World For You

World For You
BAB 21


__ADS_3

Setelah makan makan Arbian mengantar Fietta pulang, di dalam mobil keduanya tampak tenang, Fietta menatap lampu-lampu jalan dan membiarkan Arbian yang sesekali melirik ke arahnya.


Sampai di depan rumah Arbian turun lebih dulu membuat Fietta yang tadinya ingin membuka pintu menjadi terdiam.


Setelah Fietta keluar Arbian mengambil paper bag yang di beli tadi dan memberikannya pada Fietta.


"Terima kasih," Ucap Fietta dengan mengambilnya.


"Besok aku jemput jam 8,"


Fietta hanya mengangguk dan melambaikan tangan saat mobil itu perlahan berjalan dan hilang dari pandangannya.


Merasakan angin malam makin dingin Fietta berlari kecil memasuki halaman rumah dengan memeluk tubuhnya sendiri.


Saat membuka pintu pandangan Fietta segera bertemu dengan mata tanpa emosi papahnya, Dani tampak duduk tegap dan hanya diam memandang dingin Fietta.


"Pa-papah," Ucap Fietta gugup, walau mereka jarang bertegur sapa tetapi Dani tidak memperbolehkan Fietta pergi sampai tengah malam.


"Masuk kamar," Itu hanya perkataan ringan, tetapi Fietta tahu perkataan itu adalah perintah.


Tanpa kata Fietta masuk ke dalam kamar dengan gugup, ia merilekskan diri sebelum menaruh tas dan juga barangnya di meja.


Fietta mengambil piyama di lemari dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


*


Pagi hari Fietta bersiap-siap dan menatap kagum dress yang di pesan Arbian. Ia menyukainya.


Setelah selesai Fietta menuruni tangga dan pergi ke dapur, terlihat bi Ani yang sedang mencuci piring membelakanginya.


"Bi,"


Bi Ani menoleh dan mendapati wanita cantik dengan senyum lebar.


"Masyaallah, cantik sekali non Fietta," Selama ini Fietta tidak pernah memakai make up seperti sekarang, biasanya hanya bedak dan lip tint.


Fietta tersenyum semakin lebar, bi Ani menarik lengan Fietta menuju meja makan.


"Sarapan dulu non, bibi buatin roti,"


Fietta menurut dan duduk di kursi kelihat bi Ani mengoles selai pada roti kemudian menaruhnya di piring Fietta.


Saat asyik makan bel rumah berbunyi, Fietta dan bi Ani kompak saling pandang, melihat Fietta akan berdiri bi Ani menghentikannya.


Bi Ani berjalan dan membuka pintu, pria tampan kemarin yang ada di hadapannya namun penampilan sekarang entah mengapa lebih memukau karena pakaiannya rapih dengan jas yang pas di tubuhnya.


"Pagi bi," Sapa Arbian dengan sopan.

__ADS_1


bi Ani tersenyum dan membalas sapaannya sebelum menyuruh pria itu masuk.


Arbian melihat postur Fietta dari belakang karena wanita itu duduk membelakangi pintu.


"Non yang jemput sudah datang,"


Mendengar itu Fietta menoleh ke belakang dan melihat Arbian yang tampak rapih dengan pakaiannya kini berdiri tegak.


Fietta dengan cepat meminum susunya kemudian berdiri dan mendekati Arbian.


"Yuk," Ajak Fietta tetapi Arbian tampak tidak mendengarkan dan hanya menatap lurus ke depan.


Fietta mengikuti pandangan Arbian dan melihat Dani berdiri tidak jauh dari mereka yang sepertinya baru keluar dari ruang kerja.


Entah mengapa Fietta merasa aura dingin di mata papahnya yang kini menatap tajam Arbian walau pria itu tampak tenang seperti biasa.


Arbian jalan mendekati Dani sebelum Fietta bisa menghentikan, saat sampai di depannya Arbian tersenyum tipis.


"Maaf om, saya minta izin bawa Fietta pergi," Ucapnya walau tidak di jawab oleh Dani yang kini menatap anaknya yang tampak gelisah.


Tanpa mengucapkan apapun Dani pergi menuju kamarnya meninggalkan Fietta yang kebingungan, Arbian mendelikkan bahu kemudian menghampiri Fietta.


Keduanya memasuki mobil dan diam seperti biasa di sepanjang jalanan.


Memakan waktu hampir satu jam akhirnya mobil itu memasuki sebuah rumah yang tampak di hias dengan sangat cantik, apalagi rumah itu mempunyai halaman luas yang membuat tempat itu lebih megah.


Arbian turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Fietta, keduanya menjadi pusat perhatian apalagi keduanya tampak serasi dengan warna pakaian yang sama.


Selama acara berlangsung Fietta tampak tenang duduk di samping Arbian yang melihat dari jauh bagaimana dua keluarga itu tampak berbincang dan berfoto bersama.


