
Paginya Fietta terbangun karena bunyi ponsel di meja nakasnya. Dengan masih nyawa yang belum terkumpul Fietta mengambil ponselnya dan tanpa melihat siapa yang menelpon Fietta mengangkatnya dengan mata masih terpejam.
"Halo," Ucap Fietta dengan pelan karena masih mengantuk.
Tampak di seberang sana hening tanpa suara dan itu membuat Fietta mengernyit kemudian membuka matanya untuk melihat nama yang tertera.
Setelah memastikan ternyata Arbian Fietta kembali menaruhnya di telinga.
"Bi? kamu ngapain nelpon aku tengah malam?" Tanya Fietta karena di luar masih gelap dan alarmnya juga belum berbunyi.
"Ini lima sayang, bangun, aku tahu kamu lama dandan," Ucap Arbian dengan tenang.
Fietta menghela nafas dan mencoba sabar.
"Bi aku bukan pengantinnya, aku cuma tamu," Ucap Fietta memperjelas kedudukannya sebagai tamu.
Arbian kembali diam sebentar kemudian berbicara dengan senyuman.
"Kamu nyonya Arbian,"
Fietta tidak bisa menghentikan semburat merah di pipinya mendengar ucapan Arbian.
"Aku tahu kamu salting," Tambah Arbian yang bisa membuat ekspresi Fietta seketika berubah menjadi kesal.
Tanpa kata Fietta mematikan sambungan secara sepihak dan menatap tajam ponselnya yang tidak bersalah.
Fietta bangkit dari kasur dan pergi ke kamar mandi karena sepertinya memang benar apa yang di ucapkan Arbian, saat Fietta selesai mandi dan membuka pakaian yang di beri Arbian seketika Fietta terkejut. Gaun itu sangat cantik walau tidak terlalu mewah dan Fietta sangat suka pakaian yang simpe.
Fietta segera menyiapkan alat make up kemudian merias diri, jarang bagi dirinya untuk memakai make up karena kesehariannya adalah pergi ke kampus dan cafe kalau tidak berdiam diri di rumah.
Selesai make up seadanya dan tidak berlebihan Fietta melihat jam yang sudah lewat dari jam 6.
Fietta turun ke bawah dan menemukan bi Ani yang baru akan membuat sarapan.
"Pagi bi," Sapa Fietta dan duduk di meja makan.
Bi Ani menoleh dan membalas sapaan itu dengan senyum senang karena penampilan cantik nonanya.
"Masya allah cantiknya," Ucap bi Ani takjub.
Fietta tersenyum malu dan segera memanikan ponselnya agar tidak di sadari oleh bi Ani sikap salah tingkahnya.
__ADS_1
"Bi aku sarapan roti aja,"
Bi Ani menoleh dan mengacungkan jempol kemudian bi Ani memilih memasak nasi untuk makan siang nanti.
Fietta menyiapkan roti dan selai kemudian dengan tenang melahapnya.
Tok..tokkk..
Mendengar suara pintu otomatis Fietta dan bi Ani saling pandang. Fietta segera mempercepat kunyahannya dan berdiri dari duduknya untuk membuka pintu.
Begitu pintu terbuka Fietta dapat melihat postur belakang pria yang sangat di kenalnya.
Arbian yang mendengar pintu terbuka segera membalikkan badan dan cukup terpana pada penampilan Fietta sekarang.
"Mau berangkat sekarang?" Tanya Fietta karena Arbian hanya fiam memandanginya.
"Cantik," Ucap Arbian pelan tanpa sadar namun Fietta bisa mendengar walau tidak terlalu jelas, pipi Fietta lagi-lagi bersemu merah dan ia segera menagkup pipinya sendiri karena takut akan di lihat Arbian.
Seakan baru tersadar Arbian mengerjabkan mata tetapi tidak jadi merutuki diri saat melihat Fietta pipinya memerah.
Arbian terkekeh kemudian menggenggam tangan kanan Fietta.
"Aku ambil tas dan ponsel dulu," Ucap Feitta kemudian lari ke dalam dan beberapa menit kemudian datang dengan menenteng tas.
Arbian dan Fietta masuk ke dalam mobil dan segera menuju ke kediaman Bella.
