
Setelah Fietta melihat Arbian pulang ia kembali masuk ke dalam untuk makan malam. Sebenarnya Fietta mengajak Arbian makan bersama namun Arbian menolak karena akan makan malam di rumah nenek Dian.
Sampai di meja makan Fietta melihat Dani yang sudah duduk dengan meminum kopi.
Dani melirik sebentar anaknya yang baru datang kemudian kembali menyesap kopi.
Ruang makan lagi-lagi hening, Fietta tidak punya bahan obrolan jika dengan papahnya begitu pun Dani yang tidak suka berbasa-basi.
Setelah makan malam yang suram Fietta kembali ke kamar dan memilih membaca buku sebelum tidur.
*
Arbian mengemudikan mobilnya menuju rumah nenek Dian karena wanita tua itu terus menelponnya menyuruh datang.
Sampai di parkiran Arbian turun dari mobil dan berjalan santai menuju pintu.
Ruang keluarga seperti biasa akan ramai. Arbian ikut duduk bersama keluarganya di samping nenek Dian yang sedang menggendong cucu perempuannya.
"Hilang kemana lo?" Tanya Randi sengit saat melihat Arbian baru datang setelah sore tadi menghilang tiba-tiba.
"Ketemu pacar," Jawab Arbian santai walau kini mata keluarganya menyorot ke arahnya.
"Kok gak di ajak kesini?" Tanya nenek Dian memandang Arbian.
Arbian menoleh sebentar dan langsung menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Hm, papahnya galak,"
Nenek Dian mengernyitkan dahi.
"Jangan bilang kalau kamu gak di restuin?"
Arbian hanya diam tidak menjawab dan membuat nenek Dian menghela nafas dan dengan kesal memukul pahanya membuat Arbian mengangkat alis.
"Kamu sih! muka kamu datar gak ada ekspresi yang bisa meyakinkan ke dua orang tuanya," Kesal nenek Dian karena berpikir kalau Arbian tidak bisa mengambil hati calon mertuanya dengan benar.
Arbian menatap tajam Randi yang kini tersenyum mengejek padanya.
"Sudah, sudah, ayok makan malam," Ajak Paman Jeri yang sedari tadi hanya diam saja.
"Ya aku lapar," Ucap Dhea, adik Randi yang membuat satu keluarga itu tersenyum dan segera menuju meja makan.
Makan malam seperti biasa akan ramai karena pembicaraan antara Randi yang punya banyak topik dengan nenek Dian yang memang suka mengobrol.
Arbian makan dengan tenang dan hanya menyimak apa yang di bicarakan.
Setelah makan malam nenek kembali ke kamar karena kelelahan.
Arbian pamit pada paman dan tantenya untuk kembali ke apartemen.
"Hati-hati sayang," Ucap Anggita tersenyum dengan menepuk pelan bahunya.
Arbian mengangguk kemudian kambali ke dalam mobil untuk melajukan menuju apartemen.
__ADS_1
Sampai di basement Arbian memasuki lift dan berhenti di lantai temapt tinggalnya.
Saat sampai Arbian langsung masuk ke kamar dan mandi karena merasa gerah.
Selesai bersih-bersih Arbian mengambil ponselnya dan mengirimi pesan selamat malam untuk pacarnya.
"Selamat malam:)"
Arbian merebahkan diri dan tak lama balasan datang dari Fietta.
"Malam juga bi,"
Arbian tersenyum dan menaruh ponselnya kemudian mulai menutup mata karena besok masih akan sibuk.
*
Paginya Arbian bangun seperti biasa dan langsung menuju kamar mandi. Seperti rutinitas setiap hari Arbian akan memakan roti untuk sarapan dan membawa barang-barangnya sebelum berangkat ke kantor.
Saat sudah sampai Arbian berjalan menuju lift dan ikut bergabung bersama beberapa karyawan yang langsung memberi salam saat melihatnya.
*
Fietta berangkat ke kampus dengan supirnya karena punya jadwal bimbingan.
Butuh beberapa jam untuk Fietta bisa keluar dari ruangan dengan menghela nafas karena di dalam sana rasanya membuat ia tertekan.
