World For You

World For You
BAB 40


__ADS_3

Fietta masih menatap depan, lebih tepatnya pada pria di kursi roda yang mungkin umurnya tidak berbeda jauh dari papahnya.


Fietta tersadar saat semua tamu tampak bertepuk tangan dan berteriak kepada pengantin.


Fietta kembali menoleh pada Arbian dan melihat pria itu mulai berwajah tenang dan datar, lengan kirinya tetap merangkul di sekitaran bahunya.


Saat melihat ke depan Fietta bertatapan dengan Sandra yang tersenyum lembut kemudian membisikkan sesuatu pada pria yang mungkin suaminya, pikir Fietta.


Fietta kini mulai berpikiran aneh karena saat ini pria di kursi roda itu melihat ke arahnya, baru ia sadari jika mata Arbian sangat mirip dengan pria itu.


"Aku ambilin minum," Ucap Arbian tiba-tiba membuat Fietta menoleh dan mengangguk, ia kemudian memperhatikan Arbian yang perlahan menjauh.


Fietta mendengar namanya di panggil dan menoleh melihat nenek Dian yang melambai meminta mendekat.


Akhirnya Fietta bangun dan mendekati nenek Dian yang masih berada di sekitaran Randi dan Bella.


"Kita foto dulu," Ajak nenek Dian menarik tangan Fietta agar berdiri di sampingnya.


"Tapi nek Arbian di sana," Tunjuk Fietta pada Arbian yang kembali ke tempat duduknya dengan membawa dua gelas.


"Arbian mana mau di ajak foto, sudah biarkan saja," Ucap nenek dan mulai berpose saat juru kamera memberi aba-aba.


Fietta baru sadar jika di samping kanannya terdapat kursi roda dan juga mamah Sandra setelah selesai membuat Fietta akhirnya menyapa keduanya.


"Halo om, tante," Sapa Fietta dengan senyum.


"Hai sayang, hari ini tambah cantik aja," Puji Sandra dengan senyum lembut.


Fietta tersenyum dan matanya beralih pada orang di samping tante Sandra, Sandra yang melihat tatapan Fietta segera sadar.


"Ah iya tante lupa kenalin, ini om Julian, papah Arbian,"


Walau Fietta sudah menduga ia tetap merasa terkejut. Apalagi selama ini keluarga besar Arbian tidak pernah mengungkit soal papah Arbian.


"Halo om, saya Fietta," Sapa Fietta menundukkan kepala.


"Hm, saya tahu," Ucap Julian tanpa ekspresi.


Mungkin jika Fietta tidak mengenal Arbian dengan baik ia akan berpikir jika om Julian tidak menyukainya, tetapi Fietta tahu itu adalah ciri khas keduanya yang memang tidak bisa di ubah.


"Tante rasa kamu harus pergi, macan kamu bisa marah,"


Perkataan tante Sandra membuat Fietta mengernyit dan mengikuti arah pandang wanita cantik itu yang melihat ke arah Arbian yang sedari tadi menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


Akhirnya Fietta pamit kemudian berjalan mendekati Arbian.


Arbian menyodorkan minuman yang sedari tadi di pegangnya pada Fietta dan kembali menyesapnya.


Menerima minuman itu Fietta kembali duduk dan melirik sekilas Arbian yang tampak biasa saja.


Acara berlanjut dengan ramai, apalagi Randi secara khusus menyiapkan musik koplo untuk berjoget bersama tamu yang lain.


Fietta tertawa melihat bagaimana Randi dengan asyik mengajak beberapa tamu untuk ikut maju dan bergoyang bahkan nenek Dian di paksa Randi untuk bergabung.


Bella yang juga tertawa tampak melihat Fietta dan mendekati.


Fietta yang tahu akal Bella segera mendekat pada Arbian sampai pria itu refleks merangkul bahunya.


"Ayok Fi," Ajak Bella dengan menarik-narik tangan Fietta yang berada di pelukan Arbian.


Fietta menggelengkan kepala karena merasa malu.


"Kalau gitu satu gratis satu," Ucap Bella ikut menarik tangan Arbian dan akhirnya membuat dua orang itu bangun dan bergabung dengan banyak orang yang berjoget.


