World For You

World For You
BAB 29


__ADS_3

Arbian keluar dari kamar dengan menggenggam tangan Fietta kemudian bergabung dengan nenek Dian di ruang keluarga.


Randi dan Bella tampak duduk berdua dengan mesra entah dari kapan datangnya. Fietta tersenyum canggung karena kini keluarga Arbian kumpul semua kecuali mamah Arbian.


Anggita menatap lekat wajah Fietta, sebenarnya Anggita merasa pernah melihat Fietta tetapi ia lupa tepatnya kapan dan di mana.


Merasakan tatapan Anggita Fietta berpikiran yang tidak-tidak, sebenarnya Fietta masih ingat dengan tante Anggita, kenalan tante Lea waktu di pusat perbelanjaan.


"Ada apa mom? mommy ada yang mau di tanya dari pacar Arbian?"


Bukan Randi namanya jika tidak membuat ulah, kini Anggita menoleh pada anaknya kemudian mendelik.


"Mommy seperti pernah bertemu Fietta, tapi kapan ya? mom lupa," Ucap Anggita dengan raut bingung.


Randi memutar matanya malas, jelas sekali merasa lelah dengan sifat pelupa ibunya, bahkan untuk hal sepele seperti lupa masak, lupa mandi apalagi untuk ingat ulang tahun anaknya sendiri.


"Kita pernah ketemu di mall tante, bareng tante Lea," Ucap Fietta dan membuat Anggita terkejut.


"Ya ampun, saya hampir lupa kalau kamu gadis itu, ah dan lihat kamu beneran bersama keponakan saya tanpa harus saya kenalkan," Ucap Anggita dengan raut bahagia.


Fietta tersenyum tipis dan Arbian semakin mengeratkan genggamannya.


"Bian, kamu mau berdiri terus? kasihan Fietta," Ucap nenek Dian dan Aebian baru menyadari itu kemudian menarik tangan Fietta untuk duduk bergabung dengan yang lain.


"Randi, kapan pesta pernikahan kalian di adakan?" Tanya paman Jeri peda putranya.


Randi melirik Bella dan begitu pun sebaliknya, karena kesehatan ayah Bella yang menurun dan harus di rawat di rumah sakit membuat Randi dan Bella memundurkan pesta pernikahan mereka dan lebih memilih menikah secara sederhana yang hanya di hadiri keluarga kecil.


"Jika tidak ada kendala Randi ingin minggu ini,"


Bella menoleh cepat pada Randi dan Randi membalas dengan senyum hangat.


Mendengar perkataan Randi, paman Jeri mengangguk-anggukan kepala lebih cepat lebih baik.


"Baiklah, mulai besok kami akan persiapkan keperluan untuk acara nanti,"


"Baik dad," Ucap Randi dan merangkul bahu istrinya.


Menjelang malam keluarga itu makan malam dengan hangat, di saat seperti ini Fietta merasa nyaman karena suasana keluaega mereka yang harmonis.


Selesai makan Bella dengan di bantu Fietta ikut membereskan piring kotor walau sudah ada pengurus rumah yang akan membereskan.


"Sepertinya para cucu menantu ku memiliki sifat yang sama," Ucap nenek Dian yang memperhatikan Bella dan Fietta dari kejauhan bersama Anggita.

__ADS_1


"Mereka memang sama-sama polos mom, tetapi pasangan mereka saling bertolak belakang," Ucap Anggita dan keduanya tertawa.


"Sebenarnya ada satu sifat Arbian dan Randi yang sama, yaitu sama-sama manja, mungkin hanya Fietta atau Bella saja yang tahu bagaimana sifat manja mereka,"


Anggita tersenyum dan mengangguk kemudian meninggalkan tempat itu bersama dengan ibu mertuanya.


"Aku sebenarnya gak percaya kamu pacaran dengan Arbian," Ucap Bella dengan senyum di saat ia mencuci piring sedangkan Fietta yang menaruhnya di tempat.


"Kenapa?"


"Di lihat dari sikap Arbian yang kadang cuek dan bagaimana dia abai dengan wanita aku pikir Arbian akan menghabiskan waktunya dengan kerjaannya itu,"


Fietta terkekeh karena memikirkan bagaimana hidup Arbian yang menua dengan kerjaannya.


