
Aku mendesah didalam hati, "aisyah.
bunda, maaf."
Kupejamkan mataku. Menunggu tubuh
ini disantap oleh makhluk-makhluk
keparat itu.
Tapi tiba-tiba, kembali suara yang
dahulu pernah menyelamatkan
nyawaku dan Winny terdengar.
"Dor.!
Lalu sekali lagi, dan lagi.
"Dor..dor.dor!"
Segera kubuka mata ini.
Beberapa zombie tampak telah terjatuh.
Beberapa dari mereka gerakannya
terhenti sesaat. Tetapi kemudian
mereka yang tersisa kembali hendak
memangsaku.
Namun, kesempatan yang walau hanya
sesaat segera kugunakan dengan cepat.
Sadar bahwa bahaya memang telah
mengancam. Aku tak ragu-ragu lagi
menggunakan senjata SS-2 ku. Kutekan
pelatuk itu. Peluru berhamburan keluar
dari moncongnya.
"Dor.dor.dor.dor!"
Setelah berhasil menyapu bersih
zombie-zombie sialan yang berada di
depanku. Aku langsung berlari kearah
suara tembakan penyelamatku berasal.
Dari asal suara, tembakan itu keluar dari
arah berlawanan. Jadi aku memutuskan
berlari kembali keluar rumah itu dan
langsung berlari lurus menyusuri tepian
perumahan itu.
Beberapa zombie yang berada
didepanku berhasil aku lewati. Tapi
ada juga yang harus aku terjang atau
kebelah batok kepalanya dengan
samurai.
__ADS_1
Tapi yang paling membantuku adalah
orang yang menyelamatkanku dari
kematian tadi seolah membingbingku
kearahnya dengan cara menembak
zombie-zombie didepanku.
Sebuah rumah bertingkat dua kini jelas
didepanku.
Dari kamar yang terletak dilantai dua,
sebuah cahaya temaram keluar.
"Pasti dari kamar itu asal dari tembakan.
Aku harus kesana " Kataku dalam hati
sambil terus berlari.
Begitu sampai dihalaman depan
rumah bertingkat itu. Mataku melotot
melihat begitu banyaknya jumlah
zombie-zombie disana.
Mungkin puluhan jumlahnya. Mereka
tampak mengerumuni sekeliling rumah
itu.
Sebuah jendela tiba-tiba terbuka dari
arah kamar yang bercahaya itu. Lalu
menyusul keluar.
"Heeei..! Cepat kau cari cara agar
bisa masuk kemari. Aku akan bantu
sebisaku..!" teriaknya. Ternyata pemilik
suara itu seorang perempuan !.
Aku tak menjawab. Tapi mata ini
langsung jelalatan mencari-cari cara
agar bisa selamat.
Zombie-zombie yang berada dibelakang
ku mulai mendekat. Juga beberapa
zombie yang berada di halaman rumah
bertingkat itu juga kini mulai bergerak
mendekatiku.
"Tak mungkin aku bisa masuk dengan
cara menerobos kerumunan makhluk
celaka itu. Peluruku tak mencukupi. Juga
pasti akan membutuhkan baryak tenaga.
Sialaaaan. Bagaimana ini Ayo deddy..
__ADS_1
berpikir."
Aku lalu melihat sebuah rumah
disanping rumah bertingkat itu. Disana
kulihat tak ada zombie seorangpun.
Mungkin karena mereka semua
berkumpul bersama disekitar rumah
bertingkat.
Aku segera berlari kearah rumah
disampingnya. Sebuah pagar tinggi
menghalangiku untuk bisa masuk.
Tanpa pikir panjang lagi, aku lalu
melemparkan tas ranselku terlebih
dahulu kedalam halaman rumah.
Aku lengah. Zombie hampir
berhasil menggigitku bila saja tak ada
suara tembakan kembali terdengar
menyelamatkan nyawaku.
Aku menoleh ke sumber tembakan.
"Cepat " teriak perempuan itu.
Aku lalu dengan cepat menaiki
pagar besi tinggi itu. seorang zombie
kutendang kepalanya ketika ia mencoba
menarik kakiku.
Dan, hup. Akhirnya aku berhasil selamat
masuk kedalam rumah.
Ransel kembali kugendong. Pedang
samurai kusisipkan ditali pinggang. Kini
senjata ss2 kujadikan senjata utama.
Perlahan aku mulai mendekati pintu
rumah. Sepi. Yang terdengar hanyalah
suara berisik yang berasal dari mulut
para zombie yang terjebak diluar pagar.
Kucoba membuka pintu tersebut.
Terkunci.
Aku lalu mundur sedikit. Dengan
beberapa tembakan, pintu itu akhirnya
terbuka.
*BERSAMBUNG*
jangan lupa dukuganya yah dengan cara meberikan vote, like supaya episode selanjutnya cepat apdate dan coment kalau ada kalimat yang salah yah.
__ADS_1
terima kasih