
Langit cerah merajai angkasa. Menggelar sinar terang bersama mega-mega. Menjamah birunya hamparan luas samudra yang membuatnya tampak berkilauan. Laksana permata saling bekerlipan
Suara burung camar kadang mengiringi nyanyian deburan laut. Mengudara bebas, menelusuri bentangan atap biru, sesekali menerbangkan diri agak rendah ketika hendak meraih mangsa kecil yang menari-nari di permukaan air laut.
Di sebuah pesiar mewah yang sedang berlayar mengarungi luas samudera biru. Tampak seorang wanita yang sedang berdiri di dek terbuka bagian depan kapal. Mata Hazel-nya yang indah menatap hamparan luas itu dengan penuh kekaguman. Aroma laut yang begitu khas membuatnya merasa tenang.
Namun perhatiannya teralihkan oleh kehadiran seseorang yang tak ia harapkan kedatangannya. Dia kemudian berdiri di samping wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Serra.
"Aku menyukai dan tertarik pada suamimu," ucap orang itu tanpa basa-basi.
"Lantas?" Serra berkata tanpa menatap lawan bicaranya. Pandangannya tak teralihkan sedikit pun dari hamparan luas samudera biru.
"Biarkan aku mendekatinya dan menjadi yang kedua,"
Serra memutar lehernya dan menatap wanita di sampingnya tersebut. "Jika aku tidak mau membagi suamiku padamu bagaimana?! Lagipula Lucas bukanlah barang yang harus dibagi-bagi dengan orang lain." Ucap Serra dengan tegas.
"Kalau begitu aku akan merebutnya darimu!!" Penny menyela ucapan Serra.
"Silakan saja jika kau memang mampu!!" ucap Serra menantang.
"Kau menantang ku?! Semoga kau tidak menyesal jika pada akhirnya Lucas akan lebih memilihku dibandingkan dirimu!!" ucap Penny dengan penuh percaya diri.
"Kita lihat saja santi!! Dan asal kau tau saja, Lucas bukanlah tipe pria murahan yang mudah tergoda untuk mencicipi barang baru yang tak lebih baik dari butiran kerikil pantai, lalu membuang sebuah berlian yang berkilauan. Aku mengenal suamiku dengan baik, sebaiknya segera bangun dan jangan kebanyakan bermimpi!!"
"Kau~!!" Penny menggantung ucapannya sambil menunjuk Serra dengan telunjuknya.
Sebuah pemikiran laknat tercetus di kepala Penny. Wanita itu memperhatikan sekelilingnya, memastikan apakah ada orang atau tidak. Dan saat di rasa aman, Penny segera mendorong Serra ke laut.
"Sebaiknya kau mati saja!!"
Mata Serra membelalak saking kagetnya. Dengan refleks dia berbalik badan dan menarik lengan Penny, membuat kedua matanya membelalak. Tubuhnya tertarik ke depan, iya dan Serra sama-sama terjatuh ke dalam laut.
Byurrr...
Suara deburan yang begitu keras mengejutkan beberapa orang yang kebetulan berada di sekitaran dek kapal. Mereka berlarian ke arah suara itu berasal.
Orang-orang itu terkejut melihat wanita terjatuh ke dalam laut. Mereka berteriak meminta pertolongan, dan teriakan keras itu menyita perhatian Lucas yang sedang berbincang dengan sang kapten.
Penasaran apa yang terjadi. Lucas pun menghampiri orang-orang yang berkerumun itu untuk memastikannya. "Serra?!" dan kedua matanya membelalak sempurna melihat salah satu wanita yang terjatuh itu adalah Istrinya.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang dan memikirkan keselamatannya sendiri, Lucas segera terjun ke dalam laut untuk menyelamatkan istrinya yang nyaris tenggelam karena kepayahan Serra dalam berenang.
