"BALAS DENDAM" Istri Tangguh Sang Penguasa

"BALAS DENDAM" Istri Tangguh Sang Penguasa
Lebah Betina


__ADS_3

Nyonya Amber menghentikan langkahnya saat dua pria tiba-tiba turun dari sebuah mobil hitam lalu menghalangi jalannya. Wanita itu mundur beberapa langkah ke belakang. Tanpa bertanya pun tentu saja dia sudah tau siapa pria-pria ini. Mereka berdua adalah orang-orang Lucas yang kemungkinan diperintahkan untuk menangkap dirinya.


Wanita itu hendak berlari dengan berbalik badan. Namun dua orang tiba-tiba muncul dan menghadang jalannya. Membuat Nyonya Amber menjadi semakin panik.


Ibu satu anak itu memperhatikan sekelilingnya, banyak orang-orang yang memperhatikannya. Orang-orang itu hanya menatapnya dengan tatapan bingung, tak sedikit pula di antara mereka ada yang berbisik-bisik, pasti mereka berbeda jika ia adalah seorang penghutang yang sedang ditagih oleh depkolektor.


"Ma..mau apa kalian? Jangan macam-macam atau aku akan berteriak," Nyonya Amber memberi ancaman. Tetapi orang-orang itu tak peduli dan mereka tetap mendekat.


Jaga dirinya berada dalam bahaya besar, Amber menyambar balok kayu yang ada di tanah lalu menodongkan pada mereka berempat secara bergantian. "Jangan macam-macam apalagi coba-coba mendekat atau aku akan memukul kalian dengan balok ini!!" Ucapnya memberi peringatan.


Dengan cepat salah satu dari keempat pria itu merebut balok kayu itu dari tangan Nyonya Amber. "Aaahhhh..." Dan membuat wanita itu berteriak histeris.


"Jangan buang waktu lagi. Segera seret wanita ini masuk ke dalam mobil!!"


"Baik, Ketua!!"


Nyonya Amber terus berteriak dan meronta meminta supaya dirinya dilepaskan, akan tetapi permintaannya tak dihiraukan apalagi di dengarkan oleh mereka berempat. Seakan tuli, mereka berempat mengabaikan teriakan Nyonya Amber.


-


-


"Astaga, apa-apaan ini?!"


Lucas yang baru saja tiba di rumahnya terkejut melihat kamarnya jadi seperti kapal pecah. Banyak barang berserakan dimana-mana, mulai dari pakaian miliknya, milik Serra serta beberapa koleksi tas dan sepatu mahal wanita itu.


Kemudian dia menghampiri Serra yang sedang mengobrak-abrik isi lemari pakaiannya dan mengeluarkan semua yang ada di sana. Lucas tidak tau apa yang sedang dicari oleh istrinya tersebut.


"Serra, sebenarnya apa yang sedang kau cari?" Tanya Lucas penasaran.


"Apa kau melihat tas putih milikku yang kau belikan satu tahun yang lalu saat kita pergi ke Paris? Aku mau memakai tas itu hari ini tapi malah tidak ketemu." Ujarnya menuturkan.


Hanya karena satu tas Serra membuat kamarnya jadi seperti kapal pecah? Oh astaga, dan parahnya Lucas tidak bisa menegurnya, karena sudah pasti Serra akan langsung ngambek dan marah. Dia jadi lebih sensitif sejak dinyatakan hamil.

__ADS_1


"Bukankah masih ada tas yang lain, kenapa harus cari yang tidak ada. Lagipula tasmu juga gak cuma satu saja kan," ucap Lucas seraya memunguti pakaian-pakaian yang berserakan itu lalu meletakkannya diatas tempat tidur.


"Iya, tapi tetap saja tidak mau. Pokoknya aku mau pakai yang putih itu. Tidak mau yang lain!!" Dia menegaskan.


Lucas menghela napas berat. Kenapa istrinya ini sangat keras kepala. "Sudah tidak usah dicari lagi, bagaimana kalau aku belikan yang baru untukmu?" Tanya Lucas memberi penawaran.


Serra menggeleng. "Gak mau!! Pokoknya aku mau tas yang itu, titik!!"


Rasanya Lucas ingin menghilang dari dunia ini jika sudah dihadapkan dengan situasi semacam ini. Dan dibandingkan harus berhadapan dengan Serra yang merajuk, Lucas lebih memilih berhadapan dengan musuh-musuhnya.


