
"Ini untukmu,"
Serra menatap bingung sebuah paper bag yang Lucas sodorkan padanya. Dia meminta Serra untuk menerimanya, tapi wanita itu sendiri tidak tahu apa isi di dalamnya.
"Apa ini?"
"Kau akan tahu setelah membukanya," Lucas menjawab.
Karena penasaran apa yang ada di dalam paper bag tersebut, Serra pun segera membukanya dan mengeluarkan isi di dalamnya. Kedua matanya membelalak sempurna melihat sebuah gelang giok serta cincin yang sangat cantik dan berkilauan.
"I...Ini," Serra berkata dengan terbata-bata. Dia mengenali salah satu dari kedua benda tersebut. "Bu..Bukankah ini adalah barang antik yang berasal dari Dinasti Qin. Bagaimana kau bisa mendapatkannya? Dan aku dengar benda ini hanya bisa didapatkan dari pelelangan saja," Serra menatap Lucas penasaran.
"Tidak penting bagaimana aku bisa mendapatkan benda ini, yang penting aku membeli gelang dan cincin itu untukmu." Jawab Lucas.
"Pasti ini tidak murah, berapa banyak uang yang sudah kau keluarkan untuk membeli kedua benda ini?" tanya Serra penasaran.
"Tidak banyak, hanya satu miliar Won saja." jawab Lucas dengan santainya.
Mendengar jawaban suaminya membuat Serra langsung sesak napas. Bagaimana tidak, Lucas mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli dua benda yang menurut Serra biasa-biasa saja. Meskipun itu benda antik dan berasal dari masa lampau, tapi tetap saja harganya sangat tidak masuk akal.
"Apa kau bilang?! Hanya, satu milyar won hanya?! Lucas Xiao, jika dibelikan rumah itu sudah dapat yang sangat mewah + isinya + mobil. Dan kau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya sebuah benda yang menurutku tidak penting ini. Oh astaga, cara orang kaya menghabiskan uangnya memang berbeda." Ujar Serra panjang lebar.
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan Lucas. Bagaimana bisa dia mengeluarkan uang sebanyak itu hanya demi sebuah benda yang banyak dijual dipasaran?!
Jika saja Serra adalah wanita glamor yang menggilai fashion dan hobi memamerkan kemewahan, pasti akan lain lagi ceritanya. Tapi masalahnya Serra bukanlah tipe wanita seperti itu.
Lucas menghela napas berat. Bukannya ucapan terimakasih ia malah mendapatkan Omelan dari wanitanya ini. Padahal gelang dan cincin itu Lucas beli secara special untuk Serra, tapi istrinya itu malah menceramahinya habis-habisan.
Padahal yang Lucas tau kebanyakan wanita paling suka diberi hadiah mewah semacam itu, tapi Serra malah menunjukkan sikap yang berbeda.
"Lebih baik aku simpan dulu. Nanti setelah pelayaran ini selesai, aku akan langsung menjualnya lagi." Serra membawa kotak beludru itu dan menyimpannya di dalam laci di samping tempat tidurnya.
"Lalu uangnya akan kau gunakan untuk apa?" Hanya Lucas.
"Benar juga, jumlah uangnya terlalu banyak. Jika aku menjualnya lalu uangnya untuk apa? Membeli mobil, rumah, rasanya tidak perlu, karena aku sudah memiliki itu semua. Terus uangnya untuk apa ya kira-kira?"
"Tidak perlu dijual, simpan saja. Mungkin saja benda itu suatu saat akan berguna untukmu." Ucap Lucas memberi saran.
__ADS_1
Serra mengangguk. "Betul juga, apalagi disekelilingku ada banyak sekali ulat bulu yang kegatelan. Mendiang aku pakai untuk pamer pada mereka, biar mereka pada kebakaran jenggot." Ujar Serra panjang lebar.
Lucas mendengus. Dengan gemas dia menjitak kepala coklat Serra. Ada saja tingkahnya yang membuat orang lain menggelengkan kepala. "Apa kau sudah makan malam?" Tanya Lucas.
Serra menggeleng. "Belum, tapi yang kedua kalinya." Jawab Serra. Dan sekali lagi sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklatnya. Serang Serra menjadi lebih berani dan tak canggung lagi ketika berhadapan dengan Lucas.
"Aku mau turun untuk makan malam. Mau ikut tidak?"
"Ikutt!!!"
-
-
Dania alias Daniel sedang duduk manja dipangkuan Axel. Saat ini keduanya sedang berada di K*sino, mereka duduk di sofa, di sudut ruangan yang sedikit gelap dan jauh dari jangkauan mata orang-orang.