Tubuh Serra perlahan-lahan mulai tenggelam dan kesadarannya mulai berkurang. Yang tertangkap oleh Netral matanya sebelum tertutup adalah Lucas yang berteriak dan melompat ke dalam air. Tangan kanannya terulur naik kepermukaan dengan sebagian tubuhnya mulai tenggelam.
Dengan cepat Lucas meraih tangan Serra lalu menariknya. Sebuah skoci diturunkan untuk penyelamatan, dan beberapa awak kapal juga ikut turun untuk membantu Lucas. Serra dan Penny berhasil diselamatkan dan dibawah naik kembali ke dalam kapal.
Orang-orang yang semula panik kini merasa lega melihat kedua wanita itu selamat, tak ada yang tau bagaimana kronologinya sehingga keduanya bisa terjatuh ke dalam laut. Tak ada yang bisa ditanyai sebagai saksi, karena tak satupun dari mereka melihat kejadian yang sebenarnya.
-
-
"Lu, apa yang sebenarnya terjadi pada Serra? Kenapa dia bisa sampai terjatuh dan hampir tenggelam?" Tanya Tuan Jung.
Lucas menggeleng. "Aku sendiri tidak tau pasti, Pa. Karena saat aku tiba di lokasi Serra sudah terjatuh ke dalam laut dan hampir tenggelam, dan tidak ada saksi sama sekali di lokasi kejadian." Jelas Lucas.
Nyonya Jung tak bisa menyembunyikan ketakutannya melihat tubuh lemah putrinya yang terkulai. Serra sudah diberikan pertolongan namun belum sadarkan diri sampai sekarang.
Ketakutan tak hanya dirasakan oleh Nyonya Jung saja, namun Lucas juga. Dia begitu ketakutan saat melihat tubuh Serra yang perlahan tenggelam. Jika saja dia terlambat sedikit saja, entah apa yang akan terjadi pada wanita itu.
"Tapi ada kemungkinan Serra bertengkar dengan perempuan itu. Karena jika tidak, bagaimana mereka berdua bisa sama-sama hampir tenggelam di tengah laut!!" Ujar Johan menyahuti.
"Mama juga tidak rela putriku di celakai oleh orang lain. Dan aku tidak akan melepaskan siapa pun yang berani menyakiti putriku!!" Tutur Nyonya Jung.
Nyonya Jung mengepakkan tangannya. Dia sangat marah melihat apa yang menimpa putrinya. Dan sebagai seorang ibu, Nyonya Jung akan melakukan apapun untuk membalas perbuatan mereka yang berani menyakiti putrinya.
"Ma, sebaiknya kau kembali ke sweet room-mu untuk istirahat. Saat Serra sadar, aku akan memberitahumu. Kau dari tadi terus menangis, aku khawatir jika kesehatanmu akan menurun lagi seperti waktu itu." Ujar Lucas memberi nasehat.
Tuan Jung mengangguk setuju. "Benar apa yang Lucas katakan. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Dokter mengatakan jika Serra baik-baik saja dan lagipula sudah ada Lucas yang menjaganya."
"Papa benar, Ma. Kau terlihat pucat. Serra bisa sangat cemas jika melihatmu sampai jatuh sakit." Johan ikut membujuk. Dan akhirnya Nyonya Jung pun setuju untuk kembali ke sweet room-nya.
Tak lupa dia menitipkan Serra pada Lucas, dan berpesan supaya segera memberitahunya jika putrinya itu telah siuman. Dan Lucas mengangguk mengiyakan.
Selepas kepergian Nyonya dan Tuan Jung serta Johan. Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening. Hanya tersisa Lucas dan Serra yang masih belum sadarkan diri. Baru saja hendak beranjak dari duduknya, namun genggaman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Lucas.
Pria itu menoleh dan mendapati Serra yang sudah sadar. "Serra, kau sudah sadar?" Ucap Lucas penuh kelegaan.
"Lapar," rengek wanita itu. Satu kata yang dia ucapan setelah sadar dari pingsannya. "Aku hampir tenggelam karena kelaparan. Tenagaku habis saat aku mencoba mempertahankan tubuhku agar tidak tenggelam." ujarnya panjang lebar.
