World For You

World For You
BAB 25


__ADS_3

Arbian masuk ke dalam kantor saat sudah mengantar Fietta ke kampus, mulai sekarang Arbian yang akan mengantar dan menjemput Fietta jika ada waktu senggang.


Awalnya Fietta menolak keras keputusan Arbian karena Fietta sudah terbiasa berangkat sendiri dengan supir tetapi Arbian datang ke rumahnya bahkan sebelum dirinya bangun.


Hal itu lah yang membuat Fietta akhirnya berangkat dengan Arbian, satu hal yang Fietta tahu dari sikap Arbian, yaitu keras kepala dan harus sesuai dengan apa yang ia mau.


Keluar dari lift Arbian melihat Randi yang duduk di dekat ruangannya seakan memang menunggu kehadirannya.


Melihat Arbian datang dengan cepat Randi berdiri tetapi Arbian langsung masuk ke dalam ruangan membuat Randi mendengus keras tetapi mengikuti atasannya itu ke dalam.


"Yan, gue butuh klarifikasi lo!" Tegas Randi, menatap dengan pandangan menuduh.


Arbian menaikkan alis melihat tingkah Randi yang mulai aneh.


"Lo kenapa gak bilang gue kalau pacaran sama cewek itu,"


Arbian menatap sebentar Randi dan kembali menunduk melihat dokumen di mejanya.


"Fietta, bukan cewek itu," Koreksi Arbian namun masih sibuk dengan dokumen di tangannya.


"Aishh.. ya Fietta atau siapalah itu, lo gak bilang sama gue?" Dengus Randi


"Buat?"


Randi menatap Aebian tidak percaya, buat katanya? astaga selama ini Randi selalu menceritakan semuanya pada Arbian sampai pria tembok itu muak tetapi Arbian diam saja sekarang padanya? hah! tidak bisa di percaya.


"Oke skip yang ini, lu beneran suka sama dia?" Tanya Randi yang berubah serius, ia duduk di seberang meja Arbian yang kini tangannya berhenti saat akan menanda tangani berkas.


"Gue suka dia," Ungkap Arbian kemudian kembali melanjutkan pekerjaan.


"Cinta?" Tanya Randi hati-hati.


Lagi-lagi tangan Arbian berhenti, ia menutup semua dokumen dan meletakkan di samping mejanya kemudian menatap Randi.


"Gue suka sama dia, dan selesai, apa lagi?"


Randi menghela nafas, sepertinya Arbian terlalu totalitas saat menjadi jomblo dari lahir.


"Yan lo tuh bukan anak usia 18 tahun lagi yang harus ngerasain cinta monyet, kita seumuran dan lihat, gue seminggu lagi nikah yan,"


"Lo 25 tahun," Ucap Arbian membuat Randi gereget ingin membanting meja, Randi memang lahir duluan dan mereka beda tahun.

__ADS_1


"Beda 10 bulan doang, oke? bukan setahun," Ucap Randi tak terima, umur mereka tidak jauh.


Arbian hanya mendelikkan bahu sedangkan Randi mencoba mengatur nafasnya agar tidak emosi.


"Intinya kalo lo serius sama dia lo harus bertanggung jawab, jangan mainin perasaan cewek itu," Peringat Randi.


"Hm, gue ngerti," Ucap Arbian.


Randi diam sebentar kemudian berdiri dan keluar dari ruangan Arbian untuk mengecek jadwal hari ini.


Saat makan siang Arbian keluar ruangan dan saat akan memencet tombol pintu lift Randi keluar dari ruangan dan menghentikannya.


"Lo mau kemana yan?" Tanya Randi dengan cepat menghampiri Arbian.


"Makan siang," Jawab Aevian santai dan pas pintu lift terbuka ia masuk di ikuti oleh Randi.


Saat sampai di lobby kantor Randi menghentikan langkah Arbian yang ingin keluar dengan merentangkan tangan di hadapan Arbian.


"No, lo gak boleh keluar, abis jam makan siang kita harus rapat yan," Peringat Randi karena bisa saja Arbian mendatangi kampus Fietta untuk mengajak wanita itu makan, begitu lah isi pikiran Randi.


