
Disebelah kananku, tak jauh, ada sebuah
gubug yang atapnya menempel tepat
disamping dinding. Meskipun atap
gubug itu tidak sampai setinggi dinding,
tapi jaraknya tidak terlalu tinggi. Jadi
"mudah-mudahan" aku akan aman
untuk turun disana.
Lalu, dengan berhati-hati, aku mulai
menurunkan kedua kakiku diatap
gubuk. Setelah kedua kakiku menapak
mantap. Aku mulai melepaskan
pegangan tanganku dari diding tembok.
Setelah mengatur nafas sejenak. Aku
mulai melangkahkan kakiku perlahan.
Namun..
"Braaaak!"
Atap gubug itu ternyata jebol. Tak kuat
menahan beban tubuhku dan tas ransel
yang berisi benda-benda lumayan
banyak.
Tubuhku langsung ambruk ke bawah
dengan cepat.
Beruntung aku jatuh diatas tumpukan
jerami kering. Meskipun tidak terlalu
tebal. Tapi itu sudah cukup membuatku
terhindar dari luka yang berbahaya.
Namun tetap saja. Aku masih merasakan
sedikit sakit. Apalagi tas ransel yang aku
bawa "ikut" menindihku.
Aku tidak segera bangun. Tapi
mengawasi keadaan sekitarku dulu.
Sambil menunggu rasa nyeri pada
tubuhku mereda.
Setelah cukup aman. Aku mulai
menuruni tumpukan jerami itu.
Sebelum melangkah, aku mengecek
__ADS_1
perlengkapan senjata dan isi ransel.
Lengkap.
Senjata Ss2 aku siagakan didepan.
Dengan langkah hati-hati dan pelan. Aku
mulai keluar dari dalam gubug itu.
Aku mengintip dulu keadaan diluar
gubug. Oke, aman.
Aku mulai berjalan menyusuri jalanan
didalam pasar.
Sepi.
Tak ada gerakan apapun yang kulihat
disekitarku.
Aku mulai mempercepat langkah kakiku
menyusuri jalanan pasar. Rumahku tak
jauh lagi letaknya dari pasar iní.
Aku tidak berjalan menuju pintu
utama keluar pasar, sebab itu akan
membawaku kesebuah jalan raya besar.
Dan disana, besar kemungkinannya
brengsek itu.
Jadi aku memutuskan untuk keluar
dari jalan kecil disamping pasar. Disana
ada sebuah jalan kecil yang dikiri dan
kanannya kebun milik warga sekitar.
Memang agak memutar sih. Tapi jalan
ini lebih aman.
Aku mulai berjalan perlahan dijalan
kecil yang terletak di samping pasar itu.
Kiri dan kanan hanya terdapat
perkebunan yang oleh warga sekitar
ditanami dengan pepohonan yang
menghasilkan. Seperti pohon buah
dan sebagainya. Tapi ada juga yang
menanam pohon yang diambil kayunya.
Seperti pohon jati.
Aku pernah beberapa kali lewat jalan
__ADS_1
kecil ini. Namun kini, suasana terasa
sangat mencekam. Padahal hari masih
siang.
Aku menggelengkan kepalaku, mencoba
mengusir pikiran-pikiran negatif yang
mulai bermunculan di dalam otak ini.
Belum terlalu lama aku berjalan dari
pasar. Aku tiba-tiba ingin menoleh
kebelakang. Ada sesuatu yang sangat
kuat yang memaksaku untuk melakukan
hal itu.
Aku berhenti berjalan.
Setelah menggenggam erat senapan
didalam tangan. Aku menoleh
kebelakang.
Dan,
Samar-samar aku melihat sebuah
kilauan cahaya dari sebuah benda yang
berada didekat pasar.
"Tapi kenapa aku tadi tidak melihatnya
ya" Pertanyaan ini muncul dibenakku.
Setelah menimbang beberapa saat. Aku
memutuskan untuk mendekati benda
yang memantulkan cahaya matahari itu.
Dengan berhati-hati aku berjalan.
Setelah agak dekat. Aku mulai
menyadari bahwa benda itu adalah
sebuah pedang samurai yang digenggam
oleh sebuah tangan.
Ya, sebuah tangan. Bukan dalam artian
kiasan. Tapi memang hanya sebuah
tangan yang menggenggam erat pedang
tersebut.
*BERSAMBUNG*
jangan lupa dukuganya yah dengan cara meberikan vote, like supaya episode selanjutnya cepat apdate dan coment kalau ada kalimat yang salah yah.
terima kasih
__ADS_1