
Arbian kembali ke rumah sakit dan tidak beranjak dari dalam mobil saat sudah berada di parkiran.
Beberapa menit diam akhirnya Arbian mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
"Halo bro," Sapa seseorang di seberang.??????
"Cari tahu tentang kecelakaan nyokap gue," Ucap Arbian dengan wajah datar menatap depan.
"Oke, yang ini gak gratis ya," Ucap orang itu dengan suara kekehan.
"Hm," Jawab Arbian dan langsung mematikan sambungan.
Arbian menatap pintu masuk rumah sakit dan melihat wanita yang menolong ibunya keluar dengan ponsel di telinganya dan berjalan cepat menuju sebuah mobil.
Akhirnya Arbian keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit di mana ibunya berada.
Sandra yang akan tidur melihat ke arah pintu terbuka dan melihat Arbian yang baru datang.
"Kamu dari mana? ada sesuatu di kantor?" Tanya Sandra kembali duduk di ranjang saat Arbian mendekatinya.
"Alu ninggalin Fietta tadi di parkiran," Jawab Arbian jujur.
Sandra merasa terkejut saat tahu bahwa Fietta juga ikut bersama Arbian dan tidak bisa untuk tidak memukul lengan anaknya itu.
"Kamu ini! jadi maksud kamu Fietta di tinggalin gitu aja dan engga di kasih tahu kamar rawat mamah?" Tanya Sandra merasa kesal.
Arbian mengangguk dan itu membuat Sandra memghela nafas lelah.
"Terus di mana dia sekarang?"
"Aku antar pulang,"
Arbian meraih jeruk di meja nakas kemudian mengupasnya dan memberikan pada Sandra.
"Apa? mamah sudah kenyang makan jeruk dari tadi karena nunggu kamu," Sinis Sandra pada putra semata wayangnya itu.
Mendengar itu akhirnya Arbian memakannya sendiri dengan wajah tenang, mengabaikan wanita paruh baya itu mencak-mencak karena kesal.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan kencang membuat Sandra terkejut dan menengok.
Di depan itu terdapat nenek Dian dengan wajah khawatir begitu juga tante Anggita.
"Ibu?" Ucap Sandra bingung karena ia memang tidak ingin mengabari ibunya agar tidak khawatir dan bisa mempengaruhi kesehatannya.
"Anak nakal ini, kenapa gak kabarin hah?! dan kamu juga Arbian! nenek harus dapat kabar ini dari kenalan nenek yang kerja di sini karena kamu tidak bilang" Omel nenek Dian menatap tajam ibu dan anak itu.
Arbian tidak menjawab, ia berdiri dari duduknya kemudian memberikan ruang pada neneknya untuk duduk.
Nenek Dian langsung duduk dan memperhatikan dengan lekat kondisi putrinya.
"Aku gak papa bu," Ucap Sandra mencoba menenangkan.
__ADS_1
"Lihat dahi kamu yang di perban itu dan juga tangan kamu yang lecet, segitu kamu bilang gak papa?"
Sandra segera menutup mulut dan tidak lagi bicara. Anggita yang berada di belakang nenek Dian menatap tak berdaya karena tidak bisa membantu adik iparnya dari sang mertua.
"Gita, kamu hubungi suami kamu dan suruh dia segera datang ke sini," Ucap nenek Dian ke oleh ke arah belakang.
Anggita menatap wajah memelas Sandra tetapi akhirnya tetap mengeluarkan ponselnya.
Arbian diam saja bersandar di tembok, ia bisa memastikan jika nenek Dian pasti akan 24 jam menjaga sang ibu di sini.
"Arbian tolong antar tante kamu pulang, kasihan Dhea sendirian di rumah," Pinta nenek Dian dan Arbian segera keluar di ikuti oleh Anggita yang setelah berpamitan segera keluar.
"Yan, nenek berpikir ini bukan murni kecelakaan biasa," Ucap Anggita saat keduanya berjalan di lorong rumah sakit.
Arbian menghentikan langkahnya dan berbalik melihat tante Anggita yang berwajah cemas.
"Hm, aku sedang cari tahu,"
Sampai di parkiran mereka berpapasan dengan paman Jeri yang baru datang.
"Mas," Ucap tante Anggita begitu melihat suaminya datang.