"Gue mau beli kopi, mercon," Ujar Arbian menepuk keras bahu Randi di hadapannya.


Arbian menyebrang jalan dan masuk ke dalam cafe, tempat di mana ia bertemu dengan Fietta untuk yang kedua kalinya dulu.


Setelah memesan Capucino Arbian kembali ke perusahaan.


Kembali ke ruangan Arbian melihat Randi membawa dua kotak makan siang di tangannya.


Selesai makan mereka menuju ruang rapat karena beberapa rekan sudah menunggu.


*


Fietta keluar dari fakultasnya setelah tugasnya selesai di serahkan, ia berhenti berjalan saat melihat Carla yang duduk di taman depan dengan melamun.


Fietta mendekati dan menepuk pelan bahu Carla membuat wanita itu terkejut.


"Ya ampun ta, lo ngagetin," Ucap Carla mengelus dada.


Fietta tersenyum dan ikut duduk di samping Carla.


"Kamu ngapain bengong di sini?" Tanya Fietta tetapi Carla cemberut.

__ADS_1


"Pusing tahu ta, pengen cepet lulus tapi skripsi belum kelar, orang tua sibuk terus, dan sekarang galau mikirin cowok," Keluhnya menghela nafas lelah.


Fietta mengusap punggung Carla mencoba menenangkan.


"Kamu ada masalah sama Hero?" Tanya Fietta pelan, sebenarnya ia ragu menanyakannya tetapi ternyata Carla dengan cepat mengangguk.


"Lo kan tau gue kalo ngomong frontal, jadi kemarin gue ngajak dia nikah,"


Ucapan Carla tentu saja membuat Fietta terkejut, dari cerita ini dan bagaimana keadaan Carla sekarang Fietta bisa menebak situasi kecil kemarin seperti apa.


"Car pernikahan itu gak bisa asal, kalian harus sama-sama yakin," Nasihat Fietta walau sebenarnya Fietta juga nol besar dalam hal seperti itu.


Carla bertambah lesu dan wajahnya semakin sedih.


"Terus gimana ta? gue beneran cinta sama Hero no kaleng-kaleng, tapi dianya milih pekerjaannya dari pada gue," Carla memeluk sahabatnya dan menitikkan air mata.


Fietta yang juga bingung harus apa hanya bisa menenangkan Carla dan menemaninya. Selama mereka dekat Fietta tidak pernah melihat wajah sedih Carla seperti ini walau kadang sering mengeluh tidak bisa mengerjakan tugas atau banyak di atur oleh orang tuanya.


Setelah merasa lebih baik Carla menarik Fietta menuju kantin untuk membeli es krim. Melihat Carla membeli sekantong besar es krim Fietta menghela nafas pelan tetapi tidak menghentikan karena ia juga pecinta es krim.


Keduanya duduk di salah satu bangku yang di sediakan di kantin dan menikmati es krim mereka.


Carla memandang Fietta yang tampak asyik dengan es krimnya.


"Ta, gue mau tanya,"


Fietta menoleh dan kemudian mengangguk.


"Lo kenapa bisa pacaran sama cowok kemarin?"


Fietta terdiam sebentar kemudian berpikir, setelah di ingat-ingat Fietta juga bingung kenapa menerima Arbian langsung.


"Entah, dia keliatan serius jadi aku nyoba buka hati," Ucap Fietta, tidak mungkin ia bilang jika Arbian memaksanya menerima pria itu.


"Gitu doang?, lo jangan lemah seperti dulu, kalau dia main sama cewek lain pokoknya lo harus putusin tuh cowok kalau perlu gampar sekalian,"


Fietta tertawa mendengar ucapan semangat Carla dan menganggukkan kepala mengerti.


Setelah beberapa es krim di habiskan Fietta dan Carla memilih untuk pulang.


Carla sebenarnya memaksa untuk mengantar Fietta tetapi ternyata supir Carla sudah sampai di area kampus, akhirnya mereka terpisah di parkiran dan Carla pergi dengan mobilnya sedangkan Fietta masuk ke dalam mobil jemputannya.

__ADS_1


__ADS_2