
Arbian memasuki apartemen dengan langkah ringan setelah menghantar Fietta pulang. Siapapun bisa melihat suasana hatinya sangat baik di banding beberapa hari yang lalu.
Setelah masuk kamar dan mengganti pakaiannya dengan piyama ia mengambil ponsel dan bersandar di tempat tidur.
Melihat beberapa email masuk kemudian membuka ruang obrolannya dengan Fietta yang terhenti 3 hari yang lalu.
Arbian baru sadar jika kemarin sudah bersikap kasar pada Fietta dan malah melupakannya begitu saja. Tetapi Fietta tidak membahas hal ini dan tentu saja itu membuat Arbian menjadi kepikiran.
Ia kemudian meletakkan ponselnya dan mematikan lampu sebelum berbaring di tempat tidur.
Di pagi hari seperti biasa Arbian bangun tanpa harus menggunakan alarm karena itu sudah menjadi jam biologisnya terbangun tepat waktu.
Arbian membuka jendela kamar dan setelah beberapa saat berdiri di depan jendela ia masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah siap-siap dengan pakaian kantor Arbian mengambil kunci mobil dan mengambil mobilnya menuju perusahaan.
Tampak beberapa pegawai hilir mudik di lobby dan menyempatkan menegurnya tetapi Arbian menanggapi dengan anggukan kepala atau senyum tipis pada yang lebih tua.
Sampai di ruangan Arbian tidak langsung bekerja tetapi memegang ponselnya dan mencari nama Fietta.
Beberapa detik berdering akhirnya pihak lain mengangkatnya.
"Halo?"
Arbian mendengar nada serak dari suaranya seakan pihak lain baru bangun tidur.
"Kamu baru bangun?" Tanya Arbian mengernyit karena ini sudah lewat jam 7 dan biasanya Fietta selalu bangun pagi.
"Hm, harusnya aku masih tidur kalau bukan karena seseorang nelpon aku," Ucap Fietta dengan nada lelah.
Arbian tidak bisa menahan senyum mendengar nada keluhan wanitanya.
"Kalau begitu sebagai permintaan maaf aku akan kasih apa yang kamu mau," Tawar Arbian dengan senyum kecil.
Fietta di seberang sana yang matanya bahkan masih setengah tertutup tiba-tiba bangkit dari tidurnya dan duduk dengan semangat.
Arbian tidak bisa melihat namun bisa merasakan emosinya dari suara di ponsel.
"Beneran? apapun?" Tanya Fietta mencoba meyakinkan.
Arbian tampak diam, ia sepertinya memikirkan apa yang akan di minta wanita itu normal atau tidak.
__ADS_1
"Selagi bukan hal aneh aku terima," Ucap Arbian santai dan duduk di kursi kerjanya tetapi tidak menyentuh pekerjaan, hanya bersandar di kursi.
"Oke, aku undur, kalau aku sudah nemu aku kasih tahu,"
Arbian dengan ringan menyetujui dan setengah mengobrol beberapa kata sambungan itu terputus.
Arbian melihat tumpulan berkas dan dengan sikap santainya ia membuka dan membaca laporan.
Menjelang siang Randi berjalan menuju ruangan Arbian untuk melakukan rutinitasnya dalam membujuk pria itu tetapi langkahnya terhenti saat tinggal lima langkah lagi karena pintu ruangan Arbian terbuka.
Arbian membuka pintu dan melihat Randi menatap terpaku padanya.
"Ada apa?" Tanya Arbian santai dengan memasukkan tangannya di kantung celana.
Randi menutup mulutnya saat sadar ia menganga.
"Lo mau kemana yan?" Tanya Randi.
"Makan siang, lo gak liat jam?" Jawab Arbian dan berlalu begitu saja meninggalkan Randi yang lagi-lagi terkejut.
"Tuh anak yang di ajak makan kaya ngajak kawin sekarang dengan santai keluar sendiri buat makan?" Gumam Randi pada dirinya sendiri.
Arbian dan juga Randi memilih makan di kantin kantor, keduanya memang jarang makan di sana dan itu membuat banyak karyawan memandang mereka secara diam-diam.
