World For You

World For You
BAB 6


__ADS_3

Pagi hari Fietta bersiap untuk untuk kuliah pagi, karena semalaman tidurnya tidak nyenyak membuat semangat paginya redup dan itu di sadari oleh Dani, yang melihat bawah mata anaknya menghitam samar.


Sarapan yang hening seperti biasa, tapi tidak seperti biasanya saat Fietta menyapa Dani ataupun mengucapkan selamat tinggal sekarang tidak ada kata yang keluar dari mulut Fietta dan itu di perhatikan oleh sang papa.


Fietta sampai di kampus dan berjalan sendiri menuju gedung fakultas, sebenarnya masih ada 1 jam lagi untuk kelasnya mulai, namun karena ia tidak ingin jenuh di kamar akhirnya Fietta memilih melanjutkan membaca buku di taman.


"Hai," sapaan itu membuat Fietta mendongak, dan lagi-lagi Carla yang menyapanya, gadis itu beberapa hari ini tampak mencoba akrab dengan Fietta.


"Lo baca novel ini? wah gue juga punya beberapa buku dari penulis ini,"


Ucapan itu membuat Fietta menolak, ia memang sedang suka dengan penulis ini, mwndengar Carla mempunyai banyak bukunya tentu saja Fietta tertarik.


"Kamu punya buku keluaran terbaru?" Tanya Fietta, melupakan kecanggungannya pada orang lain.


Melihat Fietta mulai penasaran membuat Carla senang.


"Niatnya hari ini gue mau beli, lo mau ikut?"


Mendengar ajakan itu Fietta diam, sudah lama ia tidak pergi bersama teman, biasanya sahabat kecilnya yang akan mengajaknya berbelanja tetapi kini sahabatnya entah ada di mana.


"Gimana? kita cuma beli buku kok, gue gak ada temen nih," ajak Carla menyakinkan Fietta, hingga akhirnya gadis itu mengangguk setuju.


"Oke! selesai kelas kita berangkat, gue mau ke kantin lo mau ikut?"


Melihat Fietta menggeleng Carla tidak memaksa, setelah mengucapkan selamat tinggal Carla pergi dari taman dan kini Fietta kembali sendiri.


*


Selesai kelas Fietta masih duduk di bangkunya menunggu semua orang keluar, Carla yang melihat Fietta masih duduk di tempatnya mendekati Fietta.


"Ta, yuk," ajak Carla saat ruangan itu sudah kosong.


Kedua gadis itu berjalan keluar, sebenarnya Carla gadis yang sangat cantik dan tentu saja ia cukup terkenal apalagi sikapnya yang ramah berbeda dengan Fietta walaupun Fietta tidak kalah cantik namun karena ia tertutup dan tidak pernah memakai make up selain liptint membuatnya tidak banyak di perhatikan.


Saat keduanya sampai di mall Carla menarik Fietta ke toko baju dengan alasan Carla ingin menghadiri pesta temannya.


"gimana? bagus gak?" Tanya Carla memperhatikan dress merah cerah tanpa lengan sepanjang lutut, tidak terlalu mewah tetapi tetap terlihat indah apalagi kulit Carla putih.

__ADS_1


"Bagus," Jawab Fietta jujur.


Mendengar perkataan Fietta, Carla memberikannya kepada pegawai di sana untuk membungkusnya.


"Kalo ini?"


Fietta yang matanya menatap baju di sekitarannya menoleh dan melihat dress panjang yang cantik.


"Cantik," Spontan Fietta tanpa pikir panjang.


Carla tersenyum senang, selera mereka sepertinya sama.


"Mba saya ambil ini, dan bungkus terpisah," Setelah pegawai itu pergi Carla mendekati Fietta.


"Lo gak beli ta? gue akan traktir,"


"Gak perlu car, aku gak terlalu suka pesta jadi gak akan di pake," Ucapnya dengan jujur.


Setelah membayar Carla kembali menarik Fietta disebuah restoran untuk makan, Carla memesan banyak makanan untuknya dan untuk Fietta.


Kadang mereka mengobrol seputar hobi ataupun pelajaran, dan Carla terkejut dengan keseharian Fietta yang melakukan banyak hal seperti melukis, memanah, bahakan menunggang kuda.


"Kamu kerumah aja minggu ini," Fietta sebenarnya berharap Carla nyaman berteman dengannya, apalagi melohat Carla tertarik untuk datang ke rumahnya karena walaupun hampir semua tersedia di rumahnya, tetap saja terasa sepi dan tak menyenangkan.


