World For You

World For You
BAB 34


__ADS_3

Setelah melihat papahnya masuk rumah Fietta segera keluar dari kamar dan berjalan cepat menuju bawah.


Dani melihat Fietta yang seperti terburu-buru dan berhenti tepat di hadapannya dengan ekspresi canggung.


"Papah kenapa pulang?" Tanya Fietta pelan.


Dani menatap anaknya sejenak dan menjawab dengan santai.


"Ada dokumen ketinggalan,"


Fietta akhirnya menganggukkan kepala kemudian melihat Dani melewatinya dan masuk ke dalam ruang kerja.


Ia menghela nafas dan duduk di sofa ruang tamu, sesekali matanya menatap pintu ruangan papahnya.


Ding..dong..


Fietta menoleh ke arah pintu dan bangkit untuk membuka pintu.


Setelah pintu terbuka Fietta bisa melihat seorang pria dengan kemeja putih tampak menenteng banyak barang dengan muka tanpa ekspresi andalannya.


Fietta tidak bisa berkata-kata apalagi di beberapa merek makanan yang memang ia kenal kini berada di tangan pria itu.


"Gak mau di ambil?" Tanya Arbian dengan mengangkat alisnya.


Fietta tersadar dari rasa terpakunya kemudian dengan segera mengambil alihnya.


Tanpa canggung Arbian masuk bahkan sebelum sang pemilik rumah menyuruh dan duduk di sofa dengan tenang.


Fietta tidak mengatakan apapun dan ikut duduk di sofa seberang Arbian.


"Kenapa banyak banget? kan mubazir," Ucap Fietta menatap beberapa makanan di hadapannya.


"Kamu pilih yang di suka dan sisanya Randi bisa menampung," Ucap Arbian santai.


Fietta terkekeh pelan, beberapa bulan mengenal mereka Fietta sudah mengerti bagaimana sifat Randi dan juga Arbian yang sangat berbeda.


Akhirnya Fietta mengambil seblak dan itu membuat Arbian mengernyit.


"Kenapa?" Tanya Fietta melihat tatapan Arbian.


"Kamu lapar kan? kenapa pilih seblak?" Tanya Arbian karena Arbian merupakan seseorang yang akan lebih mengutamakan nasi kecuali keadaan darurat atau jika sedang memakan mie.


Fietta menatap seblaknya kemudian cemberut.


"Aku mau ini,"


Arbian menghela nafas dan memilih diam saja memandang Fietta yang bangkit dan menuju dapur untuk mengambil mangkuk.


Arbian membuka salah satu plastik dan mengambil sekotak pizza dan membukanya.


Saat Fietta kembali ke sofa tatapan Fietta terpaku pada pizza tepat di samping seblaknya.

__ADS_1


"Makan ini dulu seenggaknya," Ucap Arbian menggeser lebih dekat kotak pizza pada Fietta.


Fietta akhirnya menurut dan duduk kemudian mengambil potongan itu sebelum mengunyahnya dengan perlahan.


Arbian bersandar di sofa dan hanya menatap dalam diam pacarnya membuat Fietta agak risih.


"Kamu mau?" Tiba-tiba Fietta menyodorkan sepotong pizza yang tadi sudah ia gigit tanpa sadar karena merasa gugup di perhatikan Arbian sejak tadi.


Arbian diam dan pandangannya beralih dari mata Fietta ke arah pizza itu sampai akhirnya mendekat dan menggigit pizzanya sampai-sampai jari Fietta merasakan bibir bawah Arbian.


Degh..


Jantung Fietta kembali berulah, ia mencoba sekuat tenanga bersikap tenang dan menatap Arbian yang mengunyah.


"Enak?" Tanyanya dan Arbian mengangguk membuat senyum Fietta semakin lebar.


Suara sepatu yang mendekat membuat Arbian dan Fietta mendongak dan melihat Dani sedang menatap mereka dengan pandangan dingin.


Tidak ada banyak perubahan di wajah Arbian selain senyum tipis yang di tunjukan pada Dani.


Dani melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti, ia membawa berkas di tangannya dan berdiri di samping Arbian.


"Saya perlu bicara dengan kamu," Ucap Dani kemudian berbalik dan memasuki ruang kerjanya kembali.


Fietta tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya dan menatap Arbian yang masih bersikap santai.


