
Baik Arbian maupun Fietta memilih diam selama perjalanan pulang, sesekali mata Arbian melirik Fietta yang menghadap jendela samping memperhatikan jalan.
"Fokus aja sama jalan, matanya gak usah lirik-lirik,"
Arbian tersedak ludahnya sendiri dan batuk beberapa kali, kemudian mencoba bersikap santai walau masih malu karena ketahuan memperhatikan.
Saat sampai di depan rumahnya Fietta menoleh ke arah Arbian yang menatap depan, tubuhnya bahkan terlihat kaku.
"Terima kasih tumpangannya, lain kali tidak usah antar saya lagi," Ucapnya kemudian membuka pintu, namun sebelum keluar tangannya di tarik oleh Arbian sampai Fietta terkejut bahkan lebih dari itu saat wajahnya kini dekat dengan wajah Arbian.
Fietta menahan nafas dan gugup saat melihat dari jarak dekat mata hitam pekat Arbian, itu seperti menariknya untuk mendekat, tanpa sadar Fietta lebih mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka bersentuhan.
Arbian yang mendapat serangan itu tentu saja mati kutu, tangannya mengepal menahan keinginan untuk melakukan sesuatu yang bisa saja membahayakan dirinya sendiri.
drtt...drttt...
Getaran itu mengagetkan keduanya, apalagi Fietta yang langsung sadar dengan apa yang ia lakukan.
Arbian mengambil ponselnya dan menemukan nomor tak di kenal meneleponnya.
Saat Arbian mengabaikan ponsel itu dan menghadap Fietta ia melihat wanita itu membuka pintu dengan cepat dan lari memasuki gerbang rumahnya.
Melihat tingkah unik Fietta Arbian tertawa, ia kemudian terbayang bagaimana ekspresi Fietta saat menatapnya kemudian mendekatkan wajahnya.
Argghhh
Arbian menutup wajahnya tanpa memperdulikan telinganya yang memerah.
*
Fietta masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan dirinya di kasur, ia mengambil bantal dan meninju-ninjunya dengan kesal.
"Arghh bodoh banget kamu Fietta, kenapa kamu ngebayangin ciuman sama dia," Kesalnya, saat Fietta menatap mata Arbian ia jadi terbayang bagaimana mata itu tertutup kalau mereka berciuman, karena pikiran itu membuat Fietta tanpa sadar menghapus jarak mereka sampai hidung keduanya bersentuhan.
"Mamaaaa maafin Fietta yang punya pikiran jahat, huaaaa,"
Bi Ani menatap tangga atas tempat di mana terakhir kali Fietta naiki sebelum akhirnya dengan teriakkan histeris Fietta memasuki kamar dengan membanting pintu.
"Ada apa dengan Fietta bi?" Tanya Dani, yang beberapa jam lalu memang berada di rumah.
Tadi saat ia meminum kopi di ruang tamu, Dani melihat anaknya pulang dengan muka meringis dan beberapa kali memukul keningnya membuat Dani terheran-heran, bahkan lebih heran lagi saat Fietta melewatinya begitu saja seakan tidak melihat.
Fietta memang tidak memperhatikan sekitar saat memasuki rumah, pikirannya penuh dengan umpatan untuk dirinya sendiri sampai tidak ingat ada orang lain di rumah selain dia.
"Maaf pak, saya juga baru lihat non Fietta seperti itu, mungkin karena tugas di kampusnya pak," ucap bi Ani karena memang beberapa hari ini Fietta mengeluh tugasnya banyak.
"Baiklah,"Mendengar itu Dani mengangguk kemudian masuk ke ruang kerjanya, untuk beberapa hari ke depan Dani akan bekerja di rumah karena tidak ada pekerjaan penting di kantor.
Saat makan malam Fietta berjalan ke dapur dan terkejut saat melihat papanya berada di meja makan.
__ADS_1
"Papa kapan pulang?" Tanya Fietta mendekati meja makan dan duduk di dekat Dani.
Dani menatap Fietta sebentar kemudian kambali membaca koran.
"Siang tadi," Ucapnya singkat.
Fietta mengangguk mengerti dan tidak bertanya lagi, apalagi kini Dani sibuk membaca koran.
Saat hidangan sudah siap dua pasangan ayah dan anak itu makan dengan tenang, damai, dan diam. Fietta bahkan kini memikirkan Arbian, setelah ia turun kira-kira bagaimana ekspresinya, Fietta penasaran akan hal itu.
