
"Deddy" Aku mengatakan namaku.
Kulihat kelima orang itu agak
terpengaruh dengan namaku. Terlihat
meskipun agak samar, gerakan mereka
serta raut wajahnya yang sedikit
berubah.
Laki-laki yang berjalan paling depan,
yang tadi menempelkan pisaunya
padaku, berjalan seperti sedang berfikir
akan sesuatu.
Aku yang penasaran akhirnya bertanya,
"apa ada yang salah denganku?"
Serempak mereka berpaling kepadaku.
Untuk sesaat mereka saling
berpandangan. Siperempuan
satu-satunya di rombongan kami
tiba-tiba saja menepukkan kedua
tangannya.
"Ah.aku ingat sekarang." Ujarnya.
Aku mengerenyitkan dahi tak mengerti.
"Apa?" Tanyaku padanya.
Bukannya menjawab, perempuan
itu malah balik bertanya, "apakah
kau suami dari seorang wanita yang
bernama HERA?"
Rasanya pupil mataku langsung
membesar ketika mendengar nama itu
disebutkan.
"B. benar." Jawabku tergagap.
"Oh ya benar, itu yang dari tadi aku
pikirkan." Berkata laki-laki yang
berjalan paling depan.
Kulihat ketiga laki-laki lainnya
menganggukkan kepalanya tanda
mereka juga setuju dengan ucapan
temannya itu.
"Apa...apa yang terjadi kepadanya? Dan
apakah dia juga membawa seorang gadis
__ADS_1
kecil? Mereka adalah anak dan istriku.
Bagaiman keadaan mereka? Dimanakah
mereka berada?"
Pertanyaan itu langsung terlontar dari
mulutku begitu saja.
"Wow..wOW.wow.. satu-satu bung.
Kami bingung dengan semua
pertanyaan sebanyak itu." Kata laki-laki
yang memegang senjata besar layaknya
Arnold Schwarzenegger di film
Terminator.
"Maaf," kataku, "tapi aku benar-benar
ingin tahu bagaimana kabar mereka."
"Aku tahu itu, jadi akan kami..."
Suara laki-laki itu terhenti seketika saat
ia melihat tanda "diam" yang diberikan
oleh laki-laki terdepan.
Rombongan kami terhenti seketika. Oya,
asal kalian tahu. Saat ini, kami tengah
berjalan disebuah jalan setapak yang
kami, tumbuhan ilalang setinggi 2 meter
lebih.
Keadaan sunyi seketika.
Namun, ditengah-tengah kesunyian ini,
kami sayup-sayup mendengar suara
desahan nafas panjang yang sangat aku
sering dengar belakangan ini.
"Mustahil mereka bisa sampai wilayah
ini, Toni." Bisik laki-laki yang tadi tengah
berbicara kepadaku.
Toni, yang berjalan paling depan, tidak
menjawab. Tapi kemudian ia hanya
menggelengkan kepalanya tanda ia juga
tak tahu.
"Aku juga tak tahu, Arnold." Akhirnya
Toni menjawab.
"Lalu...apa yang akan kita lakukan
sekarang?" Tanya Tania, si gadis.
__ADS_1
Toni melihatnya, lalu berkata.
"Kita harus.."
Belum sempat Toni menyelesaikan
kalimatnya, sebuah tangan tiba-tiba saja
meluncur dari dalam ilalang ilalang
lebat disamping kiri kami dan langsung
menyambar lengan kiri Toni.
"Zombieee.!" teriak Tania refleks.
Sebuah teriakan yang akan menjadi
awal dari bencana yang akan kami
rasakan dimulai.
Suara teriakan Tania ternyata
mengundang perhatian para zombie
yang ternyata tengah berkeliaran di
dalam semak-semak ilalang lebat itu.
Satu persatu para zombie itu mulai
kurasakan mendekat ke arah kami
dengan cepatnya.
Kulihat sekilas ke arah Toni. la ternyata
berhasil menyingkirkan zombie yang
tadi menyerangnya dengan tiba-tiba.
"Bentuk lingkaran !" Perintah Toni cepat.
"Siaappp"Ucap Sopyan, laki-laki
gemulai itu.
Kami lalu saling beradu punggung.
Mengawasi ke arah semak ilalang lebat
yang berada dihadapan kami. Dimana
para zombie akan segera muncul.
"Siapkan senjata kalian ! Tembak apapun
yang muncul didepan mata! Mereka
akan segera muncul!" Toni kembali
memberikan perintahnya.
Senjata ss-v2 yang menjadi andalanku,
segera aku persiapkan. Begitupun
dengan yang lainnya.
*BERSAMBUNG*
jangan lupa dukuganya yah dengan cara meberikan vote, like supaya episode selanjutnya cepat apdate dan coment kalau ada kalimat yang salah yah.
terima kasih
__ADS_1