
"hey dev, udah lama?"
"ngak, baru juga. lo ngapain suruh gue kesini?"
"santuy bro, pesan makan dulu gih.ohya lo gak kerja?"
"ngak, haris bilang tidak usah buka dulu hari ini. dia ada urusan, jadi tak ada yang bisa membantu. cafe kecil yang hanya ada gue dan dia. wajar saja kalau dia sesuka hati buka tutup"
"oh gitu, lo mau pesan apa nih ?"
"bakso aja deh, sama tambah minuman satu lagi, minuman gue udah mau ludes nih"
"oke, bakso dan melirik gelas devin jeruk dinginkan?"
"yup"
~ ~ ~
"loh, bukannya itu ?"
ia pun segera mengambil ponselnya
"cie yang lagi asyik mesraan sama eyza"
tingting
"loh, kok lo bisa tau gue lagi sama eyza?" balasnya
"haha, gue kan bisa melihat lo dimana pun lo berada, dan sama siapapun. karena jiwa kita terikat" devin kini menggodanya
"idih, najis. mau muntah gue dengarnya." balasnya
"haha gue bercanda. selamat makan marry, makan yang banyak biar cepat besar ya nak" *mengirimkan pesan sambil tersenyum
sebenarnya mereka duduk tak terlalu berjauhan, beda beberapa meja saja. hanya saja devin memakai topi, yang sedikit menutupi wajahnya*.
~ ~ ~
"apa jangan jangan, selama ini yang ikutin gue tu dia ya?" fikirannya terlintas sambil memegang ponsel, dan membuat dia berkata tanpa sadar
"siapa marr?" jawab eyza dan holly bersamaan, saat mendengar ucapan marry
"haa? apanya" dengan wajah yang mulutnya agak terbuka
"tadi yang lo bilang, siapa yang ikutin lo selama ini. dan memegang dagu marry tutup ni mulut. mau makan lalat lo? "
"cih, ngaklah."
__ADS_1
"jadi siapa marr?" kini eyza yang bertanya
"gue, gue rasa mungkin devin."
"lo punya buktinya? ayo kita ketempatnya"
~~ ~
memandangi sebuah foto di ponselnya
"tak terlalu buruk, dasar perusak. dia seharusnya jadi milik gue. tapi tenang aja sebentar lagi dia akan menjadi milik gue"
~ ~ ~
"jadi lo sebenarnya mau ngapain sih suruh gue kesini, rio?"
"gue kangen aja sama lo haha."
"gue serius"
"oh, bokap gue kemarin bertemu nenek dari pihak ibu lo. dia menyuruh gue samperin ke lo untuk datang berkunjung ke rumahnya" menyodorkan alamatnya
"untuk apa lagi menyuruh gue kesana, kemana mereka selama ini ? ibu dan ayah gue sampai begini. meraka ke pemakaman pun tidak ada. gue telah memutuskan hubungan keluarga dari mereka semua, baik itu dari pihak ibu gue atau ayah gue"
"setidaknya lo harus dengerin penjelasan mereka vin"
"nenek lo sakit parah, mungkin beliau ingin berjumpa sebelum menghembuskan nafas terakhir. lo baiknya fikirin lagi dengan kepala dingin."
"hah menghelakan nafasnya dan menyantap makanannya"
~ ~ ~
"loh, tutup marr. sepertinya kita tak bisa menjumpai nya hari ini"
"eh gue kan punya nomor dia, gimana kalau kita ketemu diluar aja? biar gue chat" jelas holly sambil menunjukan hpnya
"ya baiklah" jawab marry
~ ~ ~
"vin, bisa ketemu sebentar ? di cafe rindu, tak jauh dari cafe bucyins" pesannya pada devin
tengteng.
"sekarang?" balasnya
"yuhu, sekarang. gue tunggu.penting,tentang marry"
__ADS_1
"oke baiklah, gue kesana." balasnya cepat.
~ ~ ~
mendengrkan tentang marry, devin yang sedang makan bersama kawannya rio. kini pun meningkalkannya.
"yo, gue cabut dulu ada urusan penting. lo bayarin ya"
"oke"
rio adalah teman masa kecil devin, yang tinggal bersebelahan rumahnya. dan papanya adalah teman dekat ayah devin. mereka sangat dekat bisa dibilang sudah seperti saudara. umur mereka pun hampir setara hanya beda dua tiga tahun saja~
~ ~ ~
"kok bisa rame gitu, gue kira cuma dia sendiri." gumamnya sambil berjalan kearah holly
"maaf, gue lama gak? terus ada apanih suruh gue kesini. katanya ada hal penting?" pertanyaan nya yang bertubi tubi.
"sebaiknya lo jawab jujur"
eyza yang di sampingnya, memegang kerah baju devin dengan tangannya dan wajah yang menahan amarah.
"eh, apa ini?"
"sudah ka, jangan begitu. lepasin." pinta marry, dan eyza pun melepaskan tangannya dari kerah baju devin
"jadi, sebenarnya kita mau tanya. apa lo akhir akhir ini yang mengikuti gue?" *tanya marry dengan serius
deg! aku syok. bagaimana bisa dia...
"apa? ngikutin lo? cih, yang benar saja"
"lo ngaku aja, tadi juga lo tau kan gue sedang bersama eyza"
"hahaha gue cuma nebak aja, siapa sangka ternyata benar" katanya dengan ngeles
"lo ngaku aja, pasti lo kan!" kata eyza dengan muka menahan marah
"vin, kalau lo suka sama marry. lo gak perlu ikuti dan awasi dia. lo cukup tinggal bilang lo suka dia dengan gagah" tambah holly
"gue ngak, bukan gue. bukan gue yang lakuin itu semua.terserah kalian mau percaya apa gak, gue sibuk. gue pulang dulu"
"vin, tunggu" agak berteriak*
devin berjalan meninggalkan mereka tanpa menoleh, meskipun marry meneriaki nya
~ ~ ~
__ADS_1