
Langkah Fietta berhenti di depan sebuah ruangan yang bertulisan CEO. Dengan ragu ia mengetuknya dan suara Arbian tampak terdengar dari dalam yang menyuruhnya masuk.
Fietta membuka pintu dan melihat postur Arbian di meja kerjanya sedang menandatangani dokumen dengan wajah seriusnya.
Mendengar tidak ada suara Arbian mendongak dan terkejut saat sudah ada Fietta di depannya. Ia segera berdiri dan menghampiri Fietta yang tersenyum ke arahnya.
"Kamu gak bilang aku kalau sudah nyampe," Ucap Arbian seraya memeluk Fietta yang sudah beberapa hari tidak ia lihat.
"Aku tahu kamu sibuk," Ucap Fietta membalas pelukan Arbian.
Selama mereka menjalin hubungan yang menurutnya mendadak kini Fietta merasa nyaman karena Arbian memberikan perhatian yang tidak pernah di dapat Fietta saat bersama dengan Barga dulu.
Arbian melepaskan pelukannya dan menarik pelan tangan Fietta menuju sofa.
Fietta membuka bekalnya dan menyerahkan pada Arbian.
"Aku buat ini, tapi entah kamu suka atau engga," Ucap Fietta memberikan kotak berisi nasi dan daging kecap yang ia buat sendiri.
Arbian memyuapkan satu sendok pada mulutnya, saat mencoba matanya secara otomatis mengarah kepada Fietta yang gugup takut makanannya tidak sesuai dengan lidah Arbian.
"Ini beneran kamu yang masak?" Tanya Arbian memastikan.
Fietta mendengus dan wajahnya berubah cemberut mendengar perkataan Arbian yang tidak sesuai ekspetasinya.
Arbian terkekeh pelan melihat wajah Fietta dan kembali melanjutkan makannya sampai habis.
Melihat Arbian menghabiskan makanan dengan cepat senyum Fietta kembali terbit.
"Sebentar lagi aku rapat, kamu gak papa nunggu di sini?" Tanya Arbian setelah menyelesaikan makannya.
Fietta hanya mengangguk dan Arbian yang gemas mengacak-acak rambut Fietta membuat wanita itu berdecak sebal.
Arbian berdiri dan membawa Fietta ke sebuah ruangan yang biasa ia jadikan tempat untuk tidur di saat lembur.
Fietta masuk ke ruangan itu dan memperhatikan sekeliling, ruangan ini hampir sama dengan luas kamarnya.
"Kamu bisa tidur di sini kalau aku lama,"
Fietta mengangguk dan Arbian menarik tangan Fietta untuk mendekat dan mencium puncak kepalanya membuat tubuh Fietta menegang kaku.
"Aku rapat dulu," Pamit Arbian dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Fietta yang masih terpaku di tempat.
*
__ADS_1
Arbian masuk ke dalam ruangan setelah menyelesaikan rapat yang ternyata memakan waktu lama, melihat ruangannya sepi Arbian membuka ruangan satunya dan melihat Fietta tertidur.
Senyum Arbian tersungging dan mendekati Fietta, ia menatap lekat wajah tidur Fietta kemudian mengusap pipinya pelan membuat tidur Fietta sedikit terganggu.
Fietta membuka matanya dan melihat Arbian yang kini dekat dengan wajahnya dan tanpa sadar menarik leher Arbian sampai hidung keduanya bersentuhan.
Arbian terkejut dan memandang mata Fietta dari jarak dekat. Wanita itu memandangnya dengan senyum manis membuat pertahanan Arbian hampir goyah.
"Kenapa kamu tampan," Lirih Fietta seakan maaih belum sadar dengan situasi ini.
Arbian bingung apakah harus tertawa di saat seperti ini, ia menahan tubuhnya dan menyingkirkan anak rambut di wajah Fietta.
"Itu takdir," bisik Arbian di telinga Fietta dan membenamkan wajahnya di sela rambut samping Fietta dan memeluk wanita itu dengan erat di tempat tidur.
Beberapa menit dengan posisi itu Fietta akhirnya melepaskan Aebian dan melihat jam di tangannya.
"Ini udah sore," Ucap Fietta dan Arbian pun bangun untuk membantu Fietta agar berdiri.
"Ayok ke rumah nenek," Ajak Arbian menggandeng Fietta keluar.
"Pekerjaan kamu udah selesai?" Tanya Fietta menoleh pada pria di sampingnya.