"Kita belum tukeran nomor, sini hp lo,"


Setelah menyimpan nomornya di kontak Fietta begitupun sebaliknya Carla dan Fietta membayar makanan walaupun harus berdebat karena keduanya tidak ingin di bayari satu sama lain akhirnya memilih bayar sendiri-sendiri.


"Hahaha kocak deh muka mas-masnya waktu bingung mau ambil duit yang mana di antara kita berdua," Tawa Carla setelah keluar dari restoran.


Fietta juga tertawa, tidak pernah lagi ia merasa bebas seperti ini apalagi melakukan hal konyol seperti tadi saat berebutan untuk membayar makanan padahal bisa bayar sendiri-sendiri.


Akhirnya keduanya menuju tempat yang sedari awal ingin mereka datangi, toko buku. Fietta biasanya sendiri saat membeli buku atau menggunakan jasa antar sampai rumah tetapi bersama orang lain ternyata tidak buruk, bahkan Carla banyak merekomendasikan buku-buku bagus untuk di baca.


"Ayo gue anter pulang," Ajak Carla saat mereka selesai membayar.


"Aku minta jemput supir car, kamu duluan aja," tolak Fietta karena memang saat memilih buku tadi ia memberi kabar pada supir untuk menjemput.

__ADS_1


"Kalo gitu kita tunggu supir lo dateng," Ucap Carla menarik Fietta di kursi yang ada di sana.


"Beneran Carla aku gak papa, kamu pulang aja,"


Carla sebenarnya ingin tetap tinggal namun orang tua nya sangat protektif sehingga Carla tidak bisa bebas keluar lama-lama, setelah meyakinkan lagi Fietta yang tetap menolak akhirnya Carla pulang sendiri meninggalkan Fietta.


Setelah Carla pergi Fietta menatap suasana mall yang terbilang ramai, beberapa anak tampak tertawa senang dengan menggandeng tangan orang tuanya, beberapa remaja tampak mengobrol seru dengan teman-temannya, dan beberapa pasangan yang bergandengan tangan menunjukkan keromantisannya.


Dari semua yang di lihat Fietta tidak merasakan, saat orang tuanya masih lengkap mungkin Fietta pernah di posisi mereka tetapi kini ingatan itu telah hilang hanya teringat saat mayat ibunya dan tatapan tajam sang papa untuk pertama kalinya saat pemakaman, saat ia mempunyai sahabat dan setelah lulus SD ia tidak mendapat kabar lagi darinya, atau saat Fietta begitu mencintai Barga tetapi tidak pernah mendapat balasan yang sama.


"Kamu ngapain?"


Suara itu menyadarkan Fietta dari alam bawah sadar, saat mendongak matanya menatap pria dengan setelan jas hitam yang sempurna di tubuhnya.


"Belanja, kamu gak lihat ini di mana," Ucap Fietta pelan namun masih bisa terdengar oleh Arbian.


"Tapi yang saya lihat kamu melamun bukan belanja," Ucap Arbian menyindir Fietta.


"Ayo saya antar,"


Fietta menoleh heran, memandangi Arbian yang kini berkacak pinggang menatap sekeliling.


"Antar kemana?"


"Kamu maunya kemana? kalo mau belnja saya bisa nemenin kamu,,atau mau pulang?" tawar Arbian.


Seketika Fietta menggelengkan kepala, ada apa hari ini dengan orang di sekelilingnya, Fietta sangat tidak terbiasa bergantungan pada orang lain karena ia biasanya melakukan semua sendiri.


"Gak perlu, saya nunggu supir untuk pulang,"


"Sama saya saja yuk,"


"Saya bilang gak--"


Ucapannya terhenti saat melihat Barga di keajauhan bersama pacarnya kini menatap ke arahnya, tanpa pikir panjang Fietta berjalan cepat meninggalkan tempat itu dan tanpa sadar ikut menarik tangan seseorang juga dengan panik.


"Hah...hah...,"

__ADS_1


Sampai di area luar Fietta menstabilkan nafasnya tetapi kemudian terdiam lantaran tangan kanannya merasakan hangat bahkan sesuatu di genggamannya ini lebih besar dari telapak tangannya.


Fietta segera mendongak dan menatap wajah Arbian yang kini tersenyum seakan mengejek Fietta yang tadi menolak ajakannya, Fietta kesal tetapi sayangnya wajah Arbian bertambah tampan saat tersenyum seperti itu.


__ADS_2