
Meskipun semuanya terlihat sesuai
dengan perhitunganku, ternyata ada
satu hal yang luput.
Ternyata dinding halaman ini tidak kuat
menahan daya ledak dari tabung gas
tadi.
Dinding hancur!
Selain itu, daya hempasannya juga
membuatku terpelanting beberapa
meter. Dadaku serasa sesak, selain itu,
indra penglihatan dan pendengaranku
menjadi kabur meskipun hanya untuk
sesaat.
Asap dan debu mengepul menghalangi
pandangan mataku yang perlahan
namun pasti kembali berfungsi.
Begitupun dengan daya pendengaranku.
Setelah menunggu beberapa saat, asap
mulai menipis. Sebuah pemandangan
terpampang di hadapanku.
Belasan zombie terbakar. Membuat
mereka menjadi zombie bakar yang
berjalan. Selain itu, belasan tubuh
lainnya juga tergeletak tak jauh dari
tempat itu.
"Aku harus bergegas bangun, aku tak
yakin bahwa daya ledak itu membunuh
mereka." Kataku sambil menahan
perasaan sakit.
Aku memaksa bangun dan dengan
terhuyung-huyung berjalan menyusuri
halaman belakang menuju pintu dapur.
Namun, baru beberapa langkah aku
berjalan. Didalam tipisnya asap, aku
melihat beberapa sosok tubuh berjalan
perlahan-lahan kearahku.
"Haahh...Haahh."
Lalu muncullah 4 sosok zombie
dihadapan ku.
Gawat, keadaan tubuhku masih sangat
lemah. Untuk berjalan saja susah."
Kataku dalam hati.
__ADS_1
Dengan susah payah, aku mengangkat
senjataku dan, "dor!"
zombie itu terjatuh ketika
kepalanya tertembak peluruku.
Hal ini membuat 3 zombie lainnya
menjadi agresif. Mereka mulai
mendekat dengan lebih cepat.
Aku mundur selangkah, kutarik pelatuk
sekali lagi.
"Dor!"
Zombie itu oleng, tapi ia kembali
berjalan.
"Siall.Meleset."
Peluruku hanya mengenai dadanya.
"Aku tak boleh mati disini. Tak boleh."
Aku lalu memaksakan diriku untuk
melepaskan beberapa tembakan lagi.
Hasilnya, hanya satu zombie saja yang
jatuh. Sedangkan dua lagi tetap berjalan
ke arahku.
"Sial...Apakah ini sudah berakhir?"
Kataku perlahan.
Aku terkejut mendengar suara itu. Aku
lalu menoleh kebelakang.
Dan..
"Merunduk kaakk.!"
Reflek aku mengikuti perintah tersebut.
Dan tak selang beberapa lama setelah
aku membaringkan tubuhku diatas
tanah. Suara muntahan peluru dari
sebuah senjata menyalak keras beberapa
kali.
"Dor.dor..dor.!"
Aku terus merunduk mendengarkan
suara tembakan yang terus-menerus
menyalak itu.
Dan satu menit kemudian, suara
tembakan itu berakhir.
Perlahan aku mulai mengangkat
kepalaku dan melihat 2 sosok gadis yang
berdiri didepanku.
"Mira..ambar." aku berdesis.
__ADS_1
Ambar yang tadi menembak kemudian
menyuruh mira untuk membantuku
berdiri.
Dengan menahan perasaan sakit, aku
lalu berdiri dengan bantuan mira. Tak
jauh dari tempatku tadi berbaring,
tampak beberapa zombie tergeletak
ditanah. Zombie-zombie yang tadi
menyerangku.
Suara ambar tiba-tiba menyadarkanku
dari lamunan.
"Kita cepat kembali masuk kedalam."
ujarnya.
Ternyata, sudah ada beberapa zombie
lagi yang tampak mulai masuk kedalam
bangunan rumah.
Aku lalu berjalan mengikuti ambar
dengan bantuan mira.
Setelah kami berada didalam, kami
bergerak cepat menuju pintu depan.
"Apakah tubuh kakak sudah membaik?"
tanya Mira.
Aku mengangguk.
Sesampainya kami di depan pintu.
Aku Perlahan mencoba melihat situasi
dihalaman depan.
Sepi.
Aku lalu mengangguk kepada mereka
berdua.
Aku lalu memakai tas ranselku. Dan
dengan senjata ditangan, aku bersiap
mendorong daun pintu.
Ambar juga sudah siap dengan 2 senjata
jenis handgun dikedua tangannya.
Begitupun mira. Meskipun ia tidak
bisa menggunakan senjata api. Namun
dengan kelihaiannya memainkan
permainan kasti, maka pedang
ditangannya akan menjadi senjata yang
berbahaya.
*BERSAMBUNG*
jangan lupa dukuganya yah dengan cara meberikan vote, like supaya episode selanjutnya cepat apdate dan coment kalau ada kalimat yang salah yah.
__ADS_1
terima kasih