
Ambar tampak mengerti akan
kediamanku. Ia sambil tersenyum
bertanya, "Senjata api kakak mereknya
apa ? Atau jenisnya ?"
Aku mencoba mengingat-ingat kembali,
lalu terlintas di pikiranku sederet
tulisan yang terdapat di sisi tubuh
senjataku.
"SS2-V2." Jawabku.
"Oh, senjata buatan kita ya, PT. Pindad."
kata ambar.
Aku hanya mengangguk.
Ambar lalu tampak membuka sebuah
laci yang berada tak jauh dari laci yang
tadi ia buka.
la melambaikan tangannya, aku
mendekat.
"Pilih dan ambil magazine yang
sekiranya kakak butuhkan."
Aku kemudian memilih dan mengambil
beberapa magazine yang berisi penuh.
Aku kemudian memilih dan mengambil
beberapa magazine yang berisi penuh.
Ambar kemudian membuka sebuah
lemari kecil dipojok ruangan itu.
Dikeluarkannya sebuah ransel hijau.
Kami lalu menaruh senjata serta
refilnya didalam tas ransel itu.
Aku hendak beranjak dari ruangan itu
ketika ambar menahanku.
"Ada apa ?" tanyaku padanya.
"Tunggu sebentar, kak. Ja lalu
membuka sebuah laci paling bawah.
Ta ternyata mengambil beberapa buah
bom tangan. Dan dengan hati-hati
membawanya.
"Sudah ?" kembali aku bertanya.
Ambar hanya mengangguk pelan.
Dimasukannya bom-bom tangan itu
kedalam ransel.
__ADS_1
Tas ini terasa semakin besar dan berat.
Ambar lalu menutup kembali pintu dan
menggeser cermin panjang itu kembali.
Kami berdua duduk sejenak di kasur
kamar orang tua ambar. Nafas kami
tersengal-sengal. Apalagi ambar,
keringatnya tampak bercucuran di
seluruh tubuhnya.
Disaat aku tengah memandang
tubuh berkeringatnya. la tiba-tiba saja
menoleh ke arahku.
Dia lalu tersenyumn
"Deg.!"
Jantungku berdegup keras. Dan entah
kenapa tiba-tiba saja sebuah perasaan
lain telah muncul.
Sekali lagi kupandangi tubuh itu sekali
lagi.
Rambut parnjangnya yang dikuncir
kuda membuat leher jenjangnya
terekspos.
baju tangtop berwarna merah muda
tampak melekat ditubuhnya. Ditambah
keringat yang keluar membuat
seakan-akan pakaian itu mencetak jelas
bentuk tubuhnya.
Lalu celana pendeknya, kakinya yang
jenjang disilangkan, sehingga paha serta
kulitnya saling bertumpuk.
Aku akhirnya sampai kepada ujung
pikiranku.
Dan di penghujung otak ini, semua
ciri-ciri ini, memiliki makna. Yang
berbunyi,"come to mamah..."
Ambar terkejut ketika aku merangkul
tubuhnya.
"Kak, ada apa dengan dirimu ?
Lepaskan aku." ujarnya.
"Maafkan aku. Aku sungguh tak bisa
menahan diri lagi." bisikku ditelinganya.
__ADS_1
Tak lupa akupun menjilat telinganya.
la mendesah pelan.
"Oh..This is my weaknes." Kata ambar
didalam hatinya.
Mendengar desahan itu, aku lalu
meresponnya dengan cepat, kembali
telinga itu aku jilati. Ambar semakin
mendesah. Bahkan tangannya memeluk
tubuhku erat.
"Aku menyerah kak. Sudah..jangan
mau serang aku lagi dibagian paling
sensitifku itu." katanya sambil
terengah-engah.
Aku lalu menarik kepalaku, didalam
keremangan kamar. Kulihat wajahnya
telah memerah.
Perlahan aku menyentuh wajahnya,
dan dengan lembut kuusap pipi yang
merona itu. Ambar tampak menikmati
sensasi ini, bibirnya terbuka sedikit.
Kukecup bibir itu, kusedot bibir
bagian bawahnya. Ambar sendiri lalu
memainkan lidahnya. Aku paham,
akupun melakukan apa yang ambar
lakukan.
Lidah kami saling bersentuhan, saling
membelit. Air liur menetes disela-sela
bibir kami.
Sementara itu, tanganku juga mulai
bergerak. Kurebahkan tubuh ambar
kekasur sambil tetap berpagutan.
Lalu tanganku yang kiri mengelus
dan meremas bukit kembar ambar dengan
lembut. sementara itu, tangan kananku
merayap ke sebelah bawah, dan dengan
sedikit perjuangan, berhasil menyusup
kebalik c***na d****.
*BERSAMBUNG*
jangan lupa dukuganya yah dengan cara meberikan vote, like supaya episode selanjutnya cepat apdate dan coment kalau ada kalimat yang salah yah.
terima kasih
__ADS_1