
Sudah terlewat tiga hari semenjak Arbian membentak dan menutup telponnya dan Fietta selalu ragu untuk menelpon Arbian karena pria ini hingga sekarang tidak memberi kabar atau menanyai kabarnya.
Hari ini Fietta tidak melakukan apapun dan hanya merebahkan diri di kasurnya. Ia mencoba menyibukkan diri dengan membaca buku ataupun membuka akun sosmednya.
Ia mencoba perpikiran positif jika Arbian sedang sibuk dan bahkan tidak sempat memberinya kabar selama 3 hari ini.
tokk...tokkk..
Suara ketukan di pintu membuat Fietta menoleh dan kemudian pintu itu terbuka hingga muncul bi Ani yang membawa nampan.
"Non, bibi perhatiin hari ini non Fietta engga keluar kamar," Ucap bi Ani dan menaruh nampan itu di meja nakas.
"Aku lagi butuh istirahat aja bi, sebentar lagi skripsi ku beres,"
bi Ani tersenyum dan mengusap pelan kepala Fietta.
"Jangan terlalu keras non, tidak ada yang memaksa non Fietta untuk segera lulus,"
Fietta diam, memang tidak ada yang memintanya untuk segera lulus tetapi pikiran jahatnya beranggapan karena tidak ada yang peduli dengannya itulah yang membuat ia tidak di paksa lulus secepatnya.
"Aku mau lepas dari papah, aku udah jadi beban selama ini," Lirih Fietta dengan kepala menunduk.
Bi Ani terkejut dengan pikiran nonanya yang seperti itu.
"Gak boleh berpikiran begitu non, tuan itu sangat menyayangi non Fietta tetapi tidak bisa mengekspresikannya seperti orang tua yang lain,"
Fietta diam saja tidak menjawab dan bi Ani juga tidak lagi mengeluarkan suara karena takut akan salah bicara.
*
Arbian menatap dokumen dengan pandangan kosong, selama 3 hari ini Arbian tidak tidur nyenyak dan membuat matanya menghitam dan tubuhnya lesu.
Randi yang sudah lelah menyuruh Arbian istirahat ataupun menyuruh makan hanya bisa menatap dengan prihatin.
Tidak mudah memimpin suatu perusahaan besar yang banyak di tentang oleh beberapa pihak, apalagi Arbian juga mempunyai perusahaannya sendiri.
Selama ini Randi hanya mengeluh pada sang istri dan tidak berani untuk mengadu pada keluarganya karena nenek Dian pasti tidak akan tinggal diam.
"Yan ini makan siang lo,"
Randi menaruh kotak makan siang Arbian yang tidak di respon pria itu kemudian dengan perlahan keluar, ia tidak akan mengeluarkan candaannya sekarang.
Setelah keluar dari ruangan Arbian, Randi menelpon sang istri seperti biasanya dan menceritakan harinya yang menyedihkan di kantor.
Arbian memusatkan pandangannya pada kotak bekal yang di bawakan Randi, itu sebenarnya bekal Bella untuk Randi namun karena Randi terus kepikiran dengan Arbian maka jatah makan siangnya di berikan pada Randi.
__ADS_1
drt..drtt..
Getaran di ponsel membuat Arbian menoleh dan mendapati nomor tak di kenal. Setelah mengabaikannya Arbian di buat kesal lantaran getaran itu tidak berhenti yang akhirnya ia angkat.
"Selamat siang Arbian sayang,"
Arbian menajamkan matanya mendengar suara wanita yang paling di bencinya.
"Mau apa kamu!" Arbian mencoba menahan emosi di suaranya namun gagal.
"Jangan emosi dong, saya memang batal menjadi ibu tiri kamu tapi saya tetap wanita yang akan selalu di cintai oleh pria tua itu," Ucap wanita itu di selingi tawa.
"Kamu ternyata anggap remeh ancaman saya untuk jangan menyentuh keluarga saya," Tekan Arbian.
"*Keluarga? ah.. maksud kamu wanita itu? d*ia pacar kamu? astaga Arbian, orang dingin seperti kamu bahkan ada yang suka,"
"Saya tutup," Saat Arbian ingin mengakhiri sambungan tangannya terhenti saat kembali mendengar suara wanita itu.
