
Tapi aku takut." Mira agak segan untuk
mengikuti instruksi ambar.
Ambar mencoba untuk menenangkan
mira, "bukannya aku akan
meninggalkanmu, tapi kupikir bila kita
bertiga turun bersama, akan sedikit
gaduh dan itu mungkin akan membuat
zombie-zombie itu tertarik."
Mira kulihat menarik nafas
dalam-dalam, meskipun agak ragu-ragu,
ia akhirnya mengangguk.
Aku dan ambar lalu mulai berjalan
keluar kamar. Sedangkan mira, tetap
didalam guna mengawasi keadaan
diluar sana.
Keadaan didalam rumah tampak gelap
dengan sedikit cahaya yang berasal dari
kilatan-kilatan petir yang masih tetap
menyambar didalam lebatnya guyuran
air hujan.
"Hati-hati." Desisku pada ambar yang
berjalan di depanku.
Aku berjalan di belakang ambar
sembari menggenggam sebuah pedang
katana.
"Kita akan menuju ke kamar ayahku.
Disana ada sebuah ruangan khusus yang
digunakan sebagai penyimpan senjata
olehnya."
Kaki-kaki kami melangkah perlahan
menuruni anak tangga menuju lantai
satu.
Aku dengan penuh kewaspadaan
mencoba untuk meningkatkan daya
pendengaranku, mencoba untuk
mencari, apakah ada suara-suara aneh
yang juga berada didalam rumah ini.
__ADS_1
Karena takut terjadi apa-apa pada
ambar, aku lalu berjalan di depannya.
Sambil menggenggam erat tangannya,
aku berkata.
"Kau tunjukkan saja dimana letak
kamar ayahmu. Aku alkan berjalan
didepanmu berjaga-jaga apabila ada
sesuatu yang berbahaya menyerang
kita."
Ambar hanya mengangguk.
Kami kembali meneruskan langkah
kami.
Mengikuti arahan ambar, serta dengan
tetap menjaga kewaspadaan. Kami
sampai juga didepan kamar ayahnya.
"Apakah pintu iní dalam keadaan
terkunci ?"
Ambar menggeleng, "kamar ayah tak
pernah dikunci."
"Syukurlah kalau begitu. Mari."
kamar itu, setelah karmi masuk, aku lalu
menutup pintu itu.
Ambar hampir saja menyalakan lampu
kamar apabila tak segera ku cegah.
"Kenapa ?" Tanyanya kaget ketika aku
memegang tangannya.
"Kau bisa mengundang perhatian dari
zombie-zombie itu dengan nyala lampu
dari kamar ini."
"Oh, maaf." Ujarnya.
"Sudahlah, lalu dimana letak ruangan
khusus itu?" Tanyaku.
Ambar kemudian menuntunku menuju
sebuah ruangan yan8 agak tersembunyi
karena pintunya tertutup oleh sebuah
cermin panjang.
Ambar lalu menggeser cermin panjang
__ADS_1
itu kesamping. Maka tampaklah sebuah
pintu kecil yang mengarah kesebuah
ruangan khusus.
"Apakah pintu ini terkunci ?" tanyaku.
Ambar menggeleng. "ruangan ini
adalah ruangan khusus yang digunakan
oleh ayahku. Dan yang mengetahui
keberadaan ruangan ini hanyalah kami
sekeluarga."
Aku mengangguk-angguk mengerti.
Dan ketika ambar membuka pintu
tersebut. Maka tampak didalamnya
terdapat berbagai macam jenis senjata
api. Bahkan menurut pengetahuan
ambar, disini juga tersimpan beberapa
jenis bom yang dapat digunakan dengan
mudah.
Ambar tampak memilih beberapa
senjata type handgun. Dia lalu
mengambil dua senjata handgun.
Kemudian ia menarik keluar laci-laci
yang ada dibawahnya. Didalam laci-laci
tersebut kulihat refil-refil dari berbagai
jenis senjata api.
Ambar tampak sudah mahir dan sering
menggunakan senjata jenis tersebut. la
dengan cepat memilih dan mengambil
beberapa refil peluru untuk senjatanya.
Dia lalu menoleh kepadaku.
"Kakak tidak mengambil isi peluru
senjata kakak ?" tanyanya.
Aku terkejut. Untuk sesaat aku manjadi
bingung. Karena sejujurnya aku sendiri
tidak tahu harus memilih peluru jenis
apa yang cocok untuk senjataku.
*BERSAMBUNG*
jangan lupa dukuganya yah dengan cara meberikan vote, like supaya episode selanjutnya cepat apdate dan coment kalau ada kalimat yang salah yah.
__ADS_1
terima kasih