Zombie Melanda Indonesia S1-S2

Zombie Melanda Indonesia S1-S2
episode 27 S2 / istirahat


__ADS_3

Setelah berjuang sekian lama, akhirnya


kami bertiga berhasil mencapai tepian


sungai. Dengan mata waspada, aku


menatap berkeliling area persawahan di


depan kamni.


'Sepertinya aman."Desisku dalam hati.


Aku menoleh kebelakang kami,


ketempat dimana tadi kami berada.


Disana tampak belasan zombie tengah


menatap kami dengan pandangan


kosong disertai lenguhan khas suara


mereka. Sepertinya mereka tidak berani


untuk menyebrangi sungai ini. Entah


kenapa.


Aku menarik nafas lega.


"Hampir saja kita metong cyinn." ucap


Sopyan dengan suara santai.


Aku berpaling padanya. Merasa


aneh karena dari nafasnya, ia seolah


tak nampak seperti seseorang yang


sudah berjuang habis-habisan. Berlari


melewati hadangan para zombie, lalu


menyebrangi sungai dengan arus


lumayan deras dan dalam ditambah


membawa senjata yang berat.


Disaat aku menoleh kepadanya, aku


kaget.


"Dimana semua persenjataanmu ?"


"Aku buang." Dengan santainya ia


menjawab.


"Apaa..? Kapan ?"


"Disaat kita mulai berlari. Abis pasti


capai cyiin kalo eke lari-lari sambil bawa


begituan."


Aku hanya terpana mendengar jawaban


santainya. Terpana antara ingin tertawa


atau memakinya.


Pantas saja ia tak begitu kelelahan.


Dan setelah kupikirkan lagi, memang


hanya laki-laki brengsek ini yang tidak


menembakkan senjata apapun pada saat


kami berlari melewati hadangan para


zombie di dalam rimbunnya ilalang tadi.


"Ah sudahlah. Sekarang kita harus

__ADS_1


membantu Tania. Dia terlihat sangat


kecapaian sekali." Ujarku.


"Caranya cyiin ?"


Aku memandang berkeliling.


Agak jauh disebelah kanan area


persawahan tampak sebuah gubuk yang


kemungkinan dibangun pemilik sawah


guna tempat beristirahat.


"Kita ke gubuk sebelah sana. Kita


beristirahat disana sementara waktu.


Tapi kita harus hati-hati. Agar kita tidak


terlihat oleh zombie." Kataku.


Kami lalu berjalan dengan aku


membawa semua senjata, sedangkan


Sopyan berjalan sambil menggendong


Tania dipunggungnya.


Aku duduk dibagian luar gubug sambil


melihat laki-laki berbadan besar


namun gemulai yang tengah berusaha


menolong Tania agar menjadi lebih baik.


Setelah beberapa saat kemudian, kulihat


Tania mulai terlihat agak membaik. Aku


bernafas lega.


tubuhku, mencoba merilekskan tubuh.


Mataku lalu memandang ke seberang


sungai. Disana terdapat sebuah


bangunan yang letaknya agak jauh


disana. Diantara kerumunan puluhan,


mungkin ratusan zombie-zombie


terkutuk itu. Sebuah bangunan yang


menurut Sopyan adalah tempat


menampung orang-orang yang berhasil


selamat dari wabah zombie ini. Dan


diantara mereka, ada dua sosok


perempuan yang kucintai. Istri dan putri


kecilku.


Memikirkan sampai disitu, hatiku


menjadi gelisah. Bagaimanakah keadaan


mereka sekarang? Apalah mereka


berdua selamat dari ledakan besar yang


terjadi dibangunan itu?.


Kepalaku serasa pening dan mau pecah


memikirkan hal-hal tersebut. Aku


tidak bisa terus menerus tertahan dan

__ADS_1


bersantai-santai, sedangkan aku tidak


mengetahui bagaimana keadaan mereka


berdua sekarang.


"Aku harusS segera menemukan anak dan


istriku secepatnya."


Setelah memikirkan hal itu, aku


membulatkan tekad.


Aku lalu melangkah kedalam gubuk,


menemui Tania dan Sopyan yang tengah


beristirahat.


Tania yang melihatku masuk sedikit


bergeser, mencoba memberiku ruang


untuk duduk disampingnya.


Aku melihat itu dan memberikan isyarat


menolak.


"Ada apa?" Tanyanya agak heran.


Sopyan ikut membuka matanya yang


tadi terpejam.


Aku terdiam.


Tapi aku lalu berkata terus terang, "aku


tidak bisa terus-menerus diam disini.


Aku harus segera menyelamatkan


keluargaku"


Sopyan dan Tania saling pandan.


"Maksudmu anak dan istrimu?" Tanya


Sopyan.


Aku mengangguk cepat.


"Tapi kau taukan, gedung tempat kami


bersembunyi entah kenapa meledak


begitu saja. Dan itu membuat para


zombie mengetahui posisi gedung itu."


Kata Tania.


"Aku tahu. Tapi tetap saja. Aku merasa


tidak tenang apabila tidak aku pastikan


sendiri keadaan seperti apa yang terjadi


disana." Kataku.


Kami bertiga terdiam. Mencoba


mencerna dan mencari solusi akan


masalah yang aku hadapi.


Tania akhirnya berdiri, "kalau itu


maumu. Baiklah. Kami berdua akan


membantu."


*BERSAMBUNG*


jangan lupa dukuganya yah dengan cara meberikan vote, like supaya episode selanjutnya cepat apdate dan coment kalau ada kalimat yang salah yah.

__ADS_1


terima kasih


__ADS_2