World For You

World For You
BAB 14


__ADS_3

"Kamu nolak cucu saya?" Perkataan itu mendapat beberapa respon berbeda dari mereka.


Arbian yang terkejut mendengar pertanyaan frontal dari neneknya sedangkan Fietta yang tidak mengerti arah pembicaraan itu dan juga Keynan yang kini sibuk dengan ponsel saat pacarnya mengirimi pesan.


"Nek jangan aneh-aneh,"


Sebenarnya ia ingin segera menarik neneknya pergi menjauh dari meja itu namun Arbian memikirkan jika neneknya akan susah jalan jika ia tarik.


"Maaf nek, saya tidak mengerti," Tunduk Fietta, ini pertama kalinya mereka bertemu tetapi Fietta merasa seperti sudah melakukan kesalahan.


"Kamu tidak ingin memperkenalkan pria ini dengan saya?" Ucap Arbian pada akhirnya.


'kok serasa di intogasi pacar ya' pikir Fietta.


"Kenalin ini Keynan, sepupu aku,"


Mata Arbian yang sedari tadi menajam kini kembali biasa, ada rasa lega di hatinya mengetahui pria itu sepupu Fietta.


Nenek yang mendengar itu tersenyum dan menggenggam tangan Fietta, itu artinya cucunya masih ada kesempatan.


"Kamu sudah punya pacar sayang?"


"Nek!"


Nenek Dian segera menatap tajam Arbian agar diam.


"Belum nek," Jawab Fietta jujur.


Perkataan Fietta membuat Arbian terdiam, tanpa sadar rahang yang sedari tadi mengeras kini mengendur, keningnya mengeryit saat mengingat pacar Fiettta yang bernama Barga, apa mereka putus?


"Baiklah nak, maaf kami mengganggu acara makan kalian, lain kali nenek akan senang jika kamu main ke rumah nenek" Ucapnya melirik makanan yang sudah ada di meja tapi tak di sentuh.


"Baik nek," senyum Fietta seadanya dan matanya melirik ke arah Arbian yang menatap ke arah lain, seperti ada yang di pikirkan.


Nenek Dian tersenyum puas dan menepuk pelan bahu cucunya membuat pria itu tersentak.


"Apa yang kamu pikirkan? ayo pulang nenek sudah puas jalan-jalan," Ucapnya berjalan duluan, sebelum itu ia menepuk bahu Fietta pelan.

__ADS_1


Arbian dan Fietta saling tatap sebelum akhirnya Arbian berlari menyusul neneknya untuk di tuntun, walau terlihat masih bugar namun Arbian tetap waspada, apalagi di umur neneknya yang sudah 75 tahun ini.


"Dia wanita yang cantik, kamu jangan nyerah loh bian," Ucap nenek Dian kepada cucunya yang memegang erat lengannya saat ramai.


"Nek, apa nenek pikir Bian orang yang suka nyerah begitu saja?"


Nenek Dian menatap profil samping cucunya, ia paling mengetahui bahwa Arbian pantang menyerah saat ingin melakukan sesuatu, ambisinya besar dan jika sudah memutuskan sesuatu maka tidak bisa di batalkan.


"Kamu memang keturunan nenek," Nenek Dian tersenyum puas, ia mengingat sifatnya dulu yang penuh ambisi dan keras kepala.


*


Setelah berdua kembali Keynan meletakkan pomselnya dan menatap Fietta yang kini mulai makan.


Melihat tatapan Keynan Fietta menghentikan makannya.


"Kenapa?"


"Yang tadi gebetan lo kak?"


Fietta dengan cepat menggeleng, mereka baru beberapa kali bertemu jadi tidak bisa di bilang gebetan apalagi Arbian juga tidak ada sikap yang mengutarakan dia menyukai Fietta.


Keynan tidak langsung percaya begitu saja, ia masih mengamati wajah Fietta membuat Fietta jengah dan meletakkan dengan kasar sendok di piringnya.


"Kamu liat apa! tadi bilang lapar sekarang gak di makan," kesal Fietta.


Keynan tahu Fietta sangat jarang marah tetapi ia tidak pernah mendapat sasaran marah Fietta selama ini.


"Maaf," Ucap Keynan kemudian mulai mencoba makanannya.


Selesai makan Keynan mengantar Fietta pulang sampai rumahnya.


"Kamu tinggal di mana?" Tanya Fietta karena Keynan menolak untuk menginap.


"Rumah teman, besok gue pagi gue harus pulang kak,"


Fietta akhirnya menganggukkan kepala dan mengucapkan hati-hati sebelum motor Keynan melaju kencang.

__ADS_1


Fietta masuk sembari menenteng beberapa paper bag berisikan tas karena Keynan tidak suka tas yang di pakai Fietta, menurutnya itu sudah ketinggalan zaman, Fietta ingat jika ia tidak mengganti tasnya semenjak masuk kuliah.


*


Di pagi hari Fietta yang sedang sarapan mendapat telepon dari tantenya, Fietta menebak apa yang akan di bicarakan tantenya itu.


"Hai tan," sapa Fietta.


"Sayang, kamu ketemu Keynan kemarin? dia bolos sekolah dan teman-temannya yang lain engga tahu di mana?" dari ucapannya tante Lea panik.


Fietta memijat alisnya mengingat kelakuan Keynan, pria itu tidak pernah tidak membuat masalah.


"Kenapa tante nanya sama aku? kita beda pulau loh tan," Ucap Fietta yang masih merahasiakan keberadaan Keynan.


"Tante cuma kepikiran kamu, beberapa hari kemarin Keynan nanyain kamu dan dia bilang kangen,"


Fietta hampir tertawa mendengar itu, Keynan tidak akan mengaku kalau di tanya langsung, harga dirinya sudah setinggi langit.


"Maaf ya tan kemarin lupa bilang, Keynan kemarin nyamperin aku di kampus tapi dia bilang hari ini bakal pulang," jujur Fietta akhirnya.


"Itu anak emang ya harus di kasih pelajaran, gak pamit sama orang tua," dumel tante Lea yang sudah hampir menyerah dengan kenakalan putranya.


"Ya sudah sayang tante gak ganggu kamu lagi, love you,"


"Love you too tante Lea,"


Selesai dengan ponselnya Fietta kembali melanjutkan makan yang tertunda.


Hari ini ia ingin main bersama Carla seharian di luar.


tin..tinnn..


Fietta berdiri dan berjalan menuju pintu, Carla tampak melambaikan tangan di dalam mobil.


Setelah Fietta duduk di samping Carla yang mengemudi baru lah mobil itu berjalan.


"Kita mau kemana?" Tanya Fietta karena belum mengetahui tujuan mereka.

__ADS_1


"Rahasia, pokoknya kita hari ini senang-senang sampe puas," ucap Carla dengan gembira, melihat itu Fietta tersenyum dan tak sabar mengunjungi beberapa tempat yang tidak pernah ia kunjungi.


__ADS_2