World For You

World For You
BAB 8


__ADS_3

Selesai kelas Fietta memilih langsung pulang ke rumah, ia ingin menghabiskan waktu untuk melukis hari ini, sebenarnya keinginan untuk melukis hanya di saat-saat ia lelah atau sedih.


Sampai di halaman rumah Fietta di kejutkan dengan sosok bi Ani yang sedang menyiram tanaman, bukannya mendekat Fietta hanya mematung saja di tempat.


"Non Etta, bunganya bisa layu kalau gak di siram-siram," Ucap bi Ani dengan senyum lembut.


Setelah ucapan bi Ani selesai Fietta mendekat dan memeluk pengasuh dari kecilnya itu erat.


"Bi aku gak terbiasa tanpa bi Ani," Lirih Fietta, sejak Arsyita, mamahnya tiada bi Ani tidak pernah membiarkan Fietta di rumah sendirian, wanita paruh baya itu selalu menemaninya walau kadang harus pulang untuk mengurus suami dan anaknya.


"Bi Ani biasanya juga pulang tapi non gak manja gini,"


"Bi Ani pulang gak pernah lewat dua hari," Keluhnya, hanya bi Ani Fietta berani bersikap manja bahkan tante Lea tidak tau seberapa manja seorang Fietta.


Bi Ani tertawa melihat tingkah Fietta, sebenarnya bi Ani bersyukur Fietta berkeluh kesah dengannya daripada diam memendam sendiri.


Kedua wanita beda generasi itu memasuki rumah dan menuju dapur, Fietta dapat melihat puding kesukaannya di atas meja.


"Wah, ini buatan bi Ani?" Kagum Fietta, sudah lama ia tidak membeli puding.


"Ia, kemarin bibi buat di rumah karena kepikiran non Fietta,"


"Bi Ani harus tau, Fietta sayang banget sama bibi,"


Bi Ani terharu mendengar perkataan Fietta, walau dirinya hanya asisten tetapi Fietta memperlakukannya sangat baik dari dulu.


*


Dari pagi sampai siang Arbian masih berada di ruangan, entah apa yang di kerjakan pria itu di sana. Menjelang makan siang akhirnya Randi yang mulai jengah masuk ke dalam ruangan dan melihat Arbian yang matanya tidak lepas dari laptop.


"Pak Arbian yang terhormat, ini sudah waktunya makan siang,"


Arbian mendongak dan melirik jam tangannya kemudian melanjutkan pekerjaan membuat Randi memutar mata malas. Sebenarnya bisa saja Randi meninggalkan Arbian dan memilih makan siang sendirian namun ia pasti akan mendapat cubitan dari ibunya kalau mendengar Arbian sakit karena kelelahan dan kurang makan.


"Gue rasa lo harus cepet nikah yan, sumpah,"


Arbian menghentikan pekerjaannya dan kini mata tajamnya menatap Randi yang ragu meyakinkan Arbian.


"Alasan?"


Randi meneguk ludah sendiri, ia merutuki mulut bodohnya ini.


"Biar ada yang ingetin makan, mandi, tidur yan, emang gak ada pikiran mau nikah?"


Randi jelas tahu jawaban Arbian, selama ini Arbian tidak dekat dengan lawan jenis selain klien atau keluarganya. Jika ada yang ingin mendekati Arbian Randi lah yang akan mengurus wanita itu agar tidak mendekati Arbian tetapi saat Arbian memintanya mencarikan data seorang wanita untuk pertama kalinya Randi bingung harus menjauhi wanita itu dari Arbian atau Arbian lah yang harus di jauhi dari wanita itu.


"Yan lo harus tau ini, gue ketemu wanita itu,"


Ucapan Randi sebenarnya tidak di mengerti Arbian membuatnya menyergitkan dahi. Randi menepuk dahinya lantaran lupa jika pria yang ada di hadapannya ini berasal dari zaman purba.

__ADS_1


"Cewek yang ketemu di lift, gue liat dia ngobrol bareng mommy,"


"Terus?"


Randi tak paham dengan jalan pikiran seorang Arbian, Randi pikir Arbian ada ketertarikan dengan wanita itu.


"Lo beneran gak tertarik sama cewek itu?"


Arbian tidak menjawab karena menurutnya itu bukan suatu hal penting yang harus ia jawab, kini ia kembali dengan dunianya yaitu pekerjaan.


Jika ada yang bertanya seberapa sibuk pekerjaannya Arbian akan dengan senang hati menjabarkan dua perusahaan besar yang pertama merupakan perusahaan keluarga dan yang kedua perusahaannya sendiri yang setahun belakangan ini telah berkembang pesat walau banyak yang tidak mengetahui pemilik sebenarnya adalah dirinya.


tok...tok....


Randi berinisiatif membuka dan melihat manajer perusahaan yang seorang pria kisaran umur 30an dengan kacamata di wajahnya membawa bingkisan.


