World For You

World For You
BAB 18


__ADS_3

Arbian menyelesaikan pekerjaan sampai siang, hari ini jadwalnya mengecek area hotel yang baru beberapa bulan di buka.


Arbian membereskan mejanya kemudian keluar dari ruangan, ia berjalan menuju ruangan Randi dan tepat saat di depan, pintu itu terbuka.


"Eh, udah siap?" Kaget Randi karena ia keluar ingin menjemput Arbian.


"Hm," Gumam Arbian kemudian melangkah ke pintu lift di susul dengan Randi.


Keduanya sampai di lobby dan seperti biasa karyawan menyapa keduanya sampai di pintu masuk.


Arbian dan juga Randi masuk ke dalam mobil yang memang sudah menunggu di depan perusahaan.


Di dalam mobil Randi tampak memeriksa email perusahaan di laptop sedangkan Arbian mencoba memejamkan mata karena hanya tidur beberapa jam tadi malam.


Sampai di tempat tujuan keduanya turun dan di sambut manajer hotel itu.


"Selamat siang pak Arbian, pak Randi," Ucap manajer hotel dengan antusias melihat bosnya.


Arbian mengangguk dan keduanya di bawa menuju lobby hotel, mata Arbian melihat sekeliling dan banyak orang yang berada di sana tidak bisa mengalihkan pandangan karena wajah tampan dan juga auranya.


Tampak beberapa wanita yang sepertinya tamu di sana berbisik-bisik histeris sembari mencuri pandang ke Arbian.


"Kumpulkan staff yang tidak bertugas sekarang," Gumam manajer hotel ke pada seseorang di belakangnya kemudian kembali menatap Arbian dengan senyum ramah.


Setelah melihat-lihat mereka berjalan menuju ruangan karena ada beberapa hal yang ingin Arbian bicarakan.


*


Fietta dan juga Carla bersantai di cafe dekat kampus setelah kelas berakhir. Carla tampak serius melihat hp sedangkan Fietta bermain game di ponselnya.


"Ta, ta," Panggilan itu membuat Fietta mendongak dan mematikan ponselnya.


"Kenapa?" Tanya Fietta.


Carla tersenyum lebar dan menggenggam tangan Fietta kuat.


"Gue mau ketemu sama gebetan hari ini, huaaa seneng banget," Ucapnya antusias.


"Oh ya? terus kalian ketemuan di mana?"


"hm dia bilang sih seberang Maher Hotel, lo tahu?" Tanya Carla karena Carla tidak pernah pergi ke hotel jika bukan untuk liburan ataupun bertemu teman.


Fietta menggeleng, tidak banyak tempat yang Fietta kunjungi selama ini.

__ADS_1


"Mungkin ini hotel baru, gue cari dulu di maps,"


Carla mengetik di ponselnya dan menarik Fietta untuk pergi dari sana.


"Hotel baru ternyata, yuk kesana," Ucapnya membuka pintu mobil tetapi terhenti saat melihat wajah Fietta kebingungan.


"Kenapa?" Tanya Carla yang menutup kembali pintu mobil.


"Aku pulang sendiri aja,"


Carla menghela nafas, "Lo ikut gue Fietta."


"Eh engga perlu, kamu kan mau ketemu gebetan kamu, aku gak enak,"


"stt.. Gak papa, gue ajak temen biar gak canggung ,yuk buruan,"


Akhirnya Fietta mengangguk dan masuk ke dalam mobil.


Sampai di sana Fietta menatap cafe di depannya kemudian menoleh ke arah seberang di mana terdapat hotel yang tadi di bicarakan.


"Yuk masuk," Ajak Carla dan keduanya masuk walau terlihat saat ini Carla gugup sendiri.


Mata Carla melihat sekeliling dan menemukan seorang pria duduk membelakanginya dengan pakaian jas hitam kantoran.


Ia menarik pelan lengan Fietta menuju pria itu kemudian menepuk bahunya.


