
Dengan tergesa-gesa, lelaki pendek
gemuk itu kulihat mencari-cari sesuatu.
Sebuah kayu kecil ia dapatkan. Dan
dengan bantuan dari kayu itu, ia
mengorek-ngorek selokan tersebut.
Saat pak de itu tengah sibuk
mencari-cari anak kunci rumahnya, aku
melihat tampak beberapa orang yang
secara aneh, berjalan menuju rumah
kami berada.
Darah kulihat tampak bercucuran di
sekujur tubuh mereka. Bahkan ada yang
anggota tubuhnya tidak lengkap. Mereka
semua mengarah dengan sempoyongan
kearah pak de gemuk itu.
Aku langsung teringat akan film-film
horor yang seringkali kutonton di
televisi. ZOMBIE!
Ya, tak salah lagi. Sesuai dengan apa
yang aku lihat, mereka semua pantas
disebut sebagai zombie.
Ingin aku berteriak untuk
memperingatkan lelaki pendek itu
bahaya yang mengancam dibelakang
tubuhnya. Tapi dari apa yang aku tahu,
apabila aku berteriak, bukan mustahil
mereka juga tahu akan keberadaanku.
Aku mencoba untuk mencari sesuatu
yang bisa aku gunakan untuk setidaknya
memberikan peringatan kepada lelaki
malang tersebut.
Dapat!
Sebuah batu baterai bekas jam dinding
yang sudah lama tidak terpakai ku
ambil. Dengan hati-hati, aku naik keatas
__ADS_1
kursi diruang tamu dan lewat ventilasi
udara, aku langsung melemparkan batu
baterai tersebut kearah pak de.
Gagal!
Tapi sedikit banyaknya, suara dari
jatuhnya baterei itu berhasil menarik
perhatian lelaki tua tersebut.
Ia berhenti mengorek-ngorek selokan
rumahnya. Matanya kulihat menoleh
ke sumber suara. Lalu matanya
melihat ke jendela rumahku. Aku yang
sedari tadi memperhatikan langsung
menunjuk-nunjuk kebelakang tubuhnya.
Kearah para zombie itu.
Paras lelaki tua itu menegang ketika
ia melihat kearah yang aku tunjukan.
Secepat yang ia bisa, ia berlari kearah
yang berlawanan dengan datangnya
para zombie.
ia tampak kembali berlari kearah
rumahnya. Sekilas ku lihat dari
arah yang tadi ia tuju, ternyata ada
sekelompok zombie lain muncul.
Bahkan mereka juga tengah mengejar
beberapa warga yang selamat.
Orang-orang dan lelaki gemuk
itu terjebak ditengah-tengah.
Mereka menjerit dan berteriak
sekencang-kencangnya ketika para
zombie itu berdatangan dan menangkap
mereka. Satu demi satu, tubuh
mereka dimangsa oleh zombie-zombie
menakutkan itu.
Aku menutup mulut keras-keras agar
aku tak mengeluarkan suara teriak.
__ADS_1
Dengan perlahan aku mundur. Segera
kucari handphone untuk menghubungi
suamiku.
Setelah dapat, langsung kupencet
nomornya. Kutunggu. Tapi sayang, tak
ada jawaban atas panggilanku. Ku coba
dan terus kucoba. Namun hasilnya tetap
sama.
Aku menangis tertahan. Disaat
menakutkan seperti ini, aku hanya
berdua dengan buah hatiku yang sedang
tidur terlelap.
Sudah satu hari sejak wabah aneh
itu menyerang tempat kediamanku.
Lewat saluran televisi yang aku tonton
didalam kamar plus volume yang sangat
kecil, aku kini paham. Bahwa ternyata,
wabah zombie ini telah menyebar disekitar area Jabodetabek.
Pemerintah pusat telah mengumumkan
bahwa kawasan Jabodetabek telah
dikarantina dan ditutup seluruh
akses keluarnya. Itu bertujuan untuk
mencegah meluasnya wabah penyakit
tersebut.
Diberitahukan pula kepada para
penduduk yang selamat dikawasan
yang terinfeksi virus, agar segera
menyelamatkan diri masuk
kedalam rumah masing-masing dan
menguncinya. Juga disarankan agar
sebisa mungkin jangan bersuara keras.
Karena menurut informasi yang ada,
zombie-zombie itu sangat peka akan
suara yang keluar.
*BERSAMBUNG*
__ADS_1
jangan lupa dukuganya yah dengan cara meberikan vote, like supaya episode selanjutnya cepat apdate dan coment kalau ada kalimat yang salah yah. terima kasih