
Benar aja apa yang Toni katakan.
Tak lama kemudian, para zombie
itu mulai muncul didepan kami satu
persatu.
Dan kemunculan zombie itu kami
sambut dengan rentetan tembakan ke
arah mereka.
Suara tembakan senjata api kami saling
bersahutan. Diiringi dengan suara
lenguhan aneh dari para zombie itu.
"Lindungi aku ! Peluruku habis !"
Teriak Tania sembari mengambil cepat
magazine yang ia taruh di tas kecilnya.
Aku yang berada tepat disampingnya
segera melindungi Tania dengan cara
ikut mengarahkan ujung senjataku ke
daerah pengawasan Tania.
"Aku selesai l" Teriak Tania yang
langsung mengarahkan kembali
senjatanya.
Aku kembali mengarahkan senjataku ke
daerah pengawasanku sendiri.
Begitulah, kami saling mengisi satu
sama lain disaat ada diantara kami yang
kehabisan peluru.
Semakin lama, kami menjadi semakin
tenang. Dan mulai menembak secara
efisien. Yang awalnya karena gugup
kami menembak secara serampangan,
kini kami mencoba untuk membidik
langsung ke arah kepala para zombie
itu. Dan hal ini memang sangat berguna
sekali.
Satu demi satu zombie-zombie itu mulai
tergeletak di hadapan kami.
"Sampai kapan kita akan terus
begini ?" Tanyaku tak sabar karena aku
sudah ingin sekali bertemu dengan
keluargaku.
"Sampai mereka tak muncul lagi." Jawab
Toni dengan nafas agak memburu.
__ADS_1
"Brengsek." Aku mengumpat kesal.
Bagaimana tidak, disaat aku sebentar
lagi akan kembali berkumpul bersama
dengan keluargaku. Halangan terus
terusan bermunculan.
Disaat aku sedang merutuki keadaan,
sebuah teriakan tiha-tiba saja terdengar
dari belakangku.
Disitu adalah wilayah yang kami
serahkan kepada Arnold.
"Sialan kau tonii." Teriak Arnold
mengagetkanku.
"Gila." Ikut berteriak sopyan laki-laki
bertubuh besar tapi gemulai disamping
kananku.
Aku menoleh ke belakang untuk melihat
apa yang terjadi. Dan apa yang aku lihat
langsung membuatku memutuskan hal
yang nekad.
Aku menghentikan tembakanku. Segera
ku raih lengan Tania dan Sopyan.
berdua.
Tania masih belum mengerti apa yang
sedang terjadi. Sehingga untuk sesaat ia
agak meronta. Tapi, setelah ia melihat
sendiri kejadian yang membuatku
menarik tangannya. la tidak melawan
lagi. Pun demikian dengan Sopyan. Dia
yang sudah tahu kejadiannya, langsung
berlari kencang menerobos masuk ke
dalam ilalang ilalang lebat dihadapan
kami.
Kami berlari tak tentu arah. Sesekali
kami menggunakan senjata kami untuk
merobohkan zombie-zombie yang
menghalangi.
Sekitar 10 menit kami berlari diantara
lebatnya ilalang.
Langkah kami terhenti saat dihadapan
kami membentang sebuah sungai
lumayan besar. Lalu diseberang sana,
__ADS_1
terdapat hamparan sawah yang rusak.
Sungai berwarna kecoklatan ini berarus
lumayan kencang.
Nafas kami terengah-engah sambil
memandangi aliran sungai didepan
kami.
"Tania dan Sopyan memandangiku
serentak. Aku tahu arti tatapan mata
mereka.
Disaat aku masih belum memutuskan
apa yang harus diperbuat. Samar-samar
dibelakangku terdengar suara
lenguhan panjang yang berasal dari
zombie-zombie brengsek itu.
"Lompaaatt..." Seruku.
Kami bertiga lalu melompat masuk
kedalam sungai didepan kami dan mulai
berenang.
Dengan stamina pas-pasan, ditambah
beban berat yang berasal dari
senjata-senjata yang kami bawa,
membuat tubuh kami cepat merasakan
kelelahan dalam menyebrangi sungai
ini.
Untukku secara pribadi, sedikit banyak
hal ini sudah sering aku alami sebagai
seorang tenaga keamanan di perusahaan
tempat aku bekerja. Karena disetiap
3 bulan sekali, perusahaan tempatku
bekerja, selalu melakukan kegiatan
binsik yang menguras stamina.
Kembali kepada saat kami tengah
berjuang menyebrangi sungai.
Sesekali aku harus menahan tubuh
Tania yang mulai melemah dan hampir
terbawa arus sungai. Aku menahan
dagunya agar tetap terus terangkat
keatas.
*BERSAMBUNG*
jangan lupa dukuganya yah dengan cara meberikan vote, like supaya episode selanjutnya cepat apdate dan coment kalau ada kalimat yang salah yah.
terima kasih
__ADS_1