
Perlahan aku membuka mata.
Silau.
Otakku juga mulai bekerja meskipun
dengan perlahan. Kepingan-kepingan
kejadian yang terjadi mulai tersusun
ulang dikepalaku.
Disaat ingatanku membayangkan
2 sosok gadis remaja, aku langsung
tersentak.
"Mira dan ambar.." desisku dalam hati.
"Apakah mereka berdua selamat? Atau..
pertanyaan yang terngiang ditelingaku
terpaksa aku hentikan. Karena pasti
tidak akan ada yang menjawabnya.
"Kecuali aku sendiri yang memastikan."
kataku dalam hati.
Setelah aku merasa cukup kuat
untuk bergerak. Aku dengan perlahan
mencoba memeriksa kondisi disekitarku
sambil tetap berbaring disaluran air.
Sebuah benda berat dan dingin terasa
saat tanganku meraba kearah kepala.
"Senjataku. " aku berkata dalam hati
Sebuah senyuman kecil tersungging
diwajahku.
Lega rasanya. Alat yang bisa
membantuku untuk survive ini tetap
setia bersamaku.
Hati-hati aku mengambil senjata semi
ini.
Setelah aku menghela nafas
dalam-dalam, aku mencoba
menajamkan indra pendengaranku,
mencoba untuk mendengar apakah
brengsek-brengsek itu berkeliaran
disekitarku atau tidak.
Sunyi
Tapi aku tidak lekas percaya akan
keadaan ini, kembali aku mencoba
mendengarkan keadaan disekitarku.
__ADS_1
Kali ini aku memejamkan mataku.
Hanya suara sayup-sayup angin
berhembus yang aku dengar.
Setelah meyakinkan diri, aku segera
bangkit dan berjongkok didalam selokan
air.
Perlahan-lahan, aku menyembulkan
kepalaku sampai sebatas mata.
Lengang
Sepi tanpa adanya gerakan yang
mencurigakan dari para Zombie-zombie
itu.
Selama beberapa menit aku mencoba
mengawasi situasi diareaku.
"Oke, sepertinya keadaan sudah aman. "
aku berdesis dalam hati.
Senjata semi aku letakan dihadapanku.
Lalu dengan bertalekan kedua siku, aku
berusaha keluar dari saluran air.
Setelah aku berhasil naik, mataku
langsung terpaku akan sebuah sosok
pohon yang tumbang.
"S.siapa dia? Apakah mira? Atau
ambar?"
Lagi-lagi berbagai pertanyaan
berputaran diotakku.
Setelah menengok kanan kiri. Dan
aman, aku segera berjalan cepat
menghampiri sosok yang terbaring itu.
Setelah dekat, aku langsung merasa
lemas.
Bagaiman tidak, sosok tubuh yang
menghitam akibat hantaman petir yang
menyambar semalam adalah gadis yang
kurasakan intim meskipun hanya dalam
mimpi.
"Ambar..
Bibirku agak bergetar ketika nama gadis
itu aku sebut.
Sedih memang, tapi aku juga sadar
__ADS_1
Bahwa dengan berlama-lama aku
berdiri mematung ditempat itu.
Zombie-zombie brengsek itu pasti akan
melihatku.
Dan apa yang aku pikirkan memang
benar.
Ketika aku mulai bergerak guna
bermaksud mengambil sebuah tas
ransel yang berisi benda-benda penting.
6 zombie melihatku.
Aku terkejut.
Setengah berlari aku mengambil dan
memakai tas ransel itu.
Ke 6 zombie yang melihatku bergerak
seakan tidak ingin mangsanya
menghilang.
Oleh karena itu, merekapun mulai
bergerak dengan cepat. Dan seperti
yang dahulu aku duga, bahwa makhluk
ini bisa bergerak 2 kali lebih cepat saat
siang hari.
"Siaaal...!" aku setengah memaki.
Aku langsung bersiap dan mengarahkan
moncong senjataku. Dan tak lama
kemudian, suara tembakan mulai
terdengar memecah kesunyian siang itu.
"Dor.dor.dor.!"
Aku memberondong ke 6 zombie itu
dengan senjataku.
4 berhasil aku jatuhkan, 2 zombie tersisa
masih terus berlari menyerangku.
"Dor..dor.!"
Dua kali peluru melesat dari dalam
senjataku. 1 zombie lagi jatuh.
Lalu dengan cepat aku mulai
mengarahkan ujung senjataku kearah
zombie yang tersisa.
*BERSAMBUNG*
jangan lupa dukuganya yah dengan cara meberikan vote, like supaya episode selanjutnya cepat apdate dan coment kalau ada kalimat yang salah yah.
terima kasih
__ADS_1