Sampai di sana Fietta dapat melihat banyak mobil sudah berjejer rapih di depan rumah Bella. Acara pesta di gelar di halaman depan dan samping rumah Bella karena di sana luas bahkan melebihi luas halaman rumahnya dan juga rumah nenek Dian.
Arbian tampak membukakan pintu untuk Fietta dan segera menggandenganya menuju tempat acara.
Saat keduanya masuk, semua mata terarah ke arahnya mereka dan itu membuat Fietta merasa tidak nyaman namun Arbian terus menggenggam erat tangan Fietta yang di apitnya.
Nenek Dian tampak bercengkrama dengan beberapa tamu pun ikut melihat ke arah mereka karena melihat tamu-tamunya terfokus pada sesuatu.
Melihat Fietta dan Arbian yang sudah datang nenek Dian tampak senang dan segera pamit pada para tamu yang tadi mengobrol dengannya kemudian berjalan menghampiri.
Fietta dan Arbian menghentikan langkah mereka saat nenek Dian berhenti tepat di hadapan keduanya dengan senyum.
"Nek," Sapa Fietta tersenyum tipis.
"Kamu cantik sekali Fietta, ayok ikut nenek kenalan sama yang lain," Ucap nenek Dian dan segera menarik Fietta sampai Fietta harus melepaskan lengan Arbian karena tarikan itu.
__ADS_1
Arbian mendengus dan memasukkan kedua tangannya di kantung celana seraya menatap ke arah mana neneknya membawa pacarnya.
"Halo semua, perkenalkan ini pacar cucu saya," Ucap nenek Dian saat sudah berada di hadapan teman-temannya.
Fietta melihat ke arah 3 wanita itu yang mungkin umurnya tidak beda jauh dari nenek Dian dan memcoba tersenyum ramah.
"Wah cantik, kamu kerja di mana?" Tanya salah satu dari mereka.
Fietta sebenarnya gugup saat ini dan bingung ingin menjawab apa.
"Dia sedang menyusun skripsi, doakan tahun ini wisuda ya," Jawab nenek Dian mewakili Fietta.
Fietta segera menoleh pada nenek Dian namun nenek Dian hanya tersenyum menenangkan membuat Fietta mau tidak mau merasa bersyukur bisa bertemu dengan nenek Dian.
"Wah masih kuliah ternyata, anak saya tahun kemarin juga wisuda dan sekarang alhamdulillah sudah menjadi pengacara," Ucap wanita itu lagi dengan senyum.
Fietta hanya membalas senyuman itu dan tak mengatakan apa-apa lagi. Nenek Dian juga tidak menanggapi dan kembali menarik Fietta untuk menemui para tamu.
Arbian memilih duduk di salah satu bangku karena bosan menunggu Fietta yang belum di kembalikan padanya tetapi matanya tidak lepas dari wanita itu.
Fietta merasa tidak berdaya dan hanya diam jika nenek Dian sedang mengobrol seru dengan beberapa orang.
Nenek Dian menoleh ke Fietta dan melihat wajahnya yang lelah.
"Kamu hampiri Arbian, kasihan juga lama-lama," Ucap nenek Dian membuat Fietta segera menoleh dan mencari keberadaan Arbian kemudian melihat pria itu duduk tak jauh darinya dengan mata menatapnya.
Fietta segera mendekat ke arah Arbian dan duduk di sampingnya.
"Aku pikir kamu lupa kalau punya pasangan," Icap Arbian dengan masih menatap depan seakan tidak menyadari ada orang di sampingnya.
Fietta menoleh ke arah Arbian yang cemberut dan tidak bisa menahan tawa.
"Maaf bi, alu gak bisa nolak nenek," Ucap Fietta dengan rasa bersalah.
Arbian tidak menjawab tetapi tangannya dengan cepat merangkul bahu Fietta dan keduanya menatap Randi dan Bella yang baru datang dengan wajah bahagia mereka.
Fietta melihat keluarga besar Arbian dan juga Bella tampak berjalan di belakang mereka.
Namun tatapan Fietta jatuh pada pria yang berada di kursi roda dengan di dorong oleh sandra, mamah Arbian.
Fietta segera menoleh pada Arbian tetapi melihat pria itu seakan menahan marah, terbukti dari rahangnya yang mengeras dan juga kepalan tangannya yang kuat.
__ADS_1