Fietta bukan anak dengan nilai terbaik namun tetap saja nilainya terbilang tinggi dan Fietta terus berusaha belajar di perpustakaan.
Saat Fietta ingin keluar dari fakutas ponselnya berdering yang membuat ia menghentikan langkah dan mengambil ponselnya di tas.
"Halo?" Ucap Fietta pelan bertanya-tanya dalam hati siapa yang menghubunginya.
"Fietta, bisa kita ketemu?"
Fietta diam mendengar suara itu, ia memutar otak dan akhirnya tahu siapa yang menghubungi.
"Hero?" Tanya Fietta memastikan.
"Iya, saya ingin bicara sama kamu, bisa kita ketemu hari ini?"
Fietta diam, ia menimbang-nimbang apakah akan menemui Hero atau tidak.
"Kalau kamu sibuk tidak apa-apa,"
Ucap Hero lagi yang membuat Fietta bingung, masalahnya Fietta yakin jika Hero akan membahas tentang Carla tapi sekarang Carla sudah mulai melupakan Hero dan tidak ingin berhubungan dengan pria itu lagi.
"Oke, kamu kirim alamatnya," Ucap Fietta akhirnya.
"Siap, terima kasih," Ucap Hero antusias yang seakan senang.
Setelah mematikan sambungan Fietta menghela nafas dan menghubungi supirnya untuk menjemput.
Fietta berjalan menuju kantin kampus selagi menunggu supir dan membeli minuman.
__ADS_1
"Ta,"
Panggilan seseorang membuat Fietta menoleh dan mendapati Carla yang duduk sendiri dengan melambai ke arahnya.
Fietta mendekati Carla dan duduk di hadapannya.
"Bimbingan?" Tanya Carla dan Fietta mengangguk.
"Kamu?" Tanya Fietta saat melihat senyum misterius Carla.
"Gue... tinggal sidang yeee, akhirnya ya ta tinggal dikit lagi perjuangan gue di sini,"
Fietta ikut tersenyum dengan keantusiasan Carla saat ini dan tidak ingin merusak kebahagiaan Carla dengan membicarakan tentang Hero yang barusan menghubunginya.
"Selamat Car,"
Carla mengangguk dengan senyum bahagianya.
"Gue doain juga semoga lo cepet selesai dan gak di buat susah sama dosen," Ucap Carla menepuk-nepuk tangan Fietta.
Tak lama ponsel Fietta bergetar dan ternyata supirnya baru sampai.
"Car aku duluan ya, supir aku udah datang," Pamit Fietta dan berdiri.
"Yah, kok bentar banget," Ucap Carla mendesah kecewa apalagi belakangan ini ia jarang bertemu Fietta karena sama-sama sibuk.
"Besok kita main kalo gitu," Ujar Fietta.
"Bener? awas kalau bohong,"
Fietta mengangguk kemudian meninggalkan Carla sendiri di kantin.
Fietta mencari mobilnya dan langsung masuk saat menemukannya. Ia memberi alamat yang tadi di bilang Hero pada supirnya.
Seakan ingat sesuatu Fietta mengambil ponselnya dan mengirimi Arbian pesan.
"Aku hari ini di ajak ketemu sama Hero," Tulisnya dan mengiriminya pada Arbian.
Fietta meletakkan ponselnya kembali dan menatap jalanan dari jendela mobil.
Selang dua menit ponselnya bergetar dan melihat Arbian membalas.
Arbian:"Kamu setuju?"
Fietta diam sebentar dan kembali menulis.
"Iya, aku gak enak sama dia,"
Arbian langsung melihat dan mulai mengetik.
Arbian:"Hm, kalau gitu kirim alamat nanti aku nyusul"
Fietta akhirnya mengirimkan alamatnya pada Arbian dan bertepatan dengan itu mobilnya berhenti.
__ADS_1
Fietta turun kamudian menyuruh supirnya untuk pulang duluan dan masuk ke dalam kafe yang di bilang Hero dan menemukan pria itu duduk di dekat jendela dengan membelakanginya.
Fietta mendekat dan Hero yang merasakan ke handiran seseorang segera menoleh. Saat melihat Fietta lah yang datang Hero langsung tersenyum dan mempersilahkan Fietta untuk duduk.