Zombie Melanda Indonesia S1-S2

Zombie Melanda Indonesia S1-S2
episode 13 S2 / Tidak dapat menahan lagi


__ADS_3

Ambar tampak mengerti akan


kediamanku. Ia sambil tersenyum


bertanya, "Senjata api kakak mereknya


apa ? Atau jenisnya ?"


Aku mencoba mengingat-ingat kembali,


lalu terlintas di pikiranku sederet


tulisan yang terdapat di sisi tubuh


senjataku.


"SS2-V2." Jawabku.


"Oh, senjata buatan kita ya, PT. Pindad."


kata ambar.


Aku hanya mengangguk.


Ambar lalu tampak membuka sebuah


laci yang berada tak jauh dari laci yang


tadi ia buka.


la melambaikan tangannya, aku


mendekat.


"Pilih dan ambil magazine yang


sekiranya kakak butuhkan."


Aku kemudian memilih dan mengambil


beberapa magazine yang berisi penuh.


Aku kemudian memilih dan mengambil


beberapa magazine yang berisi penuh.


Ambar kemudian membuka sebuah


lemari kecil dipojok ruangan itu.


Dikeluarkannya sebuah ransel hijau.


Kami lalu menaruh senjata serta


refilnya didalam tas ransel itu.


Aku hendak beranjak dari ruangan itu


ketika ambar menahanku.


"Ada apa ?" tanyaku padanya.


"Tunggu sebentar, kak. Ja lalu


membuka sebuah laci paling bawah.


Ta ternyata mengambil beberapa buah


bom tangan. Dan dengan hati-hati


membawanya.


"Sudah ?" kembali aku bertanya.


Ambar hanya mengangguk pelan.


Dimasukannya bom-bom tangan itu


kedalam ransel.

__ADS_1


Tas ini terasa semakin besar dan berat.


Ambar lalu menutup kembali pintu dan


menggeser cermin panjang itu kembali.


Kami berdua duduk sejenak di kasur


kamar orang tua ambar. Nafas kami


tersengal-sengal. Apalagi ambar,


keringatnya tampak bercucuran di


seluruh tubuhnya.


Disaat aku tengah memandang


tubuh berkeringatnya. la tiba-tiba saja


menoleh ke arahku.


Dia lalu tersenyumn


"Deg.!"


Jantungku berdegup keras. Dan entah


kenapa tiba-tiba saja sebuah perasaan


lain telah muncul.


Sekali lagi kupandangi tubuh itu sekali


lagi.


Rambut parnjangnya yang dikuncir


kuda membuat leher jenjangnya


terekspos.


baju tangtop berwarna merah muda


tampak melekat ditubuhnya. Ditambah


keringat yang keluar membuat


seakan-akan pakaian itu mencetak jelas


bentuk tubuhnya.


Lalu celana pendeknya, kakinya yang


jenjang disilangkan, sehingga paha serta


kulitnya saling bertumpuk.


Aku akhirnya sampai kepada ujung


pikiranku.


Dan di penghujung otak ini, semua


ciri-ciri ini, memiliki makna. Yang


berbunyi,"come to mamah..."


Ambar terkejut ketika aku merangkul


tubuhnya.


"Kak, ada apa dengan dirimu ?


Lepaskan aku." ujarnya.


"Maafkan aku. Aku sungguh tak bisa


menahan diri lagi." bisikku ditelinganya.

__ADS_1


Tak lupa akupun menjilat telinganya.


la mendesah pelan.


"Oh..This is my weaknes." Kata ambar


didalam hatinya.


Mendengar desahan itu, aku lalu


meresponnya dengan cepat, kembali


telinga itu aku jilati. Ambar semakin


mendesah. Bahkan tangannya memeluk


tubuhku erat.


"Aku menyerah kak. Sudah..jangan


mau serang aku lagi dibagian paling


sensitifku itu." katanya sambil


terengah-engah.


Aku lalu menarik kepalaku, didalam


keremangan kamar. Kulihat wajahnya


telah memerah.


Perlahan aku menyentuh wajahnya,


dan dengan lembut kuusap pipi yang


merona itu. Ambar tampak menikmati


sensasi ini, bibirnya terbuka sedikit.


Kukecup bibir itu, kusedot bibir


bagian bawahnya. Ambar sendiri lalu


memainkan lidahnya. Aku paham,


akupun melakukan apa yang ambar


lakukan.


Lidah kami saling bersentuhan, saling


membelit. Air liur menetes disela-sela


bibir kami.


Sementara itu, tanganku juga mulai


bergerak. Kurebahkan tubuh ambar


kekasur sambil tetap berpagutan.


Lalu tanganku yang kiri mengelus


dan meremas bukit kembar ambar dengan


lembut. sementara itu, tangan kananku


merayap ke sebelah bawah, dan dengan


sedikit perjuangan, berhasil menyusup


kebalik c***na d****.


*BERSAMBUNG*


jangan lupa dukuganya yah dengan cara meberikan vote, like supaya episode selanjutnya cepat apdate dan coment kalau ada kalimat yang salah yah.


terima kasih

__ADS_1


__ADS_2