Dalam makannya mata tajam Randi menelisik Arbian yang masih santai memakan nasinya. Pria itu curiga jika Arbian hilang ingatan karena kepalanya terjeduk lemari.
Arbian menyelesaikan makannya dengan cepat kemudian berdiri tanpa menatap Randi yang piringnya masih banyak lauk karena sedari tadi sibuk memperhatikan Arbian.
Melihat Arbian menjauh, Randi mencibir dan manyuap dengan kasar makanan ke mulutnya.
*
Fietta tampak santai membaca buku di sofa kamarnya, sudah beberapa menit ini ia duduk diam dan menunduk membaca novelnya.
Tanpa terasa Fietta segera menghabiskan bacaannya dan menutup buku, ia meminum es jeruknya hingga tandas setelah di rasa hausnya meningkat.
Ia kemudian menggulung rambutnya dan keluar dari kamar menuju lantai bawah.
Bi Ani tampak menyapu ruangan dan berhenti saat melihat Fietta keluar dari kamar dan berjalan menuju sofa ruang tamu kemudian merebahkan tubuhnya di sana.
Bi Ani menggelengkan kepala, Fietta sepertinya berada dalam mode malas yang tidak bisa di cegah.
__ADS_1
"Non ini sudah mau sore, mau bibi bikinin makanan?" Tanya bi Ani karena siang ini Fietta belum makan apapun.
Fietta mendongak dan menatap bi Ani sampai akhirnya kepalanya menggeleng, ia tidak nafsu makan hari ini.
Karena semalaman mengobrol dengan Carla lewat telpon dan Fietta tidak bisa tidur malam kemarin, itu sebabnya di siang hari Fietta merasa lelah.
Fietta tiba-tiba teringat sesuatu dan ia segera mengambil ponselnya untuk mengetik sesuati kemudian terkikik.
Di tempat lain Arbian selesai menandatangani berkas dan saat akan membuka laptop ponselnya bergetar menandakan pesan masuk.
Melihat nama pacarnya secara otomatis sudut bibir Arbian berubah dan segera melihat isi pesan.
"Bi, aku lapar tapi bingung mau makan apa,"
Arbian menatap layar ponselnya dan hanya diam saja, tangannya tidak bergerak untuk membalas pesan itu beberapa saat tetapi akhirnya masih bisa membalas.
"Kamu pilih, aku beliin," Ketik Arbian dan mengirimkannya.
Beberapa detik terlihat jika Fietta masih mengetik.
"Aku bingung, kamu punya rekomen bi?"
Arbian sekarang curiga jika pacarnya itu sedang mengerjainya tetapi ia masih mengikuti alur itu.
"Tunggu di rumah, aku ke sana,"
Selesai mengetik itu Arbian bangkit dan mengambil jasnya di sandaran kursi sebelum akhirnya keluar ruangan.
Randi sedang mengobrol dengan Doni tetapi percakapan mereka terhenti saat melihat Arbian keluar dari ruangan dengan membawa jas. Keduanya saling pandang dan sama-sama mendelikkan bahu dan kembali mengobrol.
Arbian sebenarnya jarang menggunakan supir, ia hanya memanggilnya beberapa kali jika sedang lelah menyetir dan saat ingim menyetir sendiri sang supir akan kembali ke rumah nenek Dian dan istirahat di sana.
Arbian mengemudikan mobilnya dengan santai tanpa terburu-buru. Beberapa menit perjalanan Arbian berhenti di sebuah restoran jepang dan memesan makanan untuk di bawa pulang kemudian mengemudi lagi dan berhento di sebuah restoran korea sampai seterusnya.
Di sisi lain Fietta tampak kebingungan dengan ucapan Arbian tadi yang bilang ingin ke rumah. Ia tidak bisa menahan rasa gugup dan hanya memandangi jendela dari balkon kamarnya.
Butuh waktu lama Fietta menunggu sampai ia melihat mobil yang sangat di kenalnya memasuki halaman rumah.
Fietta terpaku dan tanpa sadar bergumam saat melihat siapa yang keluar dari mobil.
"Papa," Gumamnya tanpa sadar.
__ADS_1