Daniel memeluk leher Axel dengan mesra, membuat bagian bawah Axel langsung berdiri oleh gesekan pantat sensi Daniel. "Aduh, kenapa ada yang mengganjal dibawah sini? Apa ini pisangmu sedang berdiri?" Daniel menatap Axel penasaran.
Axel mengangguk. "Ya, sepertinya begitu. Apa terasa?"
Buru-buru Axel menggeleng. "Bukannya kecil, hanya saja belum tumbuh dengan sempurna. Dan milikku baru bisa besar dan panjang setelah di olesi ramuan ajaib. Ingin mencobanya?"
Daniel menatap Axel dengan ngeri. "Tidak mau!! Aku masih sangat asing dengan benda semacam itu. Mungkin lain kali saja," jawabnya.
Mana mau Daniel mencoba hal gila dengan Axel. Bisa-bisa jeruk minum jeruk jadinya. Daripada mencoba milik Axel, lebih baik dia mengeluarkan sedikit uang untuk menikmati lawan jenisnya.
Saat Axel sedang sibuk dengan ponselnya. Diam-diam Daniel memasukkan sesuatu ke dalam minuman Axel.
Obat itu akan memberikan efek yang luar biasa pada pria itu. Dan permainan yang sesungguhnya baru saja di mulai. Daniel menyeringai sinis, dan kejutan manis tengah menunggu Axel esok pagi.
-
-
Serra dan Lucas duduk di sebuah meja pojokan yang cukup untuk mereka berdua, setelah mencari tempat yang pas di hati apalagi di tempat ini ada jendela yang langsung bisa melihat pemandangan laut ke luar.
Lucas terus memperhatikan wanita di depannya yang sedang makan dengan anggunnya. Memotong croissant di piringnya perlahan kemudian memasukannya pada mulut mungilnya.
__ADS_1
"Kau tahu? Andaikan kapal ini akan tenggelam sekali pun, aku tidak akan menyesalinya," ucap Lucas sambil menyeruput kopi hitamnya
Serra mengangkat wajahnya dan mengernyitkan alisnya. "Kenapa bisa begitu?" Ucapnya heran.
"Karena aku memiliki seorang bidadari yang sangat cantik di sisku, melepaskan beban bersamanya dan tidur dengan tubuh polos bersamanya," jawab Lucas dan membuat rona merah muncul di kedua pipi Serra.
"CK, kenapa kau jadi membahas hal itu sih. Kau membuatku merasa jika kita berdua sebagai tokoh utama titanic versi nyata."
Lucas terkekeh, "Tapi bukankah Titanic itu memang nyata. Yang beda dengan kita hanya jamannya." Ucapnya.
"Aku tidak pernah menyukai film itu… " ucap Serra lalu menghela nafas panjang.
Lucas memicingkan matanya. "Kenapa? Bukankah itu adalah kisah cinta yang sangat luar biasa?"
Serra mengangguk. "Memang benar apa yang kau katakan. Akan tetapi Cinta diantara mereka begitu bodoh. Kenapa sang wanita tidak mau mati membeku bersama sang pria? Pada akhirnya ia ditinggalkan dan harus menunggu kematian untuk bertemu kembali." Ujarnya.
"Dasar bodoh, jelas-jelas Itu namanya pengorbanan," ucap Lucas menimpali. Dia menatap ke dalam manik Hazel itu. "Lalu, apakah kau takut jika suatu saat ditinggalkan oleh pria yang kau cintai?"
Serra tak langsung menjawab. Dia membalas tatapan Lucas begitu lama. "Tentu saja. Bahkan jika pria itu mati untukku, aku akan mati di tempat bersamanya." Jawab Serra masih dengan pandangan terkunci pada mata Lucas.
"Seperti Romeo and Juliet?" Tebak Lucas.
Serra menganggukkan kepalanya. "Ya. Karena memang begitulah. Itu kisah cinta sejati menurutku."
"Kalau begitu akan kupastikan kisah kita seperti mereka," ucap Lucas lalu memakan roti tawarnya. Sedangkan Serra menatapnya dengan penuh tanya. Dia bingung dengan maksud perkataan Lucas. "Karena kau tercipta dari satu tulang rusukku yang hilang!!"
Bluss...
Rona merah muncul di kedua pipi Serra setelah mendengar ucapan Lucas. Wanita itu menjadi gugup sendiri. Dia tidak menduga jika Lucas akan mengatakan kalimat yang mampu membuat jantungnya berdegup kencang seperti ini.
Dan bahkan Serra sendiri tidak tau jika si kulkas empat pintu kini menjadi sosok yang hangat dan pandai menggombal. Kata-kata manis selalu keluar dari bibir Kiss ablenya. Karena Serra adalah sebuah pengecualian bagi seorang Lucas Xiao.
-
-
Bersambung.
__ADS_1