
Serra dan Jia mendatangai sebuah pusat perbelanjaan untuk memborong barang-barang mewah yang ada di sana. Kebetulan mall sedang mengadakan diskon besar-besaran hari ini. Jadi mana mungkin mereka berdua melewatkannya.
Sebenarnya Serra bukanlah tipe wanita yang hobi berbelanja, yang suka menghamburkan uang hanya untuk membeli barang-barang yang menurutnya tak begitu penting.
Tapi hal itu sudah tidak berlaku lagi. Dia memiliki suami yang kaya raya, yang bahkan uangnya tidak akan habis sampai tujuh turunan, jadi untuk apa jika tidak dimanfaatkan dengan baik? Toh Lucas juga tidak melarangnya untuk membeli apapun yang dia inginkan, dia terlalu memanjakannya.
"Jia, menurutmu ini bagus tidak?" Serra menunjukkan sebuah dress pada sahabatnya itu.
Jia mengangguk. "Ya, itu sangat cantik dan cocok untukmu. Sebaiknya ambil saja," saran Jia. Ada dua warna, dan Serra mengambil semuanya, satu untuknya dan satu lagi untuk Jia. "Kenapa kau ambil keduanya, bukankah modelnya sama dan hanya warnanya saja yang berbeda?" Dia menatap Serra penasaran.
"Ini untukmu, kita sudah berteman begitu lama dan sering memakai barang yang sama. Aku sekarang memiliki kehidupan yang lebih baik, jadi aku ingin membaginya sedikit denganmu." Ujar Serra.
Jia begitu terharu mendengar jawaban sahabatnya itu. Kemudian Jia memeluk Serra dan sambil mengucapkan terimakasih. "Kau ini, kenapa masih ada kata terimakasih diantara kita berdua? Kita adalah sahabat, Jia. Saling berbagi itu sudah seharunya."
Kemudian Serra melepaskan pelukan Jia. Dia mengajak wanita itu untuk berkeliling lagi, karena masih banyak yang ingin Serra beli, salah satunya adalah pakaian h*ram yang mampu membangkitkan gairah siapa pun yang melihatnya. Tapi sayangnya Serra membeli baju itu untuk ia pakai di depan Lucas. Hanya di depan Lucas, bukan di depan yang lain!!
-
-
"Tuan, ini informasi yang Anda minta. Saya sudah menyelidikinya, dan saat ini pria itu sedang berada di Monako. Sebelumnya dia berada di Jepang, beberapa kali pria itu merubah identitasnya demi.mengelabuhi polisi tentang keberadaannya."
Lucas mengambil sebuah file yang ada diatas meja kerjanya. Dia melihat dan membaca informasi itu selama beberapa detik lalu meletakkannya lagi di tempat semula.
"Dia pikir dengan merubah identitasnya bisa terlepas dariku. Selama satu tahun terakhir aku memberinya kelonggaran. Dan sudah saatnya dia kembali ke tempat seharusnya ia berada." Ujar Lucas dengan sebuah seringai dibibirnya.
"Lalu apa rencana Anda sekarang, Tuan? Apa perlu saya pergi ke sana untuk menangkapnya lalu membawanya ke hadapan Anda?"
Lucas menggeleng. "Tidak perlu. Kita tidak perlu turun tangan secara langsung. Karena sudah ada orang yang tepat untuk masalah ini, jadi kau bisa lebih bersantai. Otak dan tubuh juga perlu istirahat, Frans. Selama ini kau sudah bekerja terlalu keras. Itu tidak baik untuk tubuhmu. Untuk itu aku akan memberimu cuti selama dua Minggu, pergilah berlibur dan relakskan dirimu." Lucas membuka lacinya lalu menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat pada Frans.
"Tuan, apa ini?"
"Sedikit bonus untukmu. Kau sudah bekerja keras selama ini, dan kau adalah orang yang paling setia padaku. Bukankah sejak lama kau ingin memiliki sebuah rumah mewah di dekat pantai untuk ibu dan adikmu. Karena mereka sangat menyukai pantai. Dan aku berusaha mewujudkan impian itu untukmu. Di dalam amplop itu ada sebuah kunci, sekarang pergilah dan nikmati waktumu bersama mereka."