"Gadis yang cantik ya Arbian, tapi saya tidak akan membiarkan kamu bahagia bersama dia, seperti hubungan saya dengan papah kamu yang harus berakhir karena kakek sialan itu," Ucap wanita itu dengan geram.
Arbian tahu sedikit bagaimana kisah mereka. Wanita itu merupakan cinta pertama Julian dan mereka harus terpisah karena ayah Julian atau kakek dari Arbian menentang hubungan mereka dan menikahkan Julian dengan Sandra, ibu kandung Arbian.
"Apa mau kamu?" Tanya Arbian dingin.
"Apa ya? sebenarnya saya sudah mulai muak dengan kalian, karena insiden waktu itu saya terpaksa harus menikah dengan pria tua yang bahkan istrinya banyak, saya akan membuat keluarga kalian merasakan penderitaan, camkan itu Arbian,"
Arbian menatap tanpa ekspresi pada layar ponselnya.
*
Sudah setengah jam Fietta duduk merenung di pinggir kolam, kakinya ia sengaja celupkan di air dan menikmati angin sore.
Bi Ani hanya memperhatikan nonanya dari jauh, berjaga-jaga takut Fietta terjatuh tanpa sengaja.
Drtt...drttt...
Suara ponsel membuat Fietta tersentak dari lamunannya dan mengambil ponsel yang tidak jauh darinya.
Ia melihat nama Bella di kontak karena terakhir kali mereka bertemu, keduanya saling menyimpan nomor masing-masing.
"Halo bel?"
"Fi lo di mana?" Tanya Bella di seberang sana.
"Rumah, kenapa?"
__ADS_1
Setelah itu hening dan itu membuat Fietta merasa heran.
"Gue butuh bantuan lo, karena cuma lo satu-satunya yang bisa bantu,"
Perkataan Bella tentu saja tidak di mengerti Fietta.
"Maksudnya?"
"Arbian beberapa hari ini stress karena pekerjaan fi, bahkan dia kurang tidur dan jarang makan, lo temuin dia ya?" Ucap Bella mencoba membujuk Fietta.
"Tapi bel, aku--" Ucapan Fietta terpotong dengan suara lain.
"Lo pacarnya, Arbian memang kurang peka apalagi jika sudah fokus dengan pekerjaan yang bahkan keluarganya aja jarang di hubungin, cuma lo yang bisa jadi sandaran Arbian saat ini," Itu suara pria, dan Fietta yakin jika Randi lah yang sedang berbicara.
"Oke, bisa kamu kirim lokasi Arbian sekarang?" Final Fietta karena mau bagaimanapun ia tetap merasa khawatir dengan pria itu.
"Tunggu," Ucap Randi kemudian mematikan sambungan.
Fietta bangkit dari duduknya kemudian berjalan cepat menuju kamar untuk mandi dan bersiap-siap.
Setelah rapih Fietta mengambil tas dan juga ponselnya, ia memperhatikan alamat yang di kirim Randi, itu sepertinya sebuah apartemen.
Fietta meminta antar supir kemudian menyuruhnya pulang karena Fietta merasa akan lama di sana.
Masuk ke lobby apartemen Fietta kemudian masuk lift dan merasa kegugupannya makin meningkat begitu lift itu terus berjalan.
ting..
Pintu lift terbuka dan Fietta keluar untuk mencari nomor apartemen yang Arbian tinggali.
Saat sudah berhasil mencari Fietta hanya berdiri di depan pintu karena mulai ragu apakah harus mengetuk atau tidak.
"Kamu ngapain di sini?"
Suara dari belakang tubuhnya membuat Fietta tersentak dan membalikkan badan dengan memegang dadanya yang kini berdetak kencang karena terkejut.
Arbian menatap Fietta di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Melihat Arbian di depannya Fietta menundukkan kepala takut, apalagi kini tatapan Arbian terasa menyeramkan.
Fietta melihat sebungkus plastik yang di genggam Arbian kemudian dia kembali mendongak pada pria itu.
"Kamu beli mie?" Tanya Fietta.
Arbian menatap kresek di tangannya kemudian mengangguk dan membuka pintu apartemennya.
__ADS_1
"Masuk," Ucap Arbian dan Fietta mengekor di belakang Arbian sampai pintu itu tertutup kembali.