World For You

World For You
BAB 19


__ADS_3

Beberapa hari terlewat, kini Fietta bermalas-malasan di kamar karena tidak ada kelas maupun kegiatan di kampus.


Bahkan bi Ani sampai membawakan sarapannya ke kamar karena Fietta tidak turun-turun juga.


"Non ini sarapannya, bibi tungguin tapi gak muncul," Ucap bi Ani meletakkan nampan berisi sarapan.


Fietta yang masih tiduran di kasur segera bangun dengan masih menggunakan piyamanya.


"Uh makasih sayangku," Ucap Fietta memeluk bi Ani.


Setelah bi Ani pergi Fietta masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan juga menyikat gigi sebelum sarapan.


Di lihatnya nasi goreng itu dan membawanya di kursi yang memang tersedia di kamar, Fietta menyantap dengan santai, sesekali tangannya menscroll layar ponsel.


ting..


Pesan masuk membuat Fietta menghentikan makannya karena melohat nama Arbian.


'Bisa ketemu hari ini?'


Begitu lah isi pesan itu kemudian Fietta membalas, ia memang tidak ada kerjaan sekarang selain rebahan.


"Oke, dimana?"


'Saya jemput kamu sebentar lagi,'


Melihat pesan itu membuat Fietta segera menghabiskan makanannya karena ia bahkan belum mandi dan bersiap-siap.


Kurang dari satu jam Fietta tampak rapi dan sebelum pergi ia memperhatikan lagi penampilannya di kaca dan segera berlari menuruni tangga.


"Non di depan ada cowok ganteng," Ucap bi Ani menghampiri Fietta dengan antusias.


"Itu temen aku bi," Fietta berjalan cepat mendekati pintu dan menemukan Arbian yang berdiri membelakanginya.


Mendengar langkah kaki seseorang Arbian membalikkan badan dan menatap Fietta, pakaian Fietta agak berbeda dari biasanya karena sekarang Fietta memakai androk di atas lutut.



Melihat tatapan Arbian Fietta menjadi gugup, ia tadi bingung ingin memakai baju yang mana dan di sisi lain ia takut Arbian sudah datang dan menunggu, akhirnya ia memilih apa yang ada di depan matanya saja.


Keduanya memasuki mobil dan hanya diam selama perjalanan, Fietta menatap depan di mana banyak kendaraan berlalu lalang.


"Kamu engga nanya kita kemana?" Tanya Arbian karena sedari tadi Fietta diam.


Fietta menoleh, "Emang kita mau kemana?"


Arbian terkekeh, cewek ini entah terlalu cuek atau tidak punya bahan obrolan.


"Saya ingin memberikan sesuatu,"


Ucapan Arbian membuat Fietta mengeryitkan dahi, ia tidak berulang tahun jadi untuk apa memberikan sesuatu? pikirnya.


Tak lama mobil berhenti di sebuah butik baju, Fietta memandang bangunan dua lantai itu dan berdecak kagum melihat banyak baju cantik yang di pajang di sana sampai tidak sadar pintu mobil sudah di buka oleh Arbian.

__ADS_1


"Kamu mau duduk terus?"


Perkataan Arbian membuat Fietta sadar dan kemudian turun daru mobil dengan malu karena perlakuan Arbian yang sampai harus menaruh tangannya di atas kepala Fietta saat turun.


Keduanya masuk bersama dan tampak seorang wanita dengan pakaian formal menghampiri mereka dengan senyum.


"Selamat siang mas, mba, ada yang bisa di bantu?" Ucap wanita itu ramah.


"Hm, baju pesanan atas nama Randi,"


"Baik pak, mohon di tunggu," Wanita itu mempersilahkan Arbian dan juga Fietta menuju sofa di pojok ruangan.


Setelah duduk Fietta tampak menatap sekeliling, ia menyukai tata ruaang di tempat ini, bahkan pakaian-pakaian di sana terkesan elegan.


"Ada yang kamu suka?" Tanya Arbian memperhatikan Fietta di sampingnya.


Fietta menggeleng dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Tak lama kemudian wanita tadi datang dengan membawa paper bag dan menyerahkan pada Arbian.


Setelah wanita itu pergi Arbian menghadap Fietta yang kini kebingungan saat Arbian menyodorkan paper bag itu padanya.


