
marry yang merasakan bahagia karna devin mengajaknya kencan setelah sekian lamanya, berdandan dengan cantik, merias dirinya sebaik mungkin agar terlihat berbeda di hadapan suaminya.
saat ia keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu, devin yang menunggu nya di ruang tamu, melihat marry dengan terpana.
"kenapa?" tanya marry yang melihat devin seperti orang kebingungan.
"tidak ada, kau.. terlihat berbeda" jawab devin
dengan tiba tiba, devin beranjak dari duduknya dan mendekati marry.
cup! ciuman mendarat di bibir marry.
"deviiiinnn!!" teriak marry padanya.
bagaimana mungkin marry tidak berteriak, saat suaminya tiba tiba menciumnya lalu meninggalkannya, membuat marry terdiam melihat tingkahnya,dan berteriak saat ia sadar.
devin yang mendengar teriakan marry, hanya tertawa sambil berjalan.
~ ~ ~~ ~
"kita akan kemana?" tanya marry
"nanti juga kau akan tahu" jawab devin
"cih" kata marry dengan memanyun kan bibirnya.
marry melihat pemandangan jalan raya yang tidak begitu macet, dari dalam kaca mobil dengan menyandarkan kepalanya,saat hampir saja marry tertidur, ia di kejutkan oleh devin, karna mereka telah sampai di sebuah mall.
"kenapa kita kesini?" tanya marry dan mengikuti langkah devin.
"sayang, ikut saja. jangan bawel" jawab devin dan menggenggam tangan marry.
devin mengajaknya menonton film horor, yang membuat marry menyandarkan wajahnya di lengan devin, untuk menutup matanya saat hantu itu muncul. selepas dari menonton, devin mengajaknya bermain di sebuah time zone.
"iih, gak mau ah vin. seperti anak anak aja." kata marry menolak ajakan devin
tetapi devin, tidak memperdulikan perkataan marry, dan tetap mengajaknya bermain.,marry hanya melihatnya.
"ayo sayang," ajak devin bermain street basketball
marry sebenarnya ingin menolaknya, tapi hati kecilnya berkata." sepertinya asik" dan membuatnya bermain bersama. marry yang seperti sudah ke asyikan bermain, mengajak devin untuk bermain permainan lain. bermain dengan lupa diri, seperti layaknya anak kecil yang di ajak bermain. hingga lupa bahwa tadi ia sendiri yang berkata tidak ingin bermain, karna seperti anak anak. tetapi sekarang, justru ia yang selalu mengajak devin bermain mencoba satu persatu permainan di situ,
saat bermain.~
"itu bukannya, haris ya?" tanya marry saat melihat pasangan kekasih yang bermain time crisis. sebuah permainan tembak tembakan
yang bisa di main kan berdua.
__ADS_1
devin mendekati pasangan kekasih yang asik bermain itu, dan mengejutkan nya.
"hey! ngapain lo disini, seperti bocah aja." kata devin mengejutkan haris.
"eh, vin" kata haris saat menoleh kearah tangan yang memegang pundahnya.
"yah, kan.. kalah. lo sih vin" sambungnya
"idih, lo aja yang bego, sok nyalahin devin segala. hahaha" kata holly dan berakhir tertawa.
tanpa memikirkan ledekan yang di lontarakan oleh pacarnya, haris justru mengobrol dengan devin.
"eh vin, btw ngapain lo disini? main juga?"tanya devin
"ihh, ogah deh gue main beginian. seperti anak kecil saja." jawabnya santai.
"terus ngapain?" kata devin penasaran
"pas lewat sini, gue gak sengaja lihat lo. jaket dan poster tubuh lo yang gue lihat. jelas menunjukan itu lo, gue kan penasaran. jadi ya gue samperin aja. eh ternyata benar." kata devin dengan alibi yang panjang
marry yang melihat devin berbohong, padahal jelas mereka habis bermain permainan juga. membuat marry tersenyum dan mengeluarkan sedikit tawa, holly yang di dekat marry pun terheran.
"dih, kesambet lo?" kata holly dengan menjeling kan matanya kearah marry
"apasih, yuk ah. ke cafe, laper gue." jawab marry dengan mengajak mereka.
lantai dasar, mereka pun mengobrol dengan panjang. holly menanyakan bagaimana perkembangannya selama ini dengan devin,
"kita sedang dalam program memiliki bayi, doain ya." jawab marry
"wah, bagus tu marr. gue doain yang terbaik deh." kata holly dengan tersenyum lebar.
"ohya, vin. lo kapan nikahin holly?" tanya devin dengan tiba tiba dan membuat seketika hening.
dengan jeda tak lama.
"tau tuh vin, haris lo tanyain." kata holly memecahkan keheningan
"loh, kok gue? kan lo sendiri yang bilang, masih butuh waktu" jawab haris.
marry yang melihat haris dan holly hampir bertengkar karna perkataan suaminya, dengan cepat mengubah topik pembicaraan.
"oh ya holl, gimana kuliah lo?" tanya marry mengalihkan topik
"biasa aja, gak ada lo gak seru loh. kapan lo kuliah lagi ?" jawab holly
"secepatnya," kata marry.
__ADS_1
mereka pun mengobrol panjang lebar, hingga lupa oleh waktu. dan ketika melihat jam telah menunjukan pukul 16.55, marry mengajak devin untuk pulang. mereka pun akhirnya meninggalkan cafe itu bersamaan.
~ ~ ~ ~
saat berada dirumah, devin bertanya pada marry kapan terakhir ia menstruasi. marry berkata bahwa ia lupa, karna tidak mencatatnya kemarin. devin sangat berharap bahwa mereka bisa memiliki seorang anak lagi,
"sabar aja sayang, kalau rezeki gak kemana kok" kata marry dengan memeluk devin.
~ ~ ~
di sisi lain
"ly, lo kenapa sih. selalu aja gak mau dengar kalau gue bahas tentang hubungan kita. lo cinta kan sama gue?" tanya haris saat berada di dalam rumah holly
"yaa, gue rasa. gue belum bisa aja. maksudnya gue bukan gak mausih, tapi lo tau lah, gue masih kuliah. dan gue harap kuliah gue selesai dulu baru deh nikah." jawab holly santai dengan alasannya.
"tapi my lyly, lo tau kan marry? dia gak masalah tuh. menikah saat masih kuliah." kata haris.
"gak semua tuh sama ya fikirannya, tolong deh ngertiin gue.! udah deh lo pulang aja sana. pusing gue!" kata holly dengan nada sedikit menaik.
holly yang sedikit bingung dengan perkataan haris, mengusir haris dengan sedikit memaksa. meski haris tidak ingin pulang, tetapi ia tetap menyuruhnya pulang.
~ ~ ~ ~
ke esokan harinya, marry yang telah bangun awal. membuat kan sarapan untuk suaminya, dan membuatkan dua gelas susu hangat.
saat suaminya telah bangun dan bersiap untuk kerja, devin menuruni anak tangga dan mencari marry di dapur, di lihat nya marry sedang menata meja makan itu dengan sarapan yang telah siap.
"sungguh, aku sungguh beruntung memiliki mu sebagai istri ku." bisik devin dalam hati
devin yang biasanya berangkat ke kantor sendirian, tiba tiba saja. mengajak istrinya untuk pergi bersama, dengan alasan bahwa ia akan mengajarkan tentang perusahaan robby pada marry sedikit demi sedikit, agar marry bisa mengambil alih perusahaan itu. karna ia yang harus membagi waktu untuk dua perusahaan yang ia tangani sangat susah, ketika tante yang tidak bisa datang ke kantor kakeknya, itu yang membuatnya sedikit kesusahan. padahal jelas, devin hanya tidak ingin terpisahkan oleh istrinya. tetapi ia justru membuat alasan seperti itu. marry yang sedikit tergiur oleh tawarannya, akhirnya pun menyiapkan diri nya untuk pergi bersama.
~ ~ ~ ~
setiap pekerja perusahan robby, tentu saja mengenal marry, sepanjang jalan mereka lewat, marry di sapa oleh para pegawai perusahaan robby. hanya memakan waktu tiga jam mereka berada di ruangan robby, devin mengajarkan nya sedikit demi sedikit, marry menanggapi itu dengan cepat. membuat devin lebih mudah mengajarkannya. tepat saat jam makan siang hampir tiba, devin mengajaknya ke perusahaan kakeknya.
saat memasuki kantor itu, marry dilihat oleh para pekerja di kantor kakek devin. perusahaan itu kini telah menjadi milik devin hampir seutuhnya,kakek memberikan warisan perusahaan itu untuk devin. sedang kan tante hanya memiliki sedikit saham di perusahaan itu, tetapi tante mendapatkan warisan aset yang lain nya. bisik bisik para pegawai itu pun mulai terdengar, saat melihat marry berjalan dengan devin. meski mereka awalnya menyapa dan tersenyum ramah, tetapi saat marry melangkah agak menjauh. mereka justru bergosipan.
"hey, itu istrinya kan?" kata salah satu pegawai situ
"ya, iyalah. istrinya." jawab pegawai pria
" tumben tumbennya pak devin membawa istrinya." kata pegawai lainnya disitu.
"iya, jika istrinya secantik itu. kenapa pak devin....." kata salah satu pegawai wanita itu.
"sttt! jangan lo terusin. bisa gawat ntar kita kalau ada yang dengar." sambung pegawai yang lainnya.
__ADS_1