memegang pundaknya, ia memegang dagu Fietta dan membuat mata mereka bertatapan.


Arbian bisa melihat wajah sendu Fietta dan tanpa pikir panjang ia memeluknya erat.


"Maaf," Gumam Arbian di pelukannya, Fietta membenamkan wajahnya di dada Arbian dan ikut membalas pelukannya dengan erat.


Setelah beberapa saat Arbian melepaskan pelukannya dan merapihkan anak rambut wanita di depannya.


"Kamu ingin putus karena aku gak ada kabar selama tiga hari?" Tanya Arbian yang kini mulai melembutkan suaranya.


Fietta hanya menatap dan kembali tak menjawab.


Arbian akhirnya menarik tangan Fietta dan membawanya ke sofa.


Setelah keduanya duduk saling berhadapan Arbian menggenggam tangan Fietta.


"Kamu tahu dari siapa apartemen aku, Randi?"


Fietta mengangguk.


"Maaf aku ganggu istirahat kamu," Ucap Fietta.


Arbian diam namun tangannya masih erat menggenggam tangan Fietta.


Fietta sebenarnya ingin menanyai masalah mereka soal wanita itu namun ia menahan karena takut akan membuat Arbian kembali marah.


Kemudian tatapan Fietta terpusat pada plastik di meja.


Arbian mengikuti tatapan Fietta dan terkekeh pelan.


"Kamu mau mie?" Tanya Arbian.


Fietta mengalihkan pandangan pada Arbian kemudian mengangguk semangat dan membuat Arbian dengan gemas mengacak rambutnya.


"Bi rambut aku berantakan," Ucap Fietta cemberut.


"Ternyata selama beberapa hari ini aku kangen panggilan kamu," Ujar Arbian kemudian bangkit dari duduknya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Fietta saat Arbian menjauh dengan menenteng plastik tadi.


"Bikin mie, kamu tunggu situ," Jawab Arbian tanpa menghentikan langkahnya menuju dapur.


Fietta memperhatikan Arbian di dapur dari sofa, walau apartemen itu terbilang luas tetapi Fietta masih bisa melihat Arbian di dapur.


Karena hanya memasak mie yang hanya beberapa menit, Arbian dengan cepat menyelesaikan masakannya dan membawanya ke hadapan Fietta.


Melihat Fietta yang antusias Arbian tidak bisa menahan untuk tidak mencubit pipi wanita itu.

__ADS_1


Fietta tidak memprotes tindakan Arbian karena sibuk meniup mienya yang masih panas.


"Enak," Gumam Fietta.


"Kamu gak pernah makan mie?" Tanya Arbian heran.


"Jarang, pengasuh aku gak bolehin makan mie selama sebulan,"


Arbian menganggukkan kepala, sebenarnya nenek Dian juga tidak membolehkan mereka sering makan instan.


Selesai makan mie keduanya memutuskan untuk menonton TV.


Arbian membawa kepala Fietta untuk bersandar di dadanya kemudian merengkuh bahu wanita itu.


Beberapa saat dalam posisi ini Fietta semakin merapatkan tubuhnya karena suhu tubuh Arbian lebih hangat darinya.


Arbian tersenyum pelan dan membiarkan Fietta memeluk tubuhnya erat.


"Bi?"


Arbian menunduk dan melihat ke arah Fietta yang masih menatap layar TV. Kemudian ia berdehem seakan menjawab.


"I love you,"


Arbian diam, setelah beberapa saat Fietta mendongak untuk melihat Arbian yang hanya diam saja tetapi ia melihat pria itu linglung.


"Kamu barusan bilang apa?" Tanya Arbian lagi.


Fietta tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada telinga Arbian.


"im sorry but i love you so much,"


Arbian bisa melihat mata Fietta yang membesar seakan terkejut tetapi kemudian menutup mata.


Awalnya Arbian hanya menempelkan bibirnya tetapi saat melihat mata Fietta yang terpejam Arbian dengan berani menggerakkan bibirnya kemudian menarik tengkuk Fietta semakin mendekat.


Semakin lama Fietta semakin kekurangan oksigen dan memukul dada Arbian untuk melepaskan.


Setelah keduanya berjarak Fietta bernafas dengan cepat dan menatap tajam Arbian yang tampak santai.


"Ayo aku antar pulang," Ajak Arbian kemudian berdiri dan menoleh pada Fietta yang mengernyit.


"Kenapa? kamu gak suka aku di sini?" Tanya Fietta.