"AKU MENEMUKANNYA!!" Nyaris saja Lucas terkena serangan jantung dadakan karena ulah Serra. "Astaga, jadi dari tadi kau disini tapi kenapa diam saja, huh?!" Terlihat Serra bangkit dari posisinya lalu melewati Lucas begitu saja.


"Kau mau kemana?"


"Rumah mama, aku sangat merindukannya. Jadi cepat bersiap-siap aku akan menunggumu dibawa!!" Jawabnya. Serra melanjutkan langkahnya.


Lucas menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Menghadapi Serra yang sekarang memang harus membutuhkan kesabaran ekstra. Karena Serra sekarang lebih banyak menguji kesabarannya.


"Hehehe, aku lupa kalau mama sedang berada di luar negeri dan baru kembali bulan depan."


Lucas mengusap wajahnya kasar. "Serra, rasanya aku ingin menelanmu hidup-hidup!!" Ucap Lucas setengah geram. Sedangkan Serra hanya memasang wajah polos tanpa dosa. Tak ingin kena amukan Lucas, ia pun bergegas pergi dari hadapan pria itu dan kembali ke kamarnya. Lagi-lagi Lucas hanya menghela napas.


-


-


Axel merasakan sakit yang luar biasa di bagian senjata tempurnya. Senjata tempurnya memerah dan tampak bengkak karena ulah salah satu pelanggannya yang dengan gemas menggigit dan menghisap sosis beruratnya. Bahkan Axel sampai tidak bisa memakai celana.


Dengan langkah tertatih-tatih, Axel berjalan menuju meja makan. Membuat Nyonya Anita dan Andien bertanya-tanya. "Kau kenapa, Xel? Kenapa jalanmu aneh begitu?" Tanya Nyonya Anita.


"Senjata tempurku digigit lebah betina, Ma. Sekarang bengkak dan memerah. Dan ini benar-benar membuatku tersiksa." Jawabnya.


Andien menyeringai dingin. "Lebah betina berambut hitam dan berukuran jumbo ya?" Sindiran itu membuat perhatian Axel teralih padanya. Sedangkan Nyonya Anita menatapnya penuh tanya. Ibu dua anak itu memang tidak tau jika Axel bekerja sebagai Gigolo disalah satu club' malam ternama di kota ini.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Benar-benar lebah yang menyengatku!!"


"Iya deh percaya, dasar pembual!!" Cibir Andien dan pergi begitu saja.


Brokk... Brokk... Brokk...


Perhatian ibu dan anak itu teralihkan oleh gedoran keras pada pintu. Axel dan Nyonya Anita saling bertukar pandang. Tanpa melihat pun, tentu saja Nyonya Anita tau siapa yang datang. Itu adalah anak buah dadi rentenir yang hendak menagih hutang.


Axel hendak pergi untuk membuka pintu tapi dihalangi oleh Nyonya Anita. Wanita itu menggeleng dan meminta supaya Axel tidak pergi, terlalu berbahaya jika dia sampai keluar.


"Jangan keluar dan tetap di dalam." Pinta Nyonya Anita.


"Tapi, Ma~"


"Tidak Axel, Mama tidak ingin mereka sampai mencelakaimu. Jadi tetap di dalam jangan keluar, paham!!"


Dan sementara itu, Andien yang merasa terganggu langsung nyelonong keluar dan membuka pintu apartemen. "Aaahh," tubuh wanita itu terdorong ke dalam. "Yakk!! Apa-apaan kalian ini?!" Bentak Andien marah.


"Kau pasti anak Anita ya. Cantik juga, karena ibumu tidak bisa membayar hutang-hutangnya bagaimana kalau kau saja sebagai jaminannya?!"


Kedua mata Andien sontak membelalak. "Apa! Aku tidak Sudi, urusan kalian dengan ibuku, bukan denganku. Jadi jangan libatkan aku!!" Teriak Andien emosi.


Nyonya Anita berlari keluar begitu pula dengan Axel. "Apa yang kalian lakukan pada putriku? Cepat lepaskan Andien!!" Pintanya menuntut.


"Aku akan melepaskannya asalkan kau mau membayar semua hutang-hutangmu pada bos kami beserta bunganya. Tapi masih bisa di nego jika kau mau memberikan putrimu yang cantik ini sebagai jaminannya."


Andien menggeleng. Memohon supaya ibunya tidak menyetujui ide konyol pria itu. Tapi sepertinya Nyonya Anita memiliki pemikiran lain. "Baiklah, aku setuju menukar dia dengan hutang-hutangku!!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2