"Kamu gak ikut gabung?" Tanya Fietta kemudian tangannya mengambil minuman yang di sodorkan oleh seseorang.


"Males, rame," Jawab Arbian dan mengambil minuman dari tangan Fietta kemudian meminumnya.


"Ish, kamu bisa ambil sendiri," Kesalnya memukul paha Arbian di sampingnya karena meminum gelas bekas dirinya apalagi Arbian menghabiskan minuman itu.


Saat Arbian akan berbicara tampak wanita paruh baya dengan senyum lebar menghampiri mereka.


"Halo nak bian," Sapa wanita itu membuat Arbian berdiri begitupun Fietta.


"Halo tante," Jawab Arbian tanpa senyum dan Fietta dengan senyum canggung karena wanita itu menatapnya dari ujung kepala sampai kaki dengan pandangan tak enak.


"Tante tadinya ingin kenalkan kamu dengan anak tante tapi dia hari ini sibuk di rumah sakit, biasa lah pekerjaan dokter memang sibuk hahaha," Ucap Wanita paruh baya itu dengan tawa tetapi matanya sesekali melirik Fietta.


"Oh iya, ini kerabat kamu? kok tante gak pernah liat?" Tanya wanita itu menunjuk Fietta karena Arbian hanya diam saja.


"Maaf tan, ini pacar saya, Fietta," Ucap Arbian dengan merangkul bahu Fietta membuat tubuh Fietta menegang bahkan Arbian sendiri menyadari itu.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu terdiam kemudian tatapannya menelisik wajah Fietta, ia tidak bisa mengomentari wajahnya karena memang cantik walau baginya anaknya tetap yang paling cantik.


"Oh pacar kamu ternyata, maaf tante sangka kamu sendiri, btw kamu kerja apa?"


Fietta melirik Arbian di sampingnya yang tampak santai menatap sekeliling sebelum kembali menatap ke depan dengan senyum canggung.


"Saya masih kuliah bu,"


Tampak wanuta paruh baya itu tersenyum miring dan ketika ingin kembali berbicara Arbian menrik tangan Fietta pergi.


"Maaf tan, kita mau foto keluarga dulu," Ucap Arbian menarik Fietta mendekati keluarga.


"Jangan di tanggapin," bisik Arbian saat mereka menjauh.


"Kamu kenal sama ibu itu?" bisik Fietta, keduanya berjalan dengan saling berbisik, bahkan Arbian sengaja memiringkan tubuhnya ke arah Fietta agar sejajar.


"Itu tetangga bella, aku beberapa kali ke sini sama Randi dan ketemu dia,"


Fietta mengangguk dan tidak lagi bertanya sampai akhirnya mereka berada di lingkaran dua keluarga itu.


Wanita dengan wajah yang hampir mirip dengan Bella tersenyum ramah kepada Fietta. Arbian berbisik jika itu ibunya Bella, dan pria itu juga memberi tahu beberapa orang kerabatnya pada Fietta.


Acara itu selesai beberapa jam kemudian, tampak beberapa kerabat jauh sudah undur diri karena waktu sudah sore.


Arbian mendekati Fietta yang duduk sendiri memainkan ponsel, tadi Arbian harus mengantar semua kerabatnya ke depan saat pulang dan meninggalkan Fietta sendiri.


"Yuk pamik sama yang lain,"


Fietta mendongak dan melihat Arbian di depannya sebelum berdiri dan mengikuti Arbian mendekati keluarganya.


"Nek, mah, aku sama Fietta pamit pulang duluan," Ucap Arbian membuat semua yang berada di ruangan menoleh.


"Ah iya, kamu pasti lelah sampai nanti sayang," Ucap nenek dan mencium pipi Fietta begitu pun dengan Sandra dan juga Anggita.


Setelah selesai berpamitan Arbian dan juga Fietta berjalan menuju parkiran mobil, saat mendekati mobil langkah Fietta terhenti saat sandalnya terputus.


Melihat Fietta berhenti tiba-tiba Arbian menoleh dan mendapati sandal Fietta yang terputus.


"Kamu gak papa?" Tanya Arbian berjongkok di hadapan Fietta.


"Engga kok, cuma sandalnya yang putus,"


Arbian melihat jarak mobilnya yang tidak terlalu jauh tetapi jalanan yang mereka lalui sedari tadi berbatu besar.


Fietta terkejut saat Arbian membalikkan badan dengan posisi masih berjongkok.


"Kamu ngapain?"

__ADS_1


"Aku gendong sampai mobil," Jawab Arbian yang masih pada posisi awal.


Akhirnya dengan terpaksa Fietta menaiki punggung Arbian. Ia membenamkan wajahnya di bahu lebar Arbian karena malu saat ada beberapa orang yang memperhatikannya tanpa memperdulikan Arbian yang kini menahan tawa.


__ADS_2