"Mungkin saat umur 50 dia lelah dengan pekerjaan kemudian mengadopsi seorang anak untuk di jadikan penerus,"


Bella langsung tertawa mendengar ucapan Fietta, kedua wanita itu sama-sama tidak bisa menahan tawanya.


"Kalian sedang bergosip," Siara dari belakang membuat mereka terkejut bahkan karena refleks Bella menyipratnya dengan air.


"OH MY, Honey! basah baju aku," keluh Randi dan mengibaskan bajunya karena ulah istrinya.


"Kamu ngagetin!, sana pergi ke kamar," Usir Bella kesal kemudian melanjutkan cucian piringnya. Fietta yang melihat hal itu tersenyum geli.


Fietta menoleh ke arah Fietta yang tersenyum.


"Ruangannya di mana?" Tanya Fietta mencoba mengabaikan kelakuan pasutri itu.


"Sebelah kamarnya," Jawab Randi dan kembali memeluk istrinya dengan erat.


Fietta segera meninggalkan dapur dan berjalan perlahan menuju ruangan yang di beritahukan Randi.


Walau awalnya ragu tetapi akhirnya Fietta mengetuk pintu kemudian terdengar suara Aebian dari dalam yang menyuruhnya masuk.


Ceklek..


Pintu terbuka dan terlihat Arbian yang menunduk dengan kacamata bacanya membuat kadar ketampanannya meningkat.


Arbian menoleh dan tersenyum melihat Fietta sebelum akhirnya menyuruh wanita itu mendekat.


Langkah Fietta perlahan semakin mendekat dan berhenti tepat di depan meja Arbian tetapi tangan pria itu terus melambai menyuruh lebih dekat.


Fietta akhirnya berjalan mengitari meja kemudian berhenti saat sudah berada di hadapan Arbian, ia bahkan kini menunduk karena Arbian duduk di kursinya seraya mendongak.

__ADS_1


"Antar aku pulang," Cicit Fietta namun masih bisa di dengar oleh Arbian.


Arbian memeluk pinggang Fietta dan menaruh kepalanya di perut wanita itu.


"Sepertinya aku udah jatuh cinta sama kamu," Ucap Arbian memeluk Fietta yang bisa ia rasakan tubuhnya menegang.


Fietta kembali menunduk dan melihat senyum lembut pria itu, pria yang baru mengaku padanya.


Melihat Fietta hanya dian seakan bingung, Arbian berdiri dan mengangkup wajah polos pacarnya.


"Kamu gak usah terburu-buru, cukup tahu kalau aku cinta sama kamu,"


Fietta akhirnya mengangguk dan Arbian terkekeh.


"Kamu engga mau kasih aku hadiah?" Tanya Arbian dengan senyum tertahan.


"Hadiah apa?" Tanya Fietta tidak mengerti.


Kemudian Arbian menunjuk pipi kirinya dan Fietta yang mengerti maksud pria itu langsung salah tingkah dan menunduk.


"Hei aku nepatin janji aku untuk perlahan cinta sama kamu, hadiahnya mana?"


Cup..


Dengan cepat Fietta berjinjit dan mengecup pipi kiri Aebian membuat pria itu mematung karena terkejut.


"Apa ini? gak kerasa," Ucap Arbian tersadar dari rasa terkejutnya.


Fietta menatap tak percaya, bahkan ia menahan malu tadi tapi tidak terasa katanya?.


Mendengus kemudian Fietta membalikkan badan ingin pergi tetapi tertahan karena Arbian segera memeluknya dari belakang.


"Kamu ngambek?" Tanya Arbian terkekeh geli.


"Ayo anter pulang," Ucap Fietta dengan kesal.


Arbian yang gemas mengecupi puncak kepala Fietta berulang kali dan kemudian membawa wanita itu menuju pintu dengan masih di posisinya, memeluk dari belakang.


Randi yang ingin masuk ke kamar menghentikan langkahnya saat melihat Arbian dan Fietta keluar dengan Arbian yang memeluk Fietta walau wanita itu memberontak meminta di lepaskan.


"Nikah buruan yan,"


Ucapan Randi membuat keduanya terdiam dan menoleh pada Randi yang mencibir.

__ADS_1


"Kamu mau?" Tanya Arbian tersenyum jail pada Fietta dan kemudian mendapat cubitan di pertunya oleh wanita itu.


Randi yang jengah akhirnya masuk ke dalam kamar dan lebih memilih mengganggu istrinya yang sudah halal.


__ADS_2