"Kamu udah datang?" Ucap pria itu berdiri dan mempersilahkan Carla juga Fietta duduk.


"Hai Hero, maaf ya nunggu lama," Ucapnya dengan senyum malu, Fietta yang melihat itu tanpa sadar tertawa pelan.


Hero kemudian menatap Fietta yang asing di matanya, Carla yang melihat itu segera memperkenalkan mereka.


"Hero ini Fietta, teman aku,"


Fietta menjabat tangan Hero dan saling memperkenalkan diri. Carla banyak mengobrol dengan Hero dan sesekali Fietta ikut berbicara dan lebih banyak diam ataupun tersenyum jika namanya di sebut.


Karena merasa jenuh Fietta izin ke toilet pada mereka. Fietta mencuci tangan dan merapihkan sedikit rambutnya kemudian keluar dari toilet tetapi langkahnya terhenti saat melihat Arbian di depannya yang sama terkejut melihatnya.


"Kamu disini?" Tanya Arbian setelah pulih dari terkejutnya, sepertinya mereka terlalu sering bertemu secara kebetulan.


"Kebetulan sekali ya," Ucap Fietta dengan senyum.


"Kamu sama siapa?"

__ADS_1


"Temen,"


Arbian memicingkan matanya, teman yang mana yang dia maksud, Arbian tentu tahu bagaimana reputasi Fietta di sekitar kampus.


"Cewek?" Tanya Aebian memastikan.


Fietta diam sebentar kemudian mengangguk pelan membuat Arbian entah mengapa bernafas lega, tidak tahu mengapa setiap bertemu Fietta ia selalu membayangkan hubungan wanita ini dengan mantan pacarnya, untungnya Dion bisa memberikan informasi berguna di bandingkan Randi.


"Ya sudah kalo gitu saya duluan," Ucap Fietta dan melangkah meninggalkan Arbian sebelum akhirnya di tarik kembali oleh pria itu sampai tubuhnya mereka saling menabrak.


Fietta mendongak dan menatap mata Arbian, keduanya sama-sama diam dan masih saling berpandangan.


"Ehmm,"


Deheman seseorang membuat mereka menjauh dan melihat seorang pria paruh baya tampak menatap mereka dengan berkacak pinggang.


"Anak muda, kalau mau berduaan di dalam toilet bukan di luarnya," Ujarnya kemudian memasuki toilet pria yang bersebrangan dengan toilet wanita.


"Ehm, sabtu ada waktu?"


Perkataan Arbian membuat Fietta mendongak kemudian memikirkan kesibukan di hari sabtu.


"Sepertinya ada, kamu perlu apa?"


Arbian kini ragu untuk mengatakannya, padahal ia sudah memikirkan matang-matang sebelum mengucapkannya.


"Sabtu lamaran sepupu saya, nenek mengharapkan kamu datang," Dalam hati Arbian mengucapkan banyak kata maaf pada neneknya.


"Ah nenek kemarin itu?"


Arbian mengangguk, kemudian Fietta mulai memikirkan apakah ia pergi atau tidak.


"Oke, saya akan datang, kamu kirimin alamatnya,"


"Kamu berangkat dengan saya," Ucap Arbian cepat.


Fietta yang ingin melangkah kembali berdiri tegak mendengar perkataan tegas Arbian.


"Maksud saya biar kamu berangkat ke sana bareng kami membawa seserahan,"


"Oke,"


Arbian tersenyum mendengar jawaban Fietta, kemudian ia mempersilahkan Fietta pergi dan setelah wanita itu tidak terlihat Arbian teryawa senang sembari berkata yes.

__ADS_1


Pria paruh baya yang baru keluar menemukan Arbian dengan tingkah anehnya tidak bisa tidak berkomentar kembali.


"Hah anak muda, begitu senang jatuh cinta sampai lupa kehidupan tua nanti,"


__ADS_2