
devin yang baru saja bangun dari tidur nya, dengan wajah yang lesu menghampiri nenek dan tantenya yang biasanya sudah berada di ruang makan di jam segini. dilihatnya bi ome sedang menyajikan makanan, setelah bi ome meninggalkan mereka bertiga, kini devin memberanikan diri tuk berbicara. ia menceritakan bahwa semalam ia telah berkunjung kerumah marry tuk mempercepatkan tanggal pernikahan. masih dengan alasan yang sama, tante yang mungkin saja biasanya tahu tentang perusahaannya sedikit mencurigainya. dan beralih tuk mengorek informasi sebenarnya. tetapi devin memiliki berbagai alasan tuk menutupi semua itu.
"tante tau kan, bahwa kakaknya si marry robby. bekerja sama dengan kita. jadi perjalanan bisnis ini menyangkut perusahaannya juga, dan itu membuat kami pergi bersamaan." jawabnya dengan asal
"hm, memikir tak lama. terus bagaimana pendapat keluarganya? apa mereka setuju? atau mereka berfikir aneh.?" tanya tante.
"tidak, mereka menyetujuinya." jawab devin sambil mengunyah sarapannya.
"vin,..sebenarnya pasti bukan karna pekerjaan kan? kau takut perut marry susah tuk di tutupi dengan gaun pengantinnya?" kata tante dengan serius membuat devin yang memiliki berbagai alasan tadi sedikit bingung menjawab dan beralih tuk menyerah.
"hehe.. yaa, seperti itu juga salah satunya. nenek dan tante tak masalah kan?" jawab devin dengan tersenyum
"ya baiklah. terserah kau saja." kata tante pasrah
nenek hanya menganggukan kepalanya dengan tersenyum sehingga menunjukan giginya yang tinggal dua batang.
__ADS_1
~ ~ ~ ~
devin yang telah berada di ruangan kantornya kini memainkan kursi nya dengan berputar putar. devin merasakan sedikit terheran heran dengan dirinya. ia yang tadinya sangat membenci robby dan ingin menyiksa marry,menyakiti marry. tetapi malah beralih menjadi menikahi marry dan menjadi calon ayah. perasaan yang tumbuh di hatinya pun membuatnya heran.
"ada apa dengan semua ini? apa ini cinta yang tulus, atau hanya cinta karna ia ibu anak gue. bagaimana dengan semua rencana yang telah gue siapkan sejauh ini? bagaimana dengan orang tua gue? apa gue harus melupakannya?" kata devin pelan
sebenarnya devin tak ingin kehilangan anak dan ibu dari anak nya, tetapi ia juga tak bisa melupakan begitu saja dengan kejadian yang menimpa orang tuanya karna ulah dari robby. devin sangat kebingungan apa yang akan terjadi selanjutnya, memaafkan tak begitu semudah membalikan telapak tangan. tapi sekali lagi ia mengingatkan diri nya sendiri bahwa ia tak ingin kehilangan bayi yang berada di dalam perut marry dan marry. meski ia pun tak tahu sebenarnya ia mencintai marry dengan tulus atau hanya karna bayi yang ia kandung sehingga pernikahan ini terjadi. tapi di sisi lain, ia sangat tak menyukai jika saja marry berhubungan dengan lelaki lain. bukan kah ia sedikit egois? devin bebas berhubungan dengan wanita mana saja. tetapi ia malah melarang marry tuk berhubungan dengan siapa saja. devin yang larut dengan fikirannya menatap langit langit kantornya, tetapi fikirannya menerawang jauh kemana mana. sehingga bunyi ponsel nya berdering pun tak ia angkat. dengan jeda 30 menit pintu ruangannya terbuka.
~ ~ ~~
robby yang tadi nya tak menyetujui pernikahan ini, kini beralih dia yang mempersiapkan semuanya. seperti ia saja ingin menikah. robby telah menyetujui pernikahan ini dengan alasan bahwa ia bilang devin mungkin pria yang baik setelah ia telusuri dan memiliki keluarga yang baik. robby berada di sebuah hotel ternama ia membicarakan berbagai macam tentang persiapan pernikahan marry, dekorasi seperti apa dan menu menu apa saja yang ia ingin kan. kini ia beralih mengajak keluarganya pergi tuk melihat lihat sofenir, masih tetap dengan robby yang memilih sofenir terbaik. ia ingin membuat pernikahan marry sebagus mungkin karna baginya, pernikahan hanya ada satu kali dalam hidupnya. tapi fikirannya sungguh naif, bisa saja pernikahan akan kandas. dan membuat tak menjadi hanya satu kali dalam hidup. mommy, daddy dan marry terheran heran dengan perlakuan robby. mereka saling memandang tanpa bicara, tapi mereka saling tau apa yang mereka bicarakan di dalam hati. setelah selesai memilih dan memesan sofenir. robby mengajak keluarganya ke butik ternama. sesampainya di butik itu. ia pun memilihkan gaun yanh terbaik. tetapi ia tiba tiba saja lupa dengan perut marry dan devin. dengan segera ia menelponnya.
"tunggu sebentar, calon pria nya belum kita undang." kata nya sambil memegang ponsel yang sedang menelpon devin.
mommy dan daddy hanya tersenyum dan menuyuruh marry tuk memakai pakaian yang mereka pilih. ketika marry telah mengganti pakainnya dengan gaun yang dipilih mommy dan daddy marry menunjukan dirinya dengan mommy dan daddynya. mommy dan daddy melihatnya dengan sangat aneh. marry yang melihat tatapan aneh itu pun terheran heran.
__ADS_1
"sayang, kau sepertinya gemukan. jangan banyak makan sebelum hari pernikahan, agar gaun yang kau kenakan bagus" kata mommy yang sebenarnya agak heran dengan perubahan bentuk tubuh marry.
marry beralasan bahwa ia sangat gembira dan membuat nafsu makannya meningkat. ia berjanji akan berdiet sebisa mungkin. mereka mengobrol panjang lebar. mommy memegang perut marry sambil memijit mijit pelan. robby melihat perlakuan mommy pada marry dengan cepat ia menghampirinya.
"apa yang mereka lakukan? dan ada apa dengan devin yang tak menjawab telponnya." kata robby dalam hati sambil berjalan kearah mereka.
"ada apa mom?" tanya robby pada mommy.
mommy menjelaskan bahwa ia sedikit heran dengan perubahan marry dan menyuruhnya tuk berdiet.tiba tiba pembicaraan mommy di potong oleh daddy, daddy bertanya bagaimana dengan devin.
"hah menghelakan nafasnya. aku tak bisa menghubunginya, aku juga tak tau kenapa ia tak menjawab telponnya" jelas robby.
"mungkin dia sedang sibuk, masih ada hari esok robb. tak perlu terburu buru. bukan nya hanya tinggal pakaian ini saja?" jawab daddy santai
"hm, baiklah" kata robby cuek.
__ADS_1