"Ini makan siangnya mr Arbian," ucap pria itu menunduk hormat.


"Terima kasih Doni, kamu mengerti tanpa di minta bahkan tidak perlu banyak bicara,"


Ucapan Arbian jelas di tunjukan untuk siapa, dan Randi hany memutar mata dan merangkul bahu Doni untuk keluar ruangan.


"Baiklah, selamat makan siang pak Arbian, kami permisi,"


Ketika kedua manusia itu keluar dari ruangannya Arbian masih mendatangani beberapa dokumen dan membacanya tetapi ingatannya terganti dengan ucapan Randi.


Arbian terkekeh, wanita itu memang cantik namun Arbian tidak ingin memasukan perasaan ke dalam hidupnya untuk saat ini.


*


Malam hari Fietta berjalan menuju lantai bawah, ia akan membantu bi Ani untuk memasak makan malam walau kemampuannya masih minim dalam membuat makanan.


"Malam ini masak apa bi?" ucap Fietta saat melihat bi Ani mengeluarkan bahan di dapur.


"Non etta mau makan apa? bibi akan masakin,"


Mendengar tawaran itu Fietta bingung sendiri.


"hmm, aku mau mie goreng," Ucapnya semangat.


"Itu makanan gak sehat non," Ucap bi Ani karena ia memang tidak memperbolehkan Fietta terlalu sering makan mie instan.


"Yah padahal enak kalo di kasih irisan cabe sama telur mata sapi,,oh atau kasih udang gitu bi," Fietta mengusap perut kecilnya sedih.


"Maaf ya non, perut non Fietta itu sensitif jadi nanti kalo salah makan perutnya sakit,"


Fietta tidak bisa asal saat makan karena perutnya akan sakit dan itu membuatnya tak nafsu makan, sekarang Fietta sudah menyerah untuk membuat badannya gemuk.


Akhirnya keduanya memutuskan untuk mengolah udang dan menggorengnya, keduanya terlihat seperti ibu dan anak saat sibuk di dapur.

__ADS_1


*


Pagi hari Fietta bangun untuk lari pagi, karena hari ini weekend Fietta akan bersantai sepanjang hari.


Saat baru dua putaran ponsel Fietta berdering menghentikan larinya.


Ia melihat nama Carla di panggilan itu dan memutuskan untuk mengangkat.


"Fiettaaa, lo di mana?"


Suara teriakan Carla membuat Fietta terkejut.


"aku di taman, kenapa car?"


"Gue di rumah lo sekarang, ayo berenang,"


Fietta langsung mengerti mengapa Carla menghubunginya, sebenarnya memang Fietta yang mengajak Carla ke rumahnya jika weekend.


Setelah Fietta meminta waktu untuk menunggu 5 menit ia kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang.


Sampai di rumah ia bisa melihat mobil yang sering di pakai Carla telah rapih terparkir di rumahnya segera ia masuk dan mendapati Carla duduk seraya memainkan ponselnya di ruang tamu.


Mendengar langkah kaki Carla mendongak dan melihat Fietta yang masih mengatur nafas sehabis lari.


"Sorry ta, ortu gue hari ini pergi jadi gue dateng kepagian,"


Fietta melirik dinding dan ternyata sudah jam 8 lebih, ia lari pagi satu jam lebih ternyata. Fietta berjalan mendekati Carla dan duduk di samping wanita cantik itu seraya memperhatikan bungkusan di meja.


Melihat tatapan Fietta Carla berinisiatif mengambil bingkisan itu dan membukanya.


"Ta ini buat lo, kue pancong kesukaan gue," ucapnya membuka makanan itu di depan Fietta.


"Pancong?" Tanya Fietta bingung.


"Wait! jangan bilang lo gak tau apa itu pancong? oh my masa kecil lo kurang lengkap," Dramatis Carla karena itu merupakan jajanan saat dirinya masih SD.


Fietta menggaruk poninya, ia memang tidak pernah mencoba makanan pinggir jalan saat sekolah dasar di karenakan Arsyita menjaga pola hidupnya agar sehat dan hanya memberikan bekal dari rumah untuk di makan.


"Pokoknya lo harus coba, ambil dan campur di gula gue jamin rasanya enak poll,"


Melihat keseriusan Carla dengan mata binarnya membuat Fietta tertawa, ia mencoba mengikuti intruksi Carla dan memasukkan makanan ke dalam mulut.


"Gimana? enak?"


Fietta tanpa kata mengangguk dan segera menghabisi potongan yang ada di tangannya, ia tidak bohong, makanan itu sungguh enak.


"Makasih Carla," ucap Fietta tulus.


"it's okay mulai sekarang kita akan jelajahi makanan jaman sekolah," ucap Carla menggebu. Akhirnya keduanya larut dalam menikmati rasa kue itu.

__ADS_1


__ADS_2