Arbian menatap Fietta dari samping kemudian mengangguk.
Arbian terus menggandeng Fietta saat sudah di lobby bawah membuat banyak pegawai yang memang ingin pulang memperhatikan mereka membuat Fietta malu dan risih.
Tanpa sadar Fietta mempercepat jalannya dan itu di sadari oleh Arbian yang ikut terseret oleh Fietta, Arbian tersenyum tipis tetapi tetap mengikuti kemana Fietta menariknya.
Setelah memasuki mobil dan meninggalkan perusahaan Fietta hanya diam memandangi jalanan dan Arbian yang sudah menjadi kebiasaannya akan selalu melirik ke arah samping.
Sampai di rumah nenek Dian keduanya turun. Walau sudah pernah ke rumah ini tetapi Fietta tetap merasa gugup walau tidak separah awal.
Arbian menoleh ke samping dan tersenyum tipis kemudian menarik tangan Fietta dan membawanya masuk ke dalam.
Fietta melihat nenek Dian sendirian di ruang keluarga sedang menonton berita dan wanita tua itu menoleh saat mendengar suara langkah.
Fietta tersenyum melihat nenek Dian yang juga tersenyum seraya menyuruhnya mendekat.
"Apa kabar nek?" Tanya Fietta tersenyum setelah duduk di samping nenek Dian sedangkan Arbian duduk tidak jauh tetapi matanya terfokus pada keduanya.
"Sehat, nenek bukan wanita lemah,"
Arbian dan Fietta saling pandang kemudian tersenyum. Nenek Dian tampak menepuk-nepuk tangan Fietta di genggamannya.
__ADS_1
"Mamah mana nek?" Tanya Arbian karena melihat rumah itu sepi.
"Mamah kamu pulang karena di telpon,"
Wajah Arbian berubah menjadi datar dan itu terlihat oleh Fietta.
"Aku ke atas dulu," Ucap Adbian dan langsung menaiki tangga dengan langkah tegas.
Melihat kebingungan Fietta nenek Arbian tersenyum hangat.
"Kamu jangan bingung, hubungan Arbian dengan papahnya buruk jadi mood Arbian kadang berubah kalau mendengar mamahnya pulang ke rumah yang di tinggali papahnya,"
Fietta yang masih bingung memilih mengangguk dan tidak bertanya lebih jauh takut menyinggung.
"Kamu bisa samperin dia ke kamar, tahu kamarnya kan?"
Fietta mengangguk kemudian menaiki tangga menuju kamar Arbian.
Saat sudah di depan kamar Arbian Fietta menjadi ragu tiba-tiba untuk mengetuk.
Tanpa di duga Arbian membuka pintu dan menarik pinggang Fietta masuk ke dalam kemudian menutup pintu.
Fietta mengerjapkan matanya masih terkejut dengan kejadian tadi apalagi kini Arbian memeluknya di balik pintu.
"Kamu tahu aku di depan?" Tanya Fietta hati-hati dan merasakan kepala Arbian mengangguk di bahunya.
Fietta mengelus punggung Arbian perlahan, ia hanya tahu cara itu untuk menenangkan seseorang dari ajaran Arsyita.
"Insting aku kuat," Ucap Arbian.
"Kamu masih bercanda," Fietta memegang bahu Arbian dan mendorongnya pelan sampai kini ia bertatap dengan mata sendu pria itu.
"are you okay?" Tanya Fietta hati-hati dan hening beberapa detik sampai akhirnya kepala Arbian menggeleng.
"Aku benci saat mamah kembali dengan pria yang bahkan sudah berhianat," Ucap Arbian lirih.
Fietta tidak tahu harus berkata apa dan hanya menggenggam kedua tangan Arbian dan menariknya untuk duduk di pinggir ranjang.
"Mengapa wanita dengan bodohnya percaya padahal sudah di khianati? aku pernah berpikir kamu juga bodoh saat masih pacaran dengan mantan kamu itu padahal kamu di selingkuhi," Ucap Arbian dan menatap mata Fietta.
"Ketika kamu punya perasaan tulus kamu akan mencintai dia apa adanya, kamu akan menerima segala kelebihan dan kekurangannya, dan engga semua wanita itu kuat bi, aku tahu aku bodoh dan aku sudah mengakhiri masa itu,"
Fietta tersenyum hangat pada Arbian dan kembali memeluknya.
__ADS_1
"Mamah kamu wanita kuat bi, bukan bodoh, dia hanya memperjuangkan keluarganya,"