"Aku akan urus ibu supaya tidak over protektif pada Sandra,"
Tante Anggita mengangguk dan akhirnya masuk ke dalam mobil.
Arbian menghentikan mobilnya dan ikut turun bersama tante Anggita untuk masuk ke dalam.
"Mahhhh," Dhea yang sedang asyik dengan ponsel segera berlari memeluk sang ibu.
"Hai little girl,"
Dhea terkekeh kecil dan menarik tangan ibunya untuk duduk bersama di ruang keluarga.
Arbian masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa, ia mengeluarkan ponselnya dan melihat kontak Fietta yang tidak ada pemberitahuan pesan baru.
Arbian menatap nama Fietta beberapa saat hingga akhirnya menelpon nomor itu.
Deringan berlangsung lama sampai akhirnya terhubung, Arbian merasakan suara wanita itu seperti bangun tidur.
"Halo?"
Arbian diam, dari suaranya sepertinya Fietta sudah tidak marah lagi.
"Fietta," Arbian menyebut nama itu pelan.
Hening, Fietta tidak kembali bersuara saat mendengar suara Arbian.
"Maaf," Ucap Arbian lagi.
"Aku bisa pertimbangin lagi, tapi aku pengen seblak apalagi banyak cekernya dan pedas,"
__ADS_1
Arbian tidak bisa menahan senyum dan segera bangkit dari duduknya.
"Sepuluh menit cukup?" Tanya Arbian namun tetap melangkah keluar.
Tante Anggita yang masih berada di ruang keluarga mendongak saat mendengar langkah seseorang dan melihat Arbian berjalan cepat dengan senyuman di wajahnya.
"Om Arbian kenapa?" Tanya Dhea yang jarang melihat paman kecilnya tersenyum seperti itu.
"Hust.. jangan buat gosip,"
**
Setelah menutup telpon Fietta kembali merebahkan diri di ranjang dan menatap langit-langit kamar.
Ia kembali teringat bagaimana Arbian segera pergi untuk memenuhi pesanannya dan itu membuatnya senang.
Hampir sepuluh menit Fietta mendengar suara bel dan segera pergi menuju pintu untuk membuka, kebetulan bi Ani sedang pergi belanja.
"Wah," Ucap Fietta saat melihat seblak di hadapannya, ia segera mengambilnya dan akan menutup kembali pintu namun di tahan seseorang.
"Kamu belum kasih bayaran," Ucap Arbian menahan pintu itu dengan kaki.
Fietta mengangkat dagu angkuh dan menyimpan seblak itu di belakang punggungnya karena takut akan di ambil lagi oleh pria itu.
"Kamu gak ikhlas? ini kam sebagai bentuk kompensasi," Ucap Fietta mencoba bersikap angkuh.
Arbian tidak menjawab, ia semakin maju dan membuat Fietta mundur sampai pintu itu kembali terbuka lebar.
"Aku gak nyuruh kamu masuk," Ucap Fietta namun di abaikan oleh Arbian yang kini duduk di sofa ruang tamu.
Fietta berdecak sebal dan kembali menutup pintu kemudian duduk di seberang Arbian lalu menaruh plastik seblaknya di meja.
"Kamu cuma beli satu?" Tanya Fietta melihat isi di dalamnya.
"Hm, kurang?"
"No, aku tanya buat kamu," Ucap Fietta dan berdiri untuk mengambil mangkuk di dapur.
"Aku gak suka," Jawab Arbian jujur.
Fietta mencibir mwndengar perkataan Arbian dan kembali duduk untuk menikmati seblaknya.
"Hidup kamu kurang lengkap kalau begitu,"
"Hm, tadinya ia, tapi sekarang semenjak kenal kamu aku merasa lebih dari lengkap,"
Fietta menghentikan tiupan pada kuah seblaknya dan memandang horor pria di depannya yang bicara terlalu manis tetapi dengan wajah tanpa ekspresinya itu.
"Kamu sadar kata-kata kamu seperti gombalan?" Tanya Fietta yang merasa aneh.
Arbian mengangguk dengan semangat.
__ADS_1
"Kamu suka?" Tanya Arbian, Fietta segera menggeleng dengan tegas.
"Gak usah! kamu simpan rapat-rapat bakat kamu yang satu ini," Ucap Fietta dengan wajah serius.