Frans menyeka air matanya. Dia membungkuk sambil mengucapkan terimakasih pada Lucas berkali-kali. Sungguh ia tidak pernah berpikir jika Lucas akan memberinya sebuah hunian mewah yang selama ini menjadi impiannya.
"Terimakasih, Tuan. Terimakasih," ia membungkuk berkali-kali.
"Tidak perlu berlebihan, aku hanya memberikan apa yang seharusnya kau dapatkan. Karena kau memang layak mendapatkannya. Sekarang pergilah, beritahu mereka tentang kabar baik ini."
__ADS_1
"Baik, Tuan. Saya akan pergi sekarang." Kemudian Frans pergi dan meninggalkan Lucas sendiri di ruangannya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dan memberitahu ibu serta adiknya.
Selepas kepergian Frans. Pintu ruang kerja Lucas kembali di buka, kali ini yang datang adalah Serra, wanita itu menghampiri Lucas sambil membawa banyak paper bag di kedua tangannya.
"Kau sudah pulang," ucap Lucas yang kemudian di balas anggukan oleh Serra. "Apa saja yang kau beli? Kenapa banyak sekali?"
"Aku memborong beberapa toko, kebetulan hari ini sedang ada diskon besar jadi aku membeli banyak barang bagus namun dengan harga terjangkau." Ujarnya.
"Lalu apa kau membeli untukku juga?"
Serra mengangguk. Dia mengeluarkan sebuah jam tangan dan beberapa helai kemeja yang kemudian dia berikan pada Lucas. "Cobalah, ini tidak diskon. Yang diskon hanya pakaian dan perlengkapan wanita saja." Ujarnya.
"Benarkah? Lalu berapa harga jam tangan ini? Lalu apa kau membeli perhiasan untuk dirimu sendiri?" Tanya Lucas memastikan.
"Tidak, lagipula aku tidak membutuhkannya. Jadi untuk apa membelinya. Oya, kenapa Frans keluar dari sini dengan mata berkaca-kaca? Apa kau memarahinya?" Serra menatap Lucas penasaran.
"Mana ada, lagipula aku tidak mungkin tega memarahinya tanpa alasan yang jelas. Dia adalah orang yang paling setia padaku, jadi aku memberinya sedikit penghargaan. Aku memberinya sebuah rumah impian dan juga memberi dia cuti. Dia sudah bekerja keras selama ini, dan apa yang aku berikan tak seberapa dibandingkan pengabdiannya selama ini." Ujar Lucas panjang lebar.
Serra kemudian duduk dipangkuan suaminya. Kedua tangannya memeluk leher Lucas. "Kau adalah majikan yang sangat peduli pada anak buahmu. Terkadang aku tidak mengenalmu, Lu. Ada kalanya kau seperti malaikat, tapi terkadang kau seperti iblis. Sebenarnya dirimu yang mana? Iblis atau Malaikat?" Serra menatap Lucas penasaran.
"Aku sendiri tidak tau. Bahkan aku tidak bisa mengenali seperti apa diriku sendiri. Apakah aku malaikat, atau iblis." Jawabnya menimpali.
Lucas menelusupkan tangannya kesela-sela rambut panjang Serra lalu menarik tengkuknya dan mencium bibir ranumnya. Awalnya hanya berupa ciuman, namun lama kelamaan menjadi lum*tan.
Lucas menekan kepala coklat itu agar memperdalam ciuman mereka. Serra yang awalnya tak membalas ciuman Lucas, jadi ikut bermain dalam pangutan bibir tersebut saat Lucas menggigit bibir bawahnya.
Menutup matanya ketika merasakan suami tampannya semakin memperdalam ciuman mereka. Sedang Lucas mendengus disela ciuman karena melihat Serra yang terlihat menikmatinya.
Mereka melepaskan pangutan bibir saat oksigen mulai berkurang. Serra segera meraup oksigen sebanyak mungkin.