Arbian menarik tangan Fietta sampai keduanya berdiri berhadapan.


"Bahaya kalau kamu di sini lama," Ucap Arbian dengan berbisik.


"Ish," Karena merasa kesal Fietta memukul lengan Arbian dan pria itu hanya tertawa.


"Ini udah malam sayang, kamu mau minep di sini?" Tanya Arbian dengan nada menggoda.


Fietta dengan cepat menggeleng dan Arbian terkekeh kemudian pria itu menggandeng lengan Fietta dan membawanya keluar dari apartemen.


Sampai di depan mobil Arbian membukakan pintu untuk Fietta yang membuat wanita itu tersenyum malu.


Setelahnya Arbian ikut masuk mobil dan melajukannya menuju rumah pacarnya.

__ADS_1


"Kita tadi cuma makan mie, kamu gak mau yang lain?" Tanya Arbian melirik Fietta.


Fietta tampak berpikir dan melihat jalanan yang mereka lalui.


"Bi berhenti,"


Mendengar ucapan tiba-tiba Fietta Arbian segera menghentikan mobilnya, untungnya jalanan itu cukup sepi.


"Ada apa?" Tanya Arbian.


"Aku mau itu," Tunjuk Fietta ke arah luar dan Arbian melihat pedagang martabak.


"Tunggu sini," Arbian meminggirkan mobilnya kemudian turun untuk membeli martabak.


Fietta tersenyum di dalam mobil dan memperhatikan Arbian yang berdiri di tempat penjual itu.


Kedatangan Arbian di sana membuatnya jadi pusat perhatian. Walau Arbian hanya mengenakan kaos hitam dan celana training tetapi tidak mengurangi kadar ketampanannya.


"Aku harus sabar punya pacar tampan," Gumam Fietta di balik kaca mobil dengan memperhatikan Arbian dari jauh.


Hampir setengah jam menunggu akhirnya Fietta turun dari mobil dan menghampiri Arbian yang masih menunggu dengan duduk di bangku sembari memainkan ponsel.


"Bi," Panggil Fietta saat sudah dekat dengan pria itu.


Arbian mendongak dan melihat pacarnya menghampiri.


"Sabar ya," Ucap Arbian dengan senyum tipis kemudian menarik tangan Fietta agar duduk di sampingnya.


Fietta bisa merasakan tatapan para pembeli martabak yang rata-rata perempuan melihat ke arahnya dan Fietta menahan rasa gugupnya.


Arbian merasakan kegelisahan pacarnya dan menggenggam tangan wanita itu membuatnya rileks.


Tepat pada saat itu pesanan Arbian jadi dan setelah membayar Arbian menarik Fietta dan kembali ke dalam mobil.


Suasana hati Fietta kembali normal dengan melihat martabak, ia membuka sedikit dan mengambil potongan kecil untuk di makan.


Arbian menoleh dan melihat Fietta yang sedang makan, tangannya terangkat dan mengelap sisa coklat di sudit bibir wanita itu.


Fietta menghentikan kunyahannya dan melihat Arbian menjilat jarinya yang terdapat coklat.


"Ih jorok," Ucap Fietta dan segera mengambil tisu kemudian membersihkan tangan Arbian.


"Kalau gitu kamu suapin aku," Ucap Arbian dengan senyum manis.


Fietta diam namun matanya menelisik, ia berpikir pria itu pasti sengaja tetapi akhirnya ia menyuapi martabak dengan tangannya.


"Gimana? enak?" Tanya Fietta saat melihat Arbian mengunyah.


"Biasa aja," Jawab Arbian santai membuat Fietta mendengus kesal.


Arbian kemudian melirik pacarnya dan menahan tawa.


Mobil Arbian berhenti di depan rumah Fietta dan keduanya masih diam.


Arbian melirik Fietta yang masih belum menyelesaikan kunyahannya dan menatap seakan menyuruh sabar.


Setelah itu Fietta menenteng martabak dan juga tasnya setelah membuka pintu tapi gerakannya terhenti kemudian berbalik dan melihat Arbian yang masih menatapnya.

__ADS_1


Fietta memposisikan barang-barangnya di tangan kiri dan tangan kanan menarik kaos hitam Arbian sampai tubuh pria itu mendekat kemudian mengecup dua kali pipi pria itu.


Arbian terkejut dengan tindakan tiba-tiba itu sampai tidak sadar Fietta terlah berlari memasuki rumahnya.


__ADS_2