Fietta menutup wajahnya karena malu dan mengintip Arbian dari sela-sela jarinya dan hanya melihat sikap tenang pria itu, berdiri di sana tanpa melakukan apa-apa.


Arbian menatap Fietta yang masih menutup wajahnya, ia menurunkan tangan wanita itu dan keduanya saling tatapan.


Tiba-tiba musik berganti menjadi pelan dan romatis membuat beberapa pasangan maju untuk berdansa.


Fietta dan Arbian masih saling berhadapan di antara banyaknya pasangan yang berdansa.


Kemudian tangan Arbian perlahan terulur dan berhenti di depan Fietta.


Fietta tahu itu adalah ajakan untuk berdansa, dengan ragu ia menerima dan Arbian mulai mendekatkan tubuh mereka kemudian menyentuh pinggang wanita itu.


Selama ini Fietta tidak pernah berdansa tetapi ia sering melihatnya di film dan mempelajarinya.


Kini secara perlahan Fietta kedua tangannya di pundak Arbian.


Fietta bisa merasakan nafas hangat Arbian di wajahnya dan itu mampu membuat ia berdebar.


Arbian tersenyum tipis dan mendekatkan wajahnya sampai hampir tidak tersisa jarak di antara keduanya bahkan membuat Fietta melebarkan mata.


"Jantung kamu aman? bunyi nya besar," Bisik Arbian dan di akhiri kecupan di telinga belakang Fietta.


Fietta merasa tubuhnya bergetar dan ingin melepaskan tangan Arbian dari pinggang tetapi pria itu tetap menahan.

__ADS_1


"Bi kamu gak di perbolehkan ngomong," Ucap Fietta dengan kesal.


Aebian terkekeh dan menekan pinggang wanita itu karena gemas membuat Fietta mengaduh kesakitan


Nenek Dian sedari tadi memperhatikan mereka sampai tidak bisa lagi menahan tawa.


Saat musik berhenti Arbian melepaskan tangannya dan membuat Fietta merasa lega.


Saat berbalik ingin pergi Fietta menghentikan langkahnya dan menatap terpaku pada apa yang ada di depannya.


"Itu papah kamu," Bisik Arbian d belakangnya hampir membuat Fietta jantungan


"Tolong jangan muncul tiba-tiba," lesal Fietta memukul bahu Arbian.


Fietta kembali melihat ke arah papahnya yang kini ikut melihatnya juga dan akhirnya ayah dan anak itu saling melihat dengan wajah yang sulit di artikan.


"Arbian, Fietta, kemari," Panggil nenek Dian di depan Dani yang bari datang.


Saat Fietta maupun Arbian sudah berada di antara Dani dan juga nenek Dian, wanita tua itu tersenyum senang.


"Nak Arbian, ini cucu dan mantu saya," Ucap nenek Dian dengan antusias tetapi tidak menayadari hawa dingin di sekitar.


"Hm nek, Fietta sudah kenal,"


Itu bukan suara Fietta, melainkan Arbian yang tetap dengan sikap tenangnya mengabaikan raut panik Fietta saat ini.


"Oh? kamu kenal sayang?" Tanya nenek Dian pada Fietta.


"Ini papah," Jawab Fietta pelan namun nenek Dian bisa mendengar dengan jelas dan terpaku sejenak.


"Pah?" Tanya nenek Dian merasa linglung.


"Fietta anak dari um Dani nek," Jawab Arbian


"Dari kapan?" Gumam nenek Dian namun jelas Arbian mendengar itu.


"Dari lahir nek," Jawab Arbian lagi mendengus kasar.


Nenek Dian benar-benar terkejut dan langsung memukul Arbian dengan kesal tetapi pria itu hanya mendengus tanpa merintih kesakitan.


"Nenek tahu, pasti kamu yang tidak benar mengambil hati orang tua Fietta, ya kan?!" Kesal nenek Dian karena teringat ucapan Arbian yang mengatakan papah dari Fietta sangat galak.


Fietta ingin tertawa namun ia menahan karena selain ada nenek Dian Fietta tidak mungkin melakukan hal itu di depan papahnya.

__ADS_1


__ADS_2