"Buat saya?" Tanya Fietta ragu, tetapi memilih mengambilnya saat Arbian mengangguk.


"Kamu lupa besok saya ajak ke acara keluarga saya?"


Fietta dian sebentar kemudian menepuk dahinya karena melupakan itu.


"Yang penting sekarang kamu inget, yuk kita pergi,"


Fietta mengikuti Arbian di belakangnya dan melihat-lihat barang di tangannya karena penasaran dengan isinya.


"Kamu bisa cek itu di rumah,"


Suara Arbian mengejutkan Fietta dan segera menyembunyikan paper bag itu di belakang tubuhnya. Arbian terkekeh melihat tingkah Fietta dan tanpa sadar tangannya mengacak rambut wanita di depannya.


"Kamu gak tahu susahnya atur rambut apa," Kesal Fietta dan merapihkan rambutnya kembali tetapi tubuhnya membeku saat ada tangan lain yang ikut merapihkan rambutnya.


Fietta mendongak dan tatapannya bertemu dengan Arbian dari jarak dekat yang terfokus dengan rambutnya.


"Sudah,"


Arbian kembali menjauhkan tubuhnya tetapi degup jantung Fietta masih berjalan cepat. Fietta segera meninggalkan Arbian menuju mobil tanpa memperdulikan Arbian yang memanggil-manggil namanya.


"FIETTA MOBILNYA DI SINI,"


Teriakkan itu membuat langkah Fietta terhenti dan ia membalikkan badan, tampak Arbian yang membuka pintu mobil penumpang dan masih menunggunya.


"uhh.. maluuuu," teriaknya dalam hati.


Tanpa melihat wajah Arbian Fietta lari dan masuk ke dalam mobil kemudian setelah Arbian juga masuk mobil itu melaju pergi dari sana.


Fietta menatap jendela samping, dalam hati merutuki sikap bodohnya yang makin lama makin luar biasa.

__ADS_1


Sesekali Arbian melirik ke samping memperhatikan Fietta, kadang ia bingung dengan tingkah uniknya yang bisa buat geleng-geleng kepala.


drtt..drttt...


Getaran ponsel membuat Arbian yang sedang mengemudi menoleh dan melihat layar ponselnya menunjukkan nama Randi. Arbian mengangkatnya kemudian mengaktifkan louadspeaker.


"Hallo ran?" Ucap Arbian seraya melirik Fietta yang masih pada posisi awal yaitu hadap jendela mobil.


"Bapak Arbian terhormat! apakah anda pengangguran? LO DIMANA?! Gue besok yang mau lamaran yan, kenapa lo yang gak kerja, hah?!"


Suara keras itu mengejutkan Fietta dan menoleh ke arah Aebian yang tampak biasa seakan memperitahu jika itu sudah makanan sehari-harinya.


"Hm ran, gue lagi sama seseorang,"


Ucapan Arbian membuat Fietta menoleh dan mata mereka bertemu sebelum akhirnya Aebian mengalihkan pandangan ke depan agar fokus pada jalan.


"Hah? lo sama siapa? nenek? oh atau.."


klik..


Arbian memutuskan sambungan sepihak dan kembali melihat jalan.


Fietta diam tetapi pikirannya yang tidak bisa diam.


"hmm, saya lupa nanya, kamu umur berapa ya?"


Arbian menoleh dan mendapati tatapan penasaran Fietta.


"24,"


Fietta membulatkan matanya, ia fikir mereka hanya selisih satu tahun atau dua tahun.


"Dan kamu bisa ubah bicara kamu?"


"Ubah gimana?" Tanya Fietta tidak mengerti.


"Pakai aku-kamu bukan saya-kamu,"


Fietta diam tidak menjawab, apa yang beda?pikirnya.


"Kamu juga kan gitu,"


"Oke, mulai sekarang kita ucap aku-kamu kalau ketemu,"


Fietta hanya mengangguk, entah mengapa sekrang suasana mobil menjadi canggung dan Fietta merasa perjalanan semakin lama.


"Ini kita mau kemana?" Tanya Fietta akhirnya, karena ini bukan arah jalan pulang.


"Rumah nenek,"


Fietta tersentak kemudian menoleh cepat ke arah Arbian yang tetap santai.


"Kamu bercanda?!"

__ADS_1


__ADS_2