
Sopyan juga ikut berdiri.
Aku memandang mereka berdua.
Setelah menimbang baik dan buruknya.
Aku lalu berkata.
"Maaf, untuk melakukan hal ini, aku
akan pergi seorang diri kesana."
"Tapi.." ujar Tania.
"Aku tahu. Kalian berdua ingin
membantu. Tapi aku melihat kondisi
fisik kalian untuk saat ini masih belum
bisa. Maaf, bukannya aku meremehkan
kemampuan kalian. Tapi aku hanya
ingin pergi seorang diri. Dan itu akan
membantuku untuk bergerak lebih
cepat.
Sopyan dan Tania masih berkeras hati
untuk tetap ikut serta. Tapi kembali aku
menolaknya. Hingga akhirnya, "kalian
berdua tunggulah disini. Beristirahat.
Jika sampai matahari terbit nanti aku
masih belum kembali, kalian pergilah
mencari tempat yang aman tanpa harus
menunggu ku."
"Tapi kemana tempat yang aman itu?"
Tanya Sopyan.
"Kalian nanti ikuti arus sungai ini.
Setelah berjalan kira-kira 4 jam, kalian
akan tiba di muara sungai ini. Lalu
sebisa mungkin kalian buat rakit untuk
menyusuri pinggiran parntai ke arah
timur. Karena aku berencana untuk
pergi ke Bandung. Disana menurut
informasi yang aku dapatkan aman."
"Tapi artinya kami nanti harus turun
ke darat lagi disekitar Karawang untuk
kemudian berjalan kaki lagi ke kota
Bandung" Kata Tania.
"Tidak. Nantinya kalian akan
menemukan sebuah sungai besar
dipinggir sungai di kabupaten
__ADS_1
Karawang. Kalian akan dapat menyusuri
Sungai itu dengan cara melawan
arus. Karena sepengetahuanku,
zZombie-zombie itu tidak bisa berenang.
Oleh sebab itu tadi mereka tidak bisa
mengejar kita saat kita berenang
kemari." Kataku panjang lebar.
Mereka kulihat mengangguk. Entah
mengerti atau tidak.
Aku lalu menyiapkan diriku sendiri. Aku
menyelipkan sebuah handgun diikat
pinggangku yang kuisi dengan magazine
full peluru. Lalu dipunggung aku
menggantungkan senjata andalanku, ss2.
Sedangkan ditangan, aku menggenggam
erat sebuah katana. Tak lupa sebuah
gulungan tali sling baja aku ikatkan
dipinggangku.
Tania dan Sopyan melihat semua
persiapanku.
"Kenapa kau tidak membawa ransel saja.
Aku menggeleng.
"Tidak, dengan seperti ini, aku merasa
lebih gampang bergerak dan bisa
dengan cepat mengambil barang-barang
yang aku butuhkan." Kataku.
Setelah memberikan beberapa
pesan kepada mereka berdua, dan
setelah Tania juga memberikan
Aku ancang-ancang letak gedung
persembunyian, Aku lalu mulai
berangkat.
Ditengah gelapnya malam, aku
mulai berjalan dengan perlahan
menyusuri tepian sungai. Aku tidak
ingin langsung menyebrang, karena
aku bermaksud untuk menyebrang
ketika aku yakin bahwa disebrang sana
terdapat gedung yang dikatakan oleh
Tania sebagai tempat persembunyian
__ADS_1
mereka. Ini kulakukan sebagai cara
untuk meminimalisir bertemu dengan
para zombie itu. Memang, tidak
menolak kemungkinan bahwa disisi
sungai tempatku berjalan ada juga
zombie-zombie itu.
Setelah sekitar setengah jam berjalan,
aku melihat disebrang sana langitnya
berwarna agak kemerahan di gelapnya
malam.
"Itu pasti akibat paparan cahaya api
kebakaran gedung"
Setelah merasa yakin, aku mencoba
memperhatikan keadaan diseberang
sungai.
"Aman."
Perlahan aku mulai melangkah
menyebrangi sungai di hadapanku.
Setapak demi setapak aku melangkah,
lalu saat kakiku sudah tidak menyentuh
dasar permukaan sungai, aku mulai
menyelam. Aku menghindari berenang
karena akan menimbulkan suara yang
takutnya didengar oleh zombie-zombie
yang berada didekat aliran sungai ini.
Setelah menyelam beberapa kali dan
terbawa arus sungai hingga aku tak
sampai ditempat tujuan, tapi jaraknya
juga tak terlalu jauh. Yang penting aku
berhasil selamat dan tidak menarik
perhatian "mereka"
Sesampainya aku ditepian sungai, aku
segera berjalan cepat kesebuah pohon
yang tumbuh dipinggiran sungai.
Dibalik pohon itu, aku memeriksa
semua barang bawaan ku. Setelah aku
yakin semuanya baik-baik saja, aku
mulai melangkah pelan memasuki
rimbunnya ilalang yang tumbuh subur
membentang luas itu.
__ADS_1