
Mobil berhenti di depan rumah, Fietta menoleh ke arah Arbian yang ternyata menatap ke arahnya.
"Terima kasih," Ucap Fietta di saat mereka masih bertatapan.
Arbian tidak menjawab, masih memperhatikan Fietta membuat Fietta salah tingkah.
"Ka-kalau gitu.. sampai nanti,"
Fietta membuka pintu dan baru kakinya akan melangkah keluar Arbian menarik pelan lengan Fietta membuatnya berhenti dan berbalik.
Arbian diam sebentar kemudian mengucap sesuatu yang sedari tadi ia pikirkan.
"Ayo serius dengan hubungan ini, jangan pura-pura,"
Hening, Mata Fietta menunjukkan keterkejutan dan Arbian dengan tatapan yakin, ia bukan seseorang yang akan menyimpan perasaannya terlalu lama.
"Kamu bercanda?!"
"Saya suka kamu, ayo jalani ini sampai kita bisa saling mencintai,"
Fietta masih menatap mata Arbian, tatapan itu terlihat tulus.
"Kamu gak nanya perasaan saya?".
"Aku, Fietta," Ucap Arbian menekan kata aku.
"Hah?" Tanya Fietta tidak paham.
"Jangan lagi ucap saya tapi aku,"
Fietta mendengus, pria itu masih saja membahas masalah aku-saya. Padahal dia duluan yang bilang begitu.
"Kita mulai dari sekarang, kalau sampai sebulan ini saya tidak serius, kamu bisa memutuskan hubungan ini dan anggap kita tidak pernah mempunyai hubungan," Terang Arbian menggenggam tangan Fietta.
"Kamu cuma main-main," Final Fietta melepaskan tangan Arbian dan hendak berbalik tetapi di tahan kembali oleh Arbian.
"Aku serius, kita jalanin dulu, oke?"
Karena lelah akhirnya Fietta mengangguk tetapi sedetik kemudian sebuah kecupan terasa di pipinya.
"Terima kasih," Ucap Arbian dengan senang tanpa memperdulikan Fietta yang membeku tetapi pipinya memerah seketika.
Fietta masuk ke rumah dengan sisa tenaganya yang hampir habis, bayangan Arbian saat tersenyum dan mencium pipinya terngiang sedari tadi.
Bi Ani yang melihat nonanya linglung segera mendekati dan menepuk bahunya.
"Non Fietta," Panggil bi Ani.
Fietta mendongak dan mendapati tatapan penasaran bi Ani.
__ADS_1
"Kenapa bi?" Tanya Fietta setelah pulih dari linglungnya.
"Dari tadi saya perhatiin non Fietta senyum-senyum mulu, hayo ngaku non Fietta ada bakwan ya sama mas-mas tadi pagi,"
"Kok bakwan sih bi?" Tanya Fietta heran.
"Ya kan kreatif bibi sendiri, gimana? keren gak?"
Fietta menggelengkan kepala dengan tingkah bi Ani yang walaupun umurnya hampir 50 tahun tetapi tidak ingin ketinggalan zaman.
"Bi aku ke kamar dulu ya," Pamit Fietta dan segera menyingkir takut di tanya berbagai macam lagi.
Sampai di kamar Fietta memutuskan untuk mandi dan menghapus sisa make up yang masih menempel di mukanya.
Saat mengusap wajah Fietta mengingat jika ia menempelkan wajahnya di bahu Arbian yang tertutup jas, wajah Fietta langsung memerah membayangkan noda make up di sana.
*
Arbian masuk ke dalam apartemen ketika sampai, pria itu membuka jas dan hendak menggantungnya tetapi terhenti saat ada noda putih dan merah yang sepertinya lipstik di jasnya.
Arbian terbayang bagaimana Fietta menutup wajahnya sampai masuk ke dalam mobil karena tidak ingin ada yang melihat wajahnya dan itu membuatnya terkekeh geli.
Arbian mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Beberapa menit ia keluar dengan menggunakan handuk yang melilit pinggang, tangannya mengusap-usap rambut yang basah sembari mencari kaos.
Setelah berpakaian lengkap Arbian keluar kamar dan masuk ke ruangan di samping kamarnya yang ia buat menjadi ruang kerja.
Malam itu Arbian menghabiskan waktunya untuk mengecek file dari Dion dan melanjutkan pekerjaannya yang lain.
Pria itu keluar dan membuat makan malam, tidak banyak makanan yang bisa ia masak jadi Arbian memutuskan untuk membuat omlet.
Makan sendiri dalam keheningan sudah biasa di lalui Arbian saat kuliah di luar negeri, itu lah yang membuat Arbian lebih suka tinggal di apartemen dari pada harus seatap dengan Randi yang bermulut mercon.
