
Randi di balik mejanya tampak melihat jam di dinding, sudah beberapa jam berlalu namun Arbian belum keluar dari ruangan bahkan ini sudah mendekati jam makan siang.
Akhirnya Randi memutuskan untuk menelepon seseorang.
"Tolong bawakan makan siang dua,"
Setelah mematikan telepon Randi kembali melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa menit tampak seorang karyawan datang membawa dua bungkus plastik berisi makanan.
Randi berjalan menuju ruangan Arbian yang berada di depan ruangannya, walau hanya sekretaris Randi mempunyai ruangan yang tidak jauh berbeda dengan isi ruangan Arbian. Bedanya Ruangan Randi tidak ada ruang lain selain kamar mandi.
Randi tampak mengetuk pintu itu beberapa kali namun tidak ada sahutan dari dalam akhirnya ia membuka sendiri dan melihat ruangan itu kosong.
Randi berjalan menuju pintu lain di dalam ruangan itu dan menemukan Arbian yang tertidur, di ruangan ini memang di jadikan tempat istirahat karena Arbian biasanya lembur.
Mau tidak mau Randi membangunkan Arbian, walau sering kualat tetapi Randi masih peduli dengan sepupunya.
"Yan, bangun yan," Ucapnya menepuk bahu Arbian.
Merasa ada yang mengusik tidurnya Arbian terbangun dan melihat Randi berdiri di samping tempat tidurnya.
"Lo harus makan yan, hari ini kita lembur,"
Arbian tidak menjawab dan bangun dari kasur. Ia membuka pintu dan melihat dua bungkus makanan di meja.
Randi keluar dan melihat Arbian berdiri saja lantas mendorong pria itu untuk duduk di sofa.
"Gue bilang makan yan, mak lo ngamuk sama gue kalo lo kurus,"
Arbian kembali tidak menjawab tapi matanya menatap tubuh sendiri kemudian tubuh Randi.
Mengetahui maksud tatapan Arbian, Randi mendengus keras merasa tidak terima.
"lo jangan bandingin tubuh kita dong yan," Keluh Randi, ia mengakui jika Arbian mempunyai tubuh atletis dan berbentuk kotak-kotak yang di sukai banyak wanita.
Setelah itu keduanya makan dengan tenang dan memulai lagi pekerjaan yang tertunda.
Arbian menyelesaikan pekerjaan sampai sore dan keluar dari ruangannya.
Melihat Arbian keluar dengan membawa jas juga kunci mobil Randi menghampiri.
"Lo mau ke mana?" Tanya Randi penasaran.
"Ada urusan, kalau ada berkas lain taruh aja di meja," Ucapnya kemudian berjalan menuju pintu lift.
Saat sampai mobil Arbian menghubungi seseorang untuk menentukan tempat bertemunya mereka dan setelah itu melajukan mobilnya.
__ADS_1
Arbian berhenti di sebuah restoran dan memasukinya. Ia mengedarkan pandangan dan mendekati seseorang yang duduk sendirian memainkan ponsel.
"Yon,"
Pria yang sedang memainkan ponsel itu mendongak dan melihat orang yang sedari tadi di tunggu.
"Eh, baru dateng yan?" Sapanya dan mengode Arbian agar duduk.
Setelah Arbian duduk dan memesan minuman ia menatap Dion, sahabat sekaligus tangan kanannya dalam mengurus perusahaan yang ia rintis dari awal.
"Gimana kabar perusahaan?" Tanya Arbian, biasanya ia mengecek perkembangan perusahaan seminggu sekali atau dua kali tetapi dalam seminggu ini perusahaan keluarganya sedang ada sedikit masalah membuatnya harus lembur beberapa hari belakangan.
"Santai, kita cuma sedang negosiasi dengan beberapa perusahaan besar, minggu depan gue akan bawa bebeberapa dokumen ke apartemen," Ucap Dion santai menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Arbian mengangguk, dan mulai mengobrol biasa tanpa membahas masalah pekerjaan.
Sebenarnya keduanya berteman di awal SMA semenjak Arbian menolong Dion dari pengeroyokan, sifat berbeda dari keduanya tidak membuat persahabatan mereka renggang.