Tanpa sadar Fietta terkekeh kecil dan itu di sadari oleh Dani.
Melihat sang papa menatapnya Fietta gugup dan kemudian menghabiskan makannya dengan cepat.
"Pa, Fietta ke kamar,"
Setelah Dani mengangguk Fietta berlari menaiki tangga dan memasuki kamar.
*
Arbian pulang ke apartemennya dan segera membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya.
drtt..drttt...
Suara ponselnya kembali berbunyi tapi Arbian masih menemukan nomor tak di kenal itu, akhirnya ia mengangkatnya karena penasaran.
Arbian menjauhkan ponselnya dan menatap lama nomor baru itu kemudian mendekatkan ke kupingnya lagi.
"Kenapa lo pake nomor baru? hp lo ilang?"
"Ini hp Bella yan, parah sepupu ipar lo gak di simpan nomornya," ucap Randi dramatis.
Arbian menghela nafas, kalau tahu bocak tengik itu yang menelpon Arbian pasti tidak akan mengangkatnya.
"Jadi mau apa?" Tanya Arbian, ia lelah berbicara dengan Randi.
"Oh iya sampe lupa, gini yan seminggu lagi acara lamaran gue, lo bawa gandengan gak? sekalian nih gua buatin bajunya biar pasangan," Tawar Randi.
Arbian diam, ia langsung teringat Fietta, tetapi kemudian menggeleng memikirkan hubungan mereka.
"Gak usah aneh-aneh ran,"
Terdengar suara Randi yang tertawa keras dan mendapat teguran dari pacarnya, Bella.
Arbian memutuskan panggilan dan memakai bajunya, ia keluar kamar dan berjalan menuju kulkas.
Saat ingin mengambil mie, bayangan saat Fietta menasehatinya untuk tidak banyak memakan mie terlintas.
"Makan mie itu gak sehat apalagi banyak,"
__ADS_1
Arbian kembali menutup kulkasnya dan mengambil ponselnya, ia akan memesan makanan dari luar.
*
Fietta bangun saat jam menunjukkan pukul 8. Hari ini ia akan ke kampus dan Fietta sudah janjian dengan Carla untuk berangkat bersama.
Ia menuruni tangga dan melihat papanya baru duduk di kursi meja makan.
"Pagi pa," sapanya dan ikut duduk.
Dani mendongak dari ponselnya kemudian kembali memfokuskan pandangan ke layar ponsel.
"Hm, pagi,"
Setelah Fietta sarapan, ia langsung keluar rumah dan menunggu Carla di kursi depan rumah sembari membaca buku.
"FIETTAA,"
Teriakkan itu membuat Fietta mendongak dan melihat Carla melambai, tanpa kata Fietta memasukkan buku ke dalam tas dan langsung berjalan menghampiri Carla.
"Ta, kemarin lo pulang dengan aman kan?" Tanya Carla melihat Fietta dari atas sampai bawah.
"Gak papa kok, ada orang baik yang antar aku ke rumah," Ucap Fietta tersenyum.
"Syukur deh kalo gitu,"
Akhirnya mobil itu melaju menuju kampus, karena selera musik mereka sama keduanya bernyanyi sepanjang jalan agar tidak bosan.
*
Arbian memasuki perusahaan seorang diri, beberapa karyawan tampak tampak menunduk dan menyapanya.
Arbian hanya tersenyum kepada orang yang lebih tua darinya, itulah yang membuat karyawan wanita yang masih muda terkadang iri kepada mereka.
"Pak Arbian kapan ya senyum liat kita," Ucapnya menyenggol lengan teman di sampingnya.
"Mungkin kamu perlu nikah dan punya anak dulu baru di senyumin," Jawaban temannya itu membuat ia mendengus dan memilih kembali bekerja.
Arbian sampai di lantai atas dan bertemu Randi yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Yan lo nolak tawaran gue kemarin?" Tanya Randi mendekati Arbian.
"Gue bilang jangan aneh-aneh," Ucapnya kesal, masih pagi tetapi Randi terus mengusiknya.
"Ya elah yan, lo kalo bingung ngajak dia dateng, bilang aja nenek yang nyuruh,"
Perkataan Randi membuat Arbian menoleh. Randi yang merasa dirinya di tatap tajam oleh Arbian segera berlari menuju pantri.
Arbian masuk ke dalam ruangan dan merenungkan perkataan Randi tadi.
__ADS_1