__ADS_1
Lucas menghela napas berat. Rasa cemasnya tergantikan oleh rasa geli karena ucapan Serra. Rasanya Lucas ingin sekali menjitak kepala istrinya ini, tapi dia tidak tega karena Serra baru saja siuman dari pingsannya.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Lucas.
"Apa saja yang penting enak dan mengenyangkan. Asal jangan Escargot, aku tidak suka. Makanya terlalu ribet dan juga tidak mengenyangkan!!"
"Kau ini pemilih sekali. Ya sudah, tunggu sebentar. Aku akan memesan makanan untukmu." Serra mengangguk. Kemudian Lucas bangkit dari duduknya dan meninggalkan Serra begitu saja..
.
.
Usai menghabiskan makanannya. Serra langsung diberondong berbagai pertanyaan oleh suami dan kakaknya. Johan dan Lucas benar-benar mirip detektif yang sedang mengintrogasi penjahat. Dan akhirnya Serra gak memiliki pilihan lain selain menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Awalnya aku hanya berdiri saja menikmati hamparan samudera. Tiba-tiba wanita itu datang dan mengatakan jika dia menyukaimu dan ingin menjadi yang kedua. Dan tentu saja aku menolaknya, kemudian kami berdua terlibat perdebatan kecil. Dan saat aku lengah, dia mendorongku, untung saja aku cerdas dan menarik tangannya hingga kami berdua jatuh bersama. Jika pun mati, aku tidak mau mati sendirian!!" Ujar Serra panjang lebar.
"Jadi benar-benar wanita itu yang mendorongmu?" Lucas mengulangi kata-kata Serra.
Wanita itu mengangguk membenarkan. "Ya, dia mengatakan sebaiknya aku mati saja."
Tangan Lucas terkepal kuat, wanita itu benar-benar cari mati dengan berani menempatkan wanitanya dalam bahaya. Sepertinya Lucas harus memberikan sedikit pelajaran padanya agar dia mengerti dan tau diri.
"Benar-benar ya, lihat dan tunggu saja, bagaimana aku akan memberinya pelajaran!!" Ucap Johan dengan geram.
"Tidak perlu, masalah ini serahkan saja padaku. Wanita seperti itu tidak akan jera jika hanya diberi pelajaran dan peringatan kecil saja!!"
Johan dan Serra saling bertukar pandang. Melihat sorot mata Lucas yang dingin dan tajam membuat mereka berdua merinding sendiri. Baik Johan maupun Serra sama-sama tidak ada yang tau apa yang sebenarnya Lucas rencanakan untuk memberikan pelajaran pada wanita itu. Semoga tidak aneh-aneh.
Dibandingkan Serra, tentu saja Johan jauh mengenal Lucas. Dia mengenal pria itu dengan sangat baik. Lucas adalah pria berdarah dingin yang tak mengenal kata ampun, siapa pun yang berani mencari masalah dengannya, pasti akan berkahir tragis. Seperti kejadian yang pernah menimpa ibunya beberapa tahun lalu.
Lucas menghabisi pria yang mencoba menculik nyonya Jung atas perintah mantan suaminya. Sebelum menikah dengan suaminya yang sekarang, Nyonya Jung sudah pernah menikah tapi pernikahannya kandas karena mantan suaminya adalah pria yang kasar dan suka main tangan.
"Tidak, tidak, tidak, biar aku saja. Jika kau yang bertindak, bisa-bisa wanita itu hanya tinggal nama. Jadi biarkan aku saja, aku akan mengurusnya untukmu. Ya sudah, aku pergi dulu. Serra, sebaiknya kau istirahat saja supaya keadaanmu cepat pulih." Pinta Johan yang kemudian dibalas anggukan oleh Serra.
"Baiklah,"
-
-
__ADS_1
Bersambung.