Selesai makan dan membersihkan piring Arbian kembali ke kamar dan duduk bersandar di kepala ranjang, ia mengecek ponsel dan akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan pada Fietta.
'Sudah tidur?' Ketik Arbian dan menunggu balasan Fietta dengan melihat profil wanita itu, hanya pemandangan langit.
Tak berapa lama Fietta mulai mengetik yang enath mengapa membuat Arbian sedikit gugup.
"Belum, kenapa?"
Tangan Arbian terhenti, ia memikirkan apa yang harus dia bicarakan.
'Besok kuliah? aku jemput kamu'
Di tempat berbeda Fietta tertawa karena Arbian menanyai kuliahnya padahal besok hari minggu.
Melihat tidak ada balasan dari Fietta Arbian kebingungan.
'Gimana? kamu mau?' Ketiknya lagi.
__ADS_1
"Besok minggu kalo kamu lupa, aku ada janji sama teman,"
Arbian menepuk keningnya, ia lupa jika ini hari sabtu.
'Maaf, kalau begitu aku jemput nanti malam,'
Setelah mengetik itu Arbian menaruh ponselnya di meja nakas dan mengambil buku, Arbian memakai kacamata bacanya dan mulai konsentrasi membaca.
*
Pagi hari Arbian harus terbangun lantaran suara bel yang tidak berhenti berbunyi, ia mengumpat dalam hati dan dengan kesal berjalan menuju pintu.
Saat membuka pintu terdapat wajah dengan senyum konyol Randi yang langsung masuk begitu pintu terbuka.
"Yan kita harus habisin waktu berdua hari ini, seminggu lagi gue nikah!" Ucap Randi dan meletakkan plastik berisi dua bubur ayam.
Arbian mendengus kasar dan menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan mata terpejam, Arbian hanya tidur beberapa jam karena tidak bisa tidur.
"Lo diem atau pulang," Ucap Arbian dengan tatapan tajam.
Randi yang awalnya ingin menyetel TV meletakkan kembali remotenya dan mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Gak lagi gak lagi,"
Akhirnya Randi menghampiri Arbian dan membuka bubur ayam yang di belinya, pria itu kemudian mengambil dua sendok di dapur dan meletakkan salah satunya di bubur Arbian.
"Yan gua gak bisa bayangin hidup lu kalau gue jadi nikah," Pungkas Randi yang kini masih melihat Arbian menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dengan mata terpejam.
Mendengar ucapan Randi yang tidak akan mungkin berhenti sampai situ Arbian akhirnya menegakkan tubuh dan menatap bubur ayam itu sebelum mengambil sendok dan mulai memakan.
Randi tersenyum puas seakan melihat anaknya makan dengan bujukannya. Jika Arbian tahu apa yang ada di pikirannya mungkin bantal sofa akan di lempar pria itu.
Selesai makan Arbian kembali ke kamar untuk mandi sedangkan Randi menyetel TV dan menonton kartun bawah laut yang pemerannya bertubuh kotak di lapisi warna kuning pada tubuhnya.
Arbian keluar dari kamar dan menemukan Randi yang terkikik sendiri sembari memeluk bantal sofa dengan tatapan terfokus ke arah TV.
Arbian memilih untuk ke ruang kerjanya sebentar untuk mengecek pekerjaannya karena nanti malam ia akan mengajak jalan Fietta.
Randi yang merasa terlalu lama di ruang TV akhirnya mencari Arbian dan mengetuk pintu ruang kerja sampai sahutan dari dalam terdengar.
"Yan, ayok keluar," Ajak Randi dengan kepala menoleh ke dalam.
Arbian menutup laptop dan menghampiri Arbian, keduanya sampai di basement apartemen dan Randi mengambil alih kemudi.
Mereka sampai di sebuah kafe yang lumayan ramai.
"Nah yan, tempat ini lagi viral, kita harus kesini," Ucap Randi dan turun dari mobil di ikuti dengan Arbian yang hanya mengikut saja.
Keduanya masuk dan langsung menjadi pusat perhatian, Randi dan Arbian mampu membuat semua mata mengarah pada mereka jelas karena wajah keduanya yang sangat tampan.
__ADS_1
Randi berjalan cepat dan duduk di salah satu bangku yang baru di tinggali orang, ia kemudian memanggil Arbian untuk mendekat.
Arbian menghela nafas dan akan berjalan tetapi terhenti saat melihat Fietta berada di sana dengan seorang pria dan keduanya tampak mengobrol santai bahkan tertawa tidak memperhatikan Arbian yang kini tangannya sudah terkepal erat.