Lucas tersenyum kecil melihat wajah memerah Serra dengan bibir yang sedikit membengkak, ia maju dan kembali mengecup bibir gadis itu. Tak lama, hanya beberapa detik saja.
"Kau sudah makan siang?" Serra menggeleng. Ia memang sengaja tidak makan siang dia luar supaya bisa makan siang di rumah bersama Lucas.
"Belum,"
"Kalau begitu ayo makan siang bersama." Serra mengangguk. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan ruang kerja Lucas. Kebetulan sekali Serra juga sudah sangat lapar.
-
__ADS_1
-
"Kakek Xiao, Hyung, Nunna, Bibi, kami pulang!!"
Seruan keras dari depan apartemen mengejutkan empat orang yang sedang menyantap makan siangnya. Tak lama berselang pintu terbuka dan dua sosok yang paling tak ingin mereka lihat di rumahnya datang sambil membawa dua koper besar dan sebuah anak macan tutul yang kira-kira baru berusia 1 tahun.
"Apa kalian merindukan kami?" Deriel menatap keempatnya bergantian.
"Tidak!! Untuk apa kami merindukan dua anak Iblis seperti kalian berdua!!" Jawab Andien menimpali.
"Jahat!!" Daniel menyela cepat. "Eh, Nunna. Kenapa rambutmu cepat sekali tumbuhnya, bukankah saat kami pergi Minggu lalu masih botak ya?"
"Daniel, jangan tidak sopan. Mungkin Andien Nunna sengaja membeli penumbuh rambut supaya kepala botaknya bisa ada rambutnya lagi!!" Seru Deriel menimpali.
"Uh, sayang sekali. Padahal aku jauh-jauh dari Hawai sengaja membawakan obat penumbuh rambut super. Tapi karena rambut Andien Nunna sudah tumbuh lagi, jadi tidak perlu aku berikan."
Mendengar ucapan Daniel sontak Andien menoleh. "Apa kau bilang? Membeli obat penumbuh rambut super?" Daniel mengangguk. "Kalau begitu cepat berikan padaku, ini hanya rambut palsu. Karena rambut asliku baru tumbuh sepanjang 4 cm." Ujarnya.
Kemudian Daniel mengobrak-abrik kopernya lalu memberikan serum yang dia beli dari Hawai pada Andien. Dan tanpa membuang banyak waktu. Andien segera memakai serum itu di kepalanya.
Axel pun ikut memakainya juga, karena dia ingin memiliki rambut yang lebat. Kakek Xiao pun tak mau kalah. Dia memakainya juga. Hanya Nyonya Anita yang tidak ikut-ikutan mereka bertiga.
Dan hal pertama yang mereka bertiga rasakan ketika penumbuh rambut super itu menyentuh kulit kepalanya adalah panas yang luar biasa. Mereka menganggap jika itu adalah sebuah proses awal.
Tapi semakin lama, rasa panasnya semakin menjadi. Lalu perlahan satu persatu rambutnya terlepas ketika Andien dan mereka berdua menyentuh kepalannya. Ramuan super itu justru membuat rambut mereka rontok semua, dan hal itu membuat Andien, Kakek Xiao dan Axel menjadi sangat panik.
"Apa yang terjadi? Kenapa rambutku malah rontok semua?!" Panik Andien.
"Yakk!! Anak setan, sebenarnya ramuan apa yang kau bawa itu hah?!" Bantal Axel emosi. Sebagain rambutnya hilang hingga terlihat kulit kepalanya.
"Tentu saja penumbuh rambut super, apa lagi?! Tapi kok aneh ya, kenapa malah rontok semua? Padahal kemarin mereka memakainya dan dalam satu Minggu rambutnya langsung lebat, dan tidak ada rontok masal seperti ini. Atau mungkin karena kalian bertiga kebanyakan dosa, makanya ramuan super ini bekerja sebaliknya?!" Ujar Daniel dengan polosnya.
Deriel yang juga ikut penasaran dengan keanehan itu segera mengambil botol ramuan tersebut lalu membacanya. "Jelas-jelas ini bukan ramuan penumbuh rambut, tapi perontok rambut!!"
"APA?! PERONTOK RAMBUT?! DANIEELLL!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.