"Ada apa?" Tanya Arbian karena Fietta tampak sedikit gelisah.


Arbian tersenyum tipis dan mengusap tangan kanan Fietta dengan pelan.


"Papah kamu mau kenalan dengan menantunya," Ucap Arbian dengan nada jail.


Fietta menepuk tangan Arbian karena kesal namun pria itu langsung tertawa.


"Aku susul papah kamu," Ucap Arbian akhirnya dan bangkit namun sebelum itu ia mengacak rambut atas Fietta.


Arbian masuk ke dalam ruangan dan melihat Dani berdiri tengak memandang ke luar jendela.


"Duduk," Ucap Dani tanpa menoleh.


Arbian mengikuti perintah dan duduk dengan nyaman di sofa.


Dani membalikkan badan dan duduk di hadapan Arbian, ia memperhatikan wajah santai pria itu.


"Jangan main-main Bian dengan anak saya," To the point Dani menatap tajam Arbian.


Arbian diam dan keduanya saling bertatapan.


"Anda anggap saya main-main?" Tanya Arbian, wajahnya menjadi tanpa ekspresi berbeda dengan beberapa menit lalu saat bersama Fietta.


"Lalu kamu merasa serius? bahkan kamu masih merahasiakan kehidupanmu dari Fietta,"

__ADS_1


Kini Arbian diam, ia merasa tersinggung dengan ucapan Dani tetapi tidak bisa membantah karena jauh di lubuk hatinya ia mengakui itu.


Banyak hal yang di sembunyikan dirinya dari orang lain bahkan ia sendiri tidak terbuka pada ibunya.


"Saya tidak bisa janji om, tetapi saya akan berusaha terbaik untuk Fietta," Ucap Arbian dengan yakin.


Dani diam, matanya seakan menelisik Arbian.


"Kalau gitu nikahkan dia,"


Arbian merasa terkejut dan tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya, ia mengatupkan mulutnya dan tidak menjawab.


"Tidak mau? kamu meragukan putri saya?"


"Bukan, saya meragukan diri saya sendiri," Ucap Arbian dengan kepala menunduk.


Dani diam dan hanya memperhatikan Arbian yang seperti menahan perasaannya.


"Kalau gitu kamu bisa putuskan anak saya,"


Perkataan Dani membuat Arbian segera mendongak dan melihat keseriusan di mata pria anak satu itu.


"Tidak akan!" Tegas Arbian dengan mata tajam.


"Terserah anda akan melakukan apa, saya akan terus berada di sekitar Fietta dan tidak akan melepaskannya,"


Setelah mengatakan itu dengan tegas Arbian keluar dari ruangan dengan membanting pintu. Ingat, Arbian berwatak keras dan harus memperjuangkan apapun yang ia inginkan.


Fietta menoleh cepat saat mendengar pintu tertutup dengan sedikit keras kemudian melihat Arbian datang dengan tanpa ekspresi.


Melihat Fietta berdiri dan memandang penasaran padanya Arbian akhirnya mengontrol sedikit emosianya, ia merubah ekspresinya menjadi santai kembali.


Saat keduanya berhadapan Arbian memainkan anak rambut Fietta yang sering berantakan, ini hobi barunya beberapa minggu yang lalu.


"Kamu bicara apa sama papah?" Tanya Fietta yang tidak bisa mengontrol rasa penasarannya.


"Gak papa, masalah bisnis," Jawab Arbian dengan senyum kecil kemudian menarik tangan Fietta sampai keduanya kembali duduk di sofa namun saling berdekatan.


"Bener?" Tanya Fietta seakan tidak percaya.


Arbian mengangguk meyakinkan dan itu membuat Fietta akhirnya bisa bernafas lega.


Tak lama Dani keluar dari ruangan dan berjalan melewati sofa, ia melirik sekilas wajah Fietta yang tampak tersenyum memandang Arbian kemudian senyum itu pudar saat melihat dirinya.


Segera Dani sampai pintu dan keluar dari rumah untuk kembali ke kantor.


Tak lama bi Ani masuk dengan membawa belanjaan dan sedikit terkejut melihat Arbian yang berada di sana.


"Eh mas Arbian," Sapa bi Ani dengan senyum.


Arbian menoleh dan membalas senyum bi Ani. Bi Ani kembali ke dapur dan tak lupa membuat minuman untuk tamu.

__ADS_1


__ADS_2