Arbian yang mempunyai sifat serius sejak kecil merasa risih awalnya dengan kenakalan Dion yang sering ikut tawuran bahkan keluar masuk BK karena bolos.
Tetapi Arbian lambat laun mulai terbiasa dan mengetahui jika kenakalan Dion pelampiasan kemarahannya pada ayahnya yang gila akan wanita.
"Lo suka sama anak pemilik perusahaan Kusuma," Tanya Dion.
Arbian menatap tajam Dion, pria itu pasti mencari tahu semua tentang Fietta.
"Gak banyak cuma beberapa seperti tempat tinggal, kampus, teman dekat, dan juga mantan pacar,"
Arbian menoleh saat mendengar kata terakhir, mantan?
Melihat ekspresi Arbian Dion terkekeh, jarang baginya melihat Arbian tertarik dengan sesuatu.
Dion bahkan masih ingat saat mereka lulus sekolah hal pertama yang membuat Arbian tertarik adalah membangun perusahaan besar dan bisa menyaingi perusahaan keluarganya, dulu Dion tertawa saja dan menanggapi dengan remeh.
Tapi siapa yang sangka jika kepulangan Arbian dari kuliah di luar negeri adalah statusnya yang seorang direktur utama sebuah perusahaan yang di bangunnya sendiri dengan bantuan paman Jeri selama setahun lebih.
"Kali ini masih berambisi?" Tanya Dion yang hafal sifat Arbian yang selalu ingin menang.
Arbian tidak menjawab dan Dion yang sudah tahu jawabannya tidak lagi bertanya ataupun membahas lagi.
*
Carla dan Fietta berada di mobil dan menuju pulang saat sudah puas bermain.
drtt...drttt...
Getaran di ponselnya membuat Carla menoleh dan segera menganglat saat nama mommynya tertera.
__ADS_1
"Yes, mom"
"kamu di mana? cepat pulang daddy nungguin," suara wanita baya itu cemas.
"Sabar ya mom, aku harus anterin temen dulu pulang,"
"Baiklah, hati-hati di jalan sayang,"
Setelah sambungan terputus Carla menaruh ponselnya dan kembali fokus pada jalanan.
"Car, berhenti di depan situ," Ucap Fietta menunjuk sebuah minimarket.
"Ada yang mau di beli?" Tanya Carla saat sudah berhenti di sana.
"Iya, kamu duluan aja, ini udah deket dari rumah," Ucapnya Karena rumah Carla berlawanan arah dari rumahnya.
"plis deh ta, gue bisa anter lo sampe rumah dan lagi ini udah malem pasti gak ada kendaraan umum,"
"Aku pesen ojek online kalo gitu, beneran car, aku juga mau sendirian sekrang," Yakin Fietta menatap Carla serius.
Menghela nafas Carla akhirnya mengangguk dan keduanya saling melambaikan tangan sampai akhirnya mobil Carla hilang dari pandangan Fietta.
Fietta memasuki minimarket dan membeli minuman, saat di luar ia mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi ojek online.
"Ngapain,"
Suara itu mengagetkan Fietta sampai ponselnya jatuh ke lantai.
Arbian yang melihat segera mengambil ponsel itu dan memberikan pada Fietta yang mengelus dadanya, padahal Arbian hanya bertanya tidak bermaksud membuat kaget.
"Kamu bisa gak kasih tanda kalo dateng?" Kesalnya menatap tajam Arbian.
"Tanda? contohnya?" Tanya Arbian yang tidak mengerti.
"Ya apa kek, kreatif dong jangan nanya," dengusnya.
Arbian menggelengkan kepala, luar biasa sekali kesalnya wanita itu.
Fietta mengambil ponselnya dan melihat hanya layar hitam saat di hidupkan.
"Yah mati lagi," keluhnya menepuk-nepuk layar ponselnya berharap kembali hidup.
"Ayo, saya antar pulang,"
Fietta mendongak dan kembali memukuli layar ponselnya.
Arbian yang melihat itu mulai jengah dan menarik tangan Fietta kemudian membawanya ke mobil yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri karena restoran tempatnya bertemu Dion bersebelahan dengan minimarket.
__ADS_1