
Jakarta 15 April 2015
Siang yang terik nampak menyengat kulit dan mataku. silau,ahh. aku hanya bisa mendesa dalam hati.dengan pekerjaanku yang sebagai security, itu resiko yang harus saya terimah, berdiri diluar
perkenalkan, aku Dendi. pekerjaan yang saya sudah saya jelaskan tadi, sebagai seorang security di sebuah pegadaian Cipete, Jaksel. ohh iyah aku juga udah menikah dan memiliki seorang putri kecil berusia 4 tahun. meskipun aku bekerja di Jakarta, tapi aku dan sekeluarga tinggal di tangerang.
"ohhh. selamat siang ibu. maaf, ada yang bisa saya bantu? " sapaku kepada wanita paruh baya yang hendak memasuki kantorku.
wanita itu tersenyum. "saya mau gadai pak." ujarnya. lalu aku membukakan pintu dan mepersilahkanya masuk.
aku kembali ke depan kantor. hari itu jalanan terlihat sepi. aku teringat keluargaku dirumah,anakku yang sedang sakit,aku juga membayangkan Hera,dan istriku sibuk dengan kemanjaan anakku aishya.
disaat aku terbuai dengan angannanku. ibu tadi keluar sambil berkata."makasih pak"aku agak tergugup karena kaget. sontak aku tersenyum kembali dan mengucapkan terimah kasih.
aku kembali bersiaga
__ADS_1
Hendro, penaksir barang dikantor yang aku jaga diluar.
"hari ini sepi bangat ya, dandi" ujarnya sambil mengeluarkan sebatang rokok. aku tersenyum
"iyah, nih mas mungkin karna cuaca yang panas jadi orang orang jadi malas keluar." jawabku
aku dan Hendro kembali bercakap cakap sampai rokok yang dia hisap habis.
"aku masuk dulu yah."katanya. aku mengangguk
aku sayup-sayup mendengar suara sirene dari mobil pemadam kebakaran meraung-raung.
lama aku menunggu, mobil pemadam itu tak kunjung kunjung lewat depan kantorku. bisanya, bila ada kebakaran pasti melewati jalan yang di depan kantorku.
karna bosan, aku lalu menyalahkan televisi di pos tempatku berjaga. aku memutuskan melihat berita saja. disana tampak seorang reporter terlihat tengah meliputi sebuah kemacetan yang sangat padat. saat aku mulai mengikuti alur berita yang tengah di wawancarai oleh reporter tersebut. tiba-tiba saja aku melihat ibu-ibu yang berurusan melakukan transaksi tadi kembali ke kantor.
__ADS_1
tapi, setalah aku perhatikan, aku merasah ada yang aneh dengan sosok ibu ini. cara berjalanya seperti orang mabuk. semakin dekat dengan tempatku berdiri, semakin yakin dengan keanehan itu
aku melihat ada bercak dara di pakaianya, aku mulai waspada. ku mencabut tongkat security yang selalu tergantung di celanaku.
berjarak 10 meter, aku terkejut. leher ibu itu tampak koyak dengan tangan patah tampak berjuntai. matanya berwarna biru dengan ditemani urat urat memandangku, mulutnya terbuka, air liur yang menetes membasahi dagunya dan kulit wajahnya pucat.
melihat ini, aku segera membuka pintu kantor dan masuk. aku segera berteriak keras kepada Hendro yang tampak kaget melihatku ketakutan.
"mas, minta kunci pintu.! cepat dikit" aku berteriak.
Hendro segera menyusul ku menberikan kunci pintu." ada apa dand?" tanyanya. aku tidak menjawab, aku hanya bisa menunjuk di luar kantor sambil tetap menahan pintu. Hendro yang melihat diluar berteriak sangat kencang.
saat Hendro memberikan kunci pintu. aku hendak pergi ke depan untuk mengunci pagar. sayangnya Dandi terlambat, ibu aneh itu telah masuk di halaman kantor.
aku kembali masuk ke dalam dan menutup pintu dalam. aku dan Hendro hanya bisa terpaku melihat ibu itu